My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 33 : Sewot!


__ADS_3

Indra sekilas memperhatikan bagaimana Marisa makan dengan lahap seolah tidak ada siapapun di sekitarnya. Setiap suapannya begitu besar, dan bunyi berdecak terdengar dari mulutnya setiap Marisa mengunyah.


Indra bergidik sendiri. "Gadis ini begitu kampungan! Tidak ada malu-malunya sama sekali padaku! Dasar norak! Mana bisa seorang gadis seperti ini masuk dalam keluarga Perdana?! Andro tidak pantas memiliki pacar apalagi istri seperti ini! Dia tidak akan bisa membawa nama besar keluarga ku!"


"Dia memang hanya pantas menjadi obat dingin ku selama di Sumedang nanti!" fikir Indra.


Tepat saat Indra berfikir seperti itu, Marisa mendongak dan mata mereka bertatapan. Marisa melihat bagaimana Indra menatapnya dengan sorot mata kurang suka.


"Ada apa, Pak?" tanya Marisa.


"Kamu ini kampungan sekali! Melahap seperti orang yang sudah seminggu tidak bertemu makanan!" rutuk Indra.


"Maafkan saya, Pak. Saya lapar, hehe."


"Awas kamu nanti kalau makan seperti itu di acara jamuan makan bersama klien bisnis penting! Saya jamin kamu akan menderita seumur hidup kalau sampai membuat saya malu! Sekarang saja saya sudah ilfil melihat kamu!"


"Saya janji saya tidak akan membuat malu Bapak. Saya akan makan dengan cara yang sopan. Masalahnya tadi saya belum sempat sarapan di rumah karena sibuk menyiapkan semua berkas persentasi yang harus saya bawa."


"Terserah kamu lah!"


"Bapak sendiri kok cuma makan sedikit? Apa gak akan lapar nantinya? Kan kata Bapak perjalanan kita masih setengahnya,"


"Saya tidak boleh kekenyangan kalau sedang dalam perjalanan dan dalam keadaan menyetir mobil! Kalau sampai saya mengantuk dan kita kecelakaan, bagaimana?!"


"Amit-amit, Pak!"


"Makanya jangan banyak bertanya yang tidak penting! Cepat habiskan makanan kamu! Saya tunggu kamu di mobil!" Indra menaruh dua lembar uang seratus ribuan di atas meja dan pergi lebih dahulu meninggalkan Marisa.


Marisa segera menghabiskan makanannya dengan tergesa-gesa dan menyusul Indra ke dalam mobil. Sampai di dalam mobil, Indra ternyata sedang menelepon Sofie, tunangannya.


"Iya sayang, ini aku masih di tol. Nanti kalau aku sudah sampai di Sumedang, aku telepon kamu lagi," terdengar kata-kata Indra.


Marisa meruncingkan sedikit bibirnya karena ingat perkataan Kayla kalau dia adalah kekasih kedua Indra. Marisa pun jadi kesal sendiri. "Dasar buaya! Sayang-sayangan padahal di belakang punya kekasih kedua!" batin Marisa geram.

__ADS_1


"Iya sayang, aku mau berangkat lagi sekarang... Aku udah makan, kok! Tenang ajaz" kata Indra lagi.


Marisa memasang sabuk pengaman dan matanya langsung melotot mendengar kata-kata Indra selanjutnya pada Sofie yang sedang di teleponnya.


"Marisa juga udah makan. Luar biasa dia rakus sekali! Sepiring penuh nasi goreng habis di lahapnya dalam sekejap mata! Kalau kamu melihat cara makannya, pasti kamu akan langsung ilfil! Hahahaha!"


Indra menertawakan Marisa dengan senang seolah Marisa adalah seorang badut yang lucu! Marisa merasa hatinya sakit. Apakah perlu Indra berkata dan tertawa terbahak seperti itu padahal Marisa ada di sampingnya?!


"Kenapa aku harus sungkan untuk menertawakan Marisa?! Saat ini juga dia ada di sebelah ku! Toh, dia memang kampungan! Beda sekali cara makannya dengan kamu, Sof!" Indra berkata lagi dan rasanya Marisa ingin menangis.


"Tega sekali dia membandingkan aku dengan Bu Sofie seperti itu padahal aku ada di sampingnya! Tapi mana mungkin dia memperhatikan perasaan ku?! Aku ini siapa?! Aku hanya bawahannya dan Bu Sofie adalah tunangannya!" batin Marisa.


"Oke sayang. Nanti aku kabarin lagi. Dag... See you..." Untungnya Indra sudah selesai menelepon Sofie sehingga penghinaan atas diri Marisa tidak berkepanjangan.


Selesai menelepon, Indra melirik pada Marisa dan tersenyum sinis merendahkan. Marisa hanya bisa bersabar dan menghela nafas panjang.


Suasana hening sejenak sebelum mereka berdua dikejutkan oleh suara nyaring nada panggilan. Kali ini HP Marisa yang berbunyi. Ternyata ada panggilan dari Andro.


"Siapa?" tanya Indra kepo. Khawatir itu adalah panggilan dari Fero, walaupun sebenarnya untuk apa dia merasa khawatir?


Belum sempat Indra melarang, Marisa sudah lebih dahulu mengangkat teleponnya.


"Halo, Pak Andro." sapa Marisa.


"Hai Marisa, jadi ikut Indra ke Sumedang?" tanya Andro lewat sambungan telepon.


"Jadi, Pak. Ini baru di tol,"


"Kamu sudah makan siang?"


"Sudah," sekilas Marisa melirik Indra yang tampak tidak senang menatapnya. Marisa jadi merasa sungkan berteleponan dengan Andro, tapi kenapa harus merasa sungkan?! Indra saja tadi berteleponan bersama Sofie dan tidak menganggap Marisa sama sekali!


"Oh ya sudah, aku takut kamu belum makan. Indra itu kalau udah nyetir suka lupa makan! Gak perduli orang yang ikut dengannya kelaparan atau enggak!" kata Andro lagi.

__ADS_1


"Saya sudah makan kok, Pak. Tidak usah khawatir", kata Marisa.


"Oke, hati-hati di jalan, ya. Kalau sudah sampai disana kamu kabarin aku!"


"Baik, Pak Andro."


"Aku akan merindukanmu, Marisa..."


"Saya..." belum sempat Marisa mengatakan kalau dia juga akan merindukan Andro, Indra sudah lebih dahulu merebut HP nya dengan kasar dan marah-marah pada Andro!


"Hei, Andro! Kenapa kamu genit gak jelas?! Kamu kan tahu kalau Marisa sedang dalam perjalanan bersama ku! Kami masih harus melanjutkan perjalanan ke Sumedang yang masih jauh! Kamu malah seenaknya saja mengganggu dengan bertelepon yang tidak penting!" Indra marah-marah dan tanpa menunggu Andro membalas, dia matikan sambungan telepon Marisa dan sekaligus mematikan daya nya!


"Kok HP saya di matikan, Pak?!" protes Marisa.


"Diam kamu! Saya tidak suka kamu berhubungan dekat dengan adik saya! Kamu sudah pernah saya peringatkan tapi sepertinya kamu ini keras kepala!"


"Saya memang tidak ada hubungan apa-apa dengan Pak Andro!"


"Kenapa kamu tidak menjauhinya?! Saya sudah bilang kamu tidak pantas untuk adik saya! Kalau kamu tidak menjauhinya, dia akan berharap dan terbawa perasaan!"


"Kenapa saya tidak boleh mendekati Pak Andro?! Kalau saya juga menyukainya, apa saya tidak boleh membalas perasaan Pak Andro?!" Marisa kali ini memberanikan diri menjawab perkataan Indra.


"Jadi kamu juga punya perasaan pada Andro?!" bentak Indra.


"Wanita mana yang tidak akan terpikat pada Pak Andro?! Dia tampan, ramah dan baik hati!"


"Dan juga kaya raya?!"


"Itu bukan termasuk kriteria saya!"


"Tapi saya lebih segala-galanya dari Andro! Kamu bilang dia tampan, ramah dan baik hati?! Seolah-olah kamu menyindir kalau saya tidak sebanding dengan dia?!" Indra jadi semakin sewot!


"Maaf Pak Indra, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan! Kan kata Bapak sendiri kalau perjalanan kita masih jauh!" kata Marisa mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Oke! Kita lanjutkan perjalanan! Saya tidak akan membiarkan kamu bertelepon dengan Andro selama perjalanan! Dan kita lihat saja, Marisa! Kamu tidak akan pernah bisa bersatu dengan Andro! Saya berani bertaruh berapapun untuk hal itu!"


Indra menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Marisa merasa khawatir, tapi Marisa tidak berani berkata apa-apa lagi karena takut Indra bertambah sewot.


__ADS_2