
Andro Perdana menyipitkan matanya, "Tukang tikung? Maksud kamu, Indra menikung saya? Menikam saya dari belakang? Merebut Marisa dari tangan saya?" tanyanya pada Gery.
"Maaf sebelumnya, Pak Andro. Tapi dari awal juga saya sudah mencurigai gerak-gerik Pak Indra! Apalagi setelah dia memutuskan Bu Sofie! Dugaan saya semakin kuat! Saat ini juga saya yakin kalau dia sengaja membawa pergi Marisa agar tidak bisa bertemu dengan Anda!" kata Gery.
"Apa?! Indra memutuskan Sofie?!"
"Iya, Pak! Bu Sofie sampai sakit karena masalah ini!"
"Tapi Indra adalah kakak saya, dia juga sudah berjanji melamar Marisa untuk saya jika saya pulang dari Turki dan menyelesaikan proyek disana dengan baik"
"Zaman sekarang ini tukang tikung sedang menjamur dimana, Pak Andro! Selama belum ada janur melengkung, selama itu pula pacar orang masih bisa di tikung!"
"Saya harap dugaan kamu, salah. Gery"
"Ya mudah-mudahan saya salah. Sekarang bagaimana? Apa yang akan Anda lakukan? Ini sudah malam sekali, apakah Anda akan tetap menunggu Marisa disini Atau Anda akan pulang ke rumah?"
"Iya, sudah jam setengah dua belas malam. Saya pulang saja"
"Kalau begitu saya juga mau pulang"
Andro baru tersadar, buat apa Gery datang ke bandara? Apakah mantan sahabat Marisa itu berniat untuk menjemputnya? "Astaga, Gery. Sebenarnya ada keperluan apa kamu datang kesini? Apakah kamu mau menjemput saya?"
"Iya, Pak. Saya khawatir aja Marisa gak datang kesini, eh ternyata benar dugaan saya! Tadinya kalau ada Marisa akan langsung saya ajak pulang ke kosan"
__ADS_1
"Kalau begitu sebaiknya kita pulang saja sekarang. Kamu berniat menjemput saya, kan? Berarti kamu akan mengantarkan saya pulang?"
"Saya bawa motor, Pak. Kayaknya Anda gak akan bisa ikut karena koper Anda besar sekali!"
Andro tersenyum, "Ya, Ger. Tidak apa-apa. Saya akan pesan taksi online saja. Terima kasih kamu sudah begitu perhatian kepada saya"
"Sama-sama, Pak. Kalau kamu saya pulang dulu. Bapak hati-hati ya"
"Kamu juga hati-hati"
Akhirnya Andro memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Sampai disana Andro segera masuk kedalam kamarnya karena Mama sudah tertidur. Tentu saja, ini sudah pukul dua belas malam!
Andro bahkan tidak sempat makan malam, padahal dia terakhir kali makan siang di pesawat. Selesai mandi dan berganti pakaian, Andro mencoba untuk menghubungi Indra kembali. Tapi seperti tadi, Indra masih tidak mengangkat teleponnya.
"Dra... Apakah benar dugaan saya kalau kamu seperti sedang mencoba menjauhkan Marisa dari saya? Kalau memang benar, apa maksud kamu, Dra? Apakah tidak cukup saya selalu mengalah selama ini? Kamu sudah memegang seluruh bisnis peninggalan Papa. Tidak ada satupun bagian dari Perdana Enterprise yang saya pegang walaupun itu hanya sebagian kecil anak perusahaan. Saya selalu mengalah sedari kecil sampai kita sama-sama dewasa, Dra. Tapi kenapa dalam hal percintaan, kamu juga tega harus mengambil apa yang sudah menjadi milik saya?" batin Andro.
"Lalu kenapa kamu ambil Marisa dari tangan saya? Padahal kamu sudah berjanji akan bantu melamar Marisa untuk menjadi calon istri saya. Kamu juga yang dari awal berkata kalau Marisa hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pantas masuk kedalam keluarga Perdana! Tapi sekarang kamu juga menginginkannya! Munafik kamu, Dra!"
*******
Indra terbangun dari tidurnya dan mendapati kalau dirinya sedang berbaring di atas ranjang dengan wajah yang menyusup di leher jenjang dan harum milik Marisa. Seketika itu juga darah dalam tubuh Indra jadi mengalir deras. Membawa hawa panas yang menyesakan dada nya.
"Hmph... Hmph..." Indra mengendusi leher Marisa sehingga gadis itu menggeliat dalam tidurnya, tapi kemudian terlelap kembali.
__ADS_1
"Wangi nya sangat menggairahkan! Luar biasa! Bagaimana bisa langsung bernafsu hanya karena mencium leher seorang gadis!" batin Indra dan kembali menciumi leher Marisa.
Tiba-tiba terdengar suara dering yang berasal dari HP Indra. Indra mencoba untuk tidak memperdulikannya, tapi deringan itu tidak juga berhenti. Indra terpaksa bangkit dari berbaringnya dan meraih HP nya dari atas meja dan melihat layar HP nya. Ada nama Andro disana.
"Andro" gumam Indra dan spontan menyetel pengaturan dering HP nya ke mode senyap. Indra melirik Marisa dan menarik nafas lega saat melihat Marisa masih terlelap pulas dan tidak terganggu dengan suara dering HP Indra yang memang tidak terlalu keras.
Indra menarik nafas panjang. Ada rasanya bersalah yang menggelayuti hati dan pikirannya. Teringat akan janjinya kepada Andro bahwa Indra akan bantu melamar Marisa untuk menjadi calon istri adiknya itu. Tapi kenyataannya kini, Indra malah sedang berada bersama Marisa dan bahkan tidur satu ranjang dengan gadis itu.
"Maafkan saya, Ndro... Bukan maksud saya untuk mengambil Marisa dari tangan kamu. Tapi pada kenyataannya Marisa juga mencintai saya. Dia tidak mencintai kamu. Jadi saya pikir tidak ada salahnya kalau saya dan Marisa bersatu..." gumam Indra.
Indra menaruh HP nya di atas meja dan kembali berbaring di sisi Marisa. Di tatapnya wajah Marisa dengan tatapan penuh kekaguman. Marisa memang sangat cantik. Rasanya tidak pernah Indra melihat wajah seelok Marisa sepanjang hidupnya. Wajah cantik yang terlihat polos dan tulus.
Indra bergerak mengecup kening Marisa dengan lembut. Di belai nya rambut panjang dan pipi merah Marisa. Belum pernah Indra berlaku selembut ini kepada seorang wanita sebelumnya.
..."Saya sayang kamu, Marisa... Sayang sekali... Saya tidak mau kehilangan kamu dan saya akan mempertahankan kamu! Walaupun saingannya adalah adik saya sendiri!"...
Mata Indra kini turun ke bibir Marisa yang ranum dan seolah mengundang Indra untuk mengecupnya. Di kecup nya bibir Marisa hingga membuat gadis itu mendesah dalam tidurnya.
'Glek!' Indra menelan ludahnya sendiri. Mendengar ******* Marisa saja rasanya Indra sudah panas dingin!
Indra merasa tidak tahan lagi, kembali timbul niat dalam hatinya untuk merenggut kehormatannya Marisa. Apalagi kini mata Indra turun ke dada Marisa yang terlihat membusung padat dan naik turun karena menarik nafas dalam kelelapan tidurnya. Tanpa sadar Indra meraba bagian bawah tubuhnya sendiri yang terasa menegang dengan sempurna!
"Marisa... Mungkin ini saatnya, kamu harus menyerahkan diri kepada saya...!" gumam Indra dan menjatuhkan tubuhnya untuk menindih tubuh Marisa.
__ADS_1
Ugh! Rasanya tubuh Marisa sangat pas sekali didalam tindihan Indra! Tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Indra sampai menggigil karena saking bernafsu nya!
"Marisa... Bangun Sayang...!" bisik Indra di telinga Marisa.