My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 12 : Hari yang Berat Untuk Marisa


__ADS_3

Keesokan harinya menjadi hari yang sangat berat untuk seorang Marisa Larasati. Sikap Indra kasar dan sangat tidak menyenangkan. Lebih-lebih tidak menyenangkan daripada hari pertama bekerja di perusahaan Perdana Enterprise.


Seharian Indra membentak-bentak Marisa. Bukan karena kesalahan Marisa, tapi sepertinya kemarahan Indra memang sangat di buat-buat. Marisa bukan hanya di berikan tugas sebagai asisten pribadi tapi juga sudah seperti office girl.


Indra meminta Marisa membuatkan teh, membersihkan meja kerja yang berantakan, sampai mencari berkas pekerjaan lama yang dimana saat itu Marisa belum bekerja disana.


Sampai pukul 12 siang Marisa belum bisa menemukan file yang dimaksud dan Indra tidak memberinya waktu untuk keluar makan siang. Sementara Indra sendiri makan siang di ruangan sambil menyilangkan kaki dimana Marisa duduk dibawahnya dan sibuk mencari file yang dimaksud diantara tumpukan berkas lama.


"Sudah ketemu?!" bentak Indra.


"Belum Pak," sahut Marisa.


"Berkas itu adalah berkas metting saya bulan lalu bersama Mr. Hang. Isinya masalah kerjasama expor suku cadang mobil ke perusahaannya! Saya tidak mau tahu! Kamu harus bisa menemukannya hari ini juga!"


Marisa menghela nafas penuh kesabaran. "Baik, Pak."


Marisa terus mencari dan mencari hingga jam makan siang lewat dan berkas itu masih tidak berhasil ditemukan. Marisa sudah putus asa dan juga sangat takut pada kemarahan Indra.


Sementara itu, Indra menyeringai di meja kerjanya membiarkan Marisa kebingungan mencari berkas itu. "Heh! Kamu cari sampai seratus hari pun, kamu tidak akan bisa menemukan berkas itu, Marisa! Karena berkas itu ada pada Bella! Bukan di ruangan ini!" batin Indra puas.


"Pak Indra, apa tidak saya tanyakan saja pada Mbak Bella? Mungkin dia tahu atau mungkin justru dia yang menyimpan berkas itu?" tanya Marisa.


"Kamu sudah tidak mau berusaha untuk mencarinya?!" Indra malah kembali menghardik Marisa.


"Bukan begitu, tapi saya sudah membolak-balik semua berkas yang ada disini dan saya tidak menemukannya! Saya rasa berkas itu tidak ada disini."


"Saya tidak mau tahu! Pokoknya kamu harus bisa menemukan berkas itu sebelum jam pulang kantor!"


"Kalau begitu, izinkan saya menanyakannya kepada Mbak Bella, Pak!"


Indra mengangkat bahunya. Pertanda baik, Marisa bisa pergi ke ruangan Bella. Marisa segera keluar sebelum Indra berubah pikiran.


Marisa segera menemui Bella di ruangannya. Bella kaget melihat Marisa yang pucat dan tampak kelelahan.


"Ada apa, Marisa? Kamu sakit?" tanya Bella khawatir.


"Tidak, Mbak," jawab Marisa sambil tersenyum pahit.


"Wajah kamu pucat sekali!"


"Saya cuma kecapekan,"

__ADS_1


"Terus ada apa kamu ke ruangan saya?"


"Saya di pinta Pak Indra untuk menanyakan berkas kerjasama usaha dengan perusahaan Mr. Hang. Apakah Mbak Bella tahu dimana saya bisa menemukannya?"


"Berkas kerjasama impor dengan perusahaan Mr. Hang yang di Hongkong?"


"Iya, Mbak!" Mata Marisa berbinar, ia merasa menemukan harapan. Sudah tiga jam lebih dia mencari berkas tersebut dan tidak bisa menemukannya.


"Berkas itu kan ada di saya!" ujar Bella.


"Alhamdulillah..."


"Memangnya kamu di pinta Pak Indra untuk mengambilnya dari saya?"


"Tidak Mbak! Justru saya mencari-cari nya dari jam sepuluh pagi tadi!"


Kening Bella berkerut. "Kamu di suruh mencarinya?"


"Iya."


"Mana mungkin Pak Indra lupa?! Beliau yang menyerahkan berkas itu pada saya agar saya yang menyimpannya karena saat itu asisten pribadi Pak Indra baru saja cuti. Lagipula kamu kan asisten pribadinya yang baru! Mana mungkin tahu tentang berkas itu!"


"Karena saya orang baru, makanya saya tidak tahu sama sekali dimana berkas itu! Bentuk dan warna map nya saja saya tidak tahu!"


"Iya Mbak, terima kasih banyak!"


Bella mencari berkas yang di maksud dan menyerahkannya pada Marisa. Ternyata mencari berkas tersebut tidak memakan waktu lama.


"Ini berkasnya,"


"Terimakasih, Mbak Bella!"


"Sama-sama!"


"Baiklah Mbak, saya permisi dulu?" Marisa berbalik dan hendak meninggalkan ruangan sekretaris itu.


"Tunggu dulu, Marisa!" panggil Bella.


"Ada apa, Mbak?" Marisa kembali menoleh.


"Kamu tidak membuat Pak Indra marah, kan?"

__ADS_1


Marisa mengerutkan keningnya. Namun jujur hatinya mendadak cemas. "Kenapa Mbak bertanya seperti itu?"


"Aneh saja kalau seorang Pak Indra Perdana sampai melupakan tempat tersimpannya sebuah berkas! Beliau pasti ingat kalau berkas itu ada pada saya!"


"Tapi dari tadi Pak Indra memaksa saya untuk mencarinya di ruangannya,"


"Menurut saya, ini hanya semacam hukuman untuk kamu, Marisa! Kamu kemarin pergi bersama Pak Indra. Kamu tidak membuatnya marah, kan?"


Marisa kembali teringat akan kejadian penolakan apartemen yang membuat Indra meninggalkannya kemarin. "Mungkin... Sedikit..."


"Saya kan sudah bilang kamu harus bekerja sebaik mungkin! Pak Indra itu keras dan pemarah! Tidak ada asisten pribadi yang betah bekerja bersamanya!"


"Iya, Mbak. Saya akan berusaha lebih baik lagi!"


"Kalau begitu, kamu segera kembali ke ruangannya. Saya takut Pak Indra marah kalau kamu membuatnya menunggu terlalu lama."


"Baik, Mbak!"


Marisa kembali ke ruangan CEO dengan langkah yang gontai. "Apa benar kata Mbak Bella kalau ini adalah hukuman Pak Indra untuk aku? Kalau benar..." Marisa memejamkan mata dan menghela nafas. "Ya Allah... Aku mati-matian mencari berkas yang memang tidak ada di ruangan itu! Pak Indra memang sengaja! Aku sampai tidak diberi kesempatan untuk beristirahat makan siang..." batin Marisa lirih. Perutnya berbunyi nyaring.


Sampai di ruangan CEO, Indra Perdana tampak sedang menyeringai seraya menyilangkan kakinya di atas meja.


"Sudah ketemu?" tanyanya sinis.


"Sudah Pak. Ada di Mbak Bella." jawab Marisa kaku seraya meletakkan berkas itu diatas meja kerja Indra.


"Berkas itu memang ada di ruangan Bella!" kata Indra semakin sinis! Hati Marisa terasa berdarah dan amarahnya mulai memuncak!


"Bapak sengaja membuat saya mencari-cari benda yang tidak mungkin saya temukan di ruangan ini?" tanya Marisa dingin.


"Saya justru baru ingat kalau berkas itu ada pada Bella sesaat setelah kamu meninggalkan ruangan ini!"


"Oh..." Marisa berusaha terlihat santai, padahal dalam hatinya ia mengumpat-umpat penuh kekesalan. "Jahat kamu, Indra! Jahat sekali! Kamu jahat! Jahat!"


Indra berdiri dari duduknya dan berhadapan dengan Marisa yang masih berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca.


"Makanya, jangan pernah main-main dengan saya, Marisa Larasati!" ancam Indra sambil seenaknya mencekal dagu Marisa.


"Lepaskan!" Marisa marah dan menarik dagunya dari cekalan Indra.


Indra malah terkekeh. "Kenapa kamu seperti tidak suka saat saya menyentuh dagu kamu?! Padahal kemarin kamu diam saja saat saya akan mencium kamu!"

__ADS_1


Wajah Marisa merah padam. Indra benar-benar keterlaluan! Marisa benar-benar merasa terhina! Ia menyesal luar biasa sempat terpana saat Indra merunduk mendekati wajahnya kemarin!


"Wajar jika kemarin saya terpana menatap ketampanan wajah Anda, Bapak Indra Perdana yang terhormat! Siapa yang tidak akan terpesona kepada seorang seperti Anda?! Tapi mulai saat ini saya berjanji, saya tidak akan membiarkan hati dan mata say terlarut lagi dalam pesona seorang Indra Perdana!" tegas Marisa.


__ADS_2