
Sofie tergolek di atas ranjang apartemen mewah Indra tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Nafasnya masih terengah-engah dan keringat masih membasahi sekujur tubuhnya.
Sofie baru saja melewati beberapa jam yang melelahkan dan penuh kenikmatan bersama Indra. Dari saat ia tiba di lobi apartemen itu pukul delapan malam tadi, hingga kini jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
Indra seperti biasanya, tidak banyak bicara tapi banyak bekerja. Membawa Sofie dalam rangsangan yang memabukkan dan kemudian menuntaskannya dengan beringas.
Indra yang liar, panas, dan terlalu kuat. Indra yang membuat Sofie selalu terkapar tak berdaya di setiap adegan ranjang yang mereka lalui. Indra yang membuat Sofie tidak pernah menyesal telah memberikan semuanya.
Tapi baru malam ini seusai bercinta, Indra tidak langsung tertidur karena sudah merasa puas dengan tubuh Sofie. Indra pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya lalu kemudian kembali memakai pakaiannya dan pergi ke balkon apartemen.
Dengan langkah gontai Sofie pergi ke kamar mandi lalu kemudian meraih pakaiannya dan menghampiri Indra yang tampak sedang melamun sendiri di balkon apartemen. Indra menopang dagunya dengan dua tangan terlipat di atas tembok pembatas balkon.
Sofie memeluk Indra dari belakang seraya menyandarkan kepalanya di punggung Indra. "Sayang..." bisiknya.
"Hm?" balas Indra singkat tanpa mencoba memegang kedua tangan Sofie yang melingkari perutnya.
"Kamu selalu luar biasa, Dra..."
"Kapan saya tidak luar biasa?"
Sofie tertawa pelan dan semakin erat memeluk Indra. Di gigitnya punggung Indra dengan gemas.
"Awh! Sakit, Sof! Kamu mau membangunkan macan yang baru tertidur?!" gertak Indra.
"Oh tidak! Aku mana sanggup untuk melayani kamu lagi saat ini?! Tadi saja aku sudah tidak berdaya dan kalah telak!"
"Kalau begitu kamu kembali ke ranjang dan tidur!"
__ADS_1
"Kamu sendiri kenapa tidak tidur?"
"Saya mau cari angin dulu!"
"Aku mau tidur dalam pelukan kamu, Dra..."
"Nanti aku akan menyusul dan memeluk kamu!"
"Ya sudah... Aku tidur duluan, ya? Aku lelah... Kamu terlalu bernafsu tadi..."
"Iya, saya memang sedang bernafsu sekali tadi. Saya mungkin akan melakukannya lagi. Jadi kamu sekarang istirahat dulu saja. Jangan kaget kalau nanti tengah malam saya akan memintanya lagi."
"Oke sayang... Bangunkan saja aku." Sofie meninggalkan Indra sendiri dan pergi tidur. Sofie tidur dengan nyenyak dan tidak ingat apa-apa lagi. Percintaan dengan Indra tadi sangat menguras tenaga Sofie.
Sementara Indra sendiri kembali dalam kesendiriannya. Di bawah sana tampak pemandangan malam kota Jakarta yang penuh lampu kota. Ibukota yang tidak pernah sepi walaupun sudah tengah malam.
"Marisa... Saya benar-benar menginginkan kamu... Saya harus melakukan apa agar kamu mau tidur dengan saya satu malam saja..." gumam Indra.
Pikiran yang kotor juga hinggap di benak Indra. Apakah Andro sudah berhasil memetik kegadisan Marisa? Kalau iya, sial sekali Indra keduluan oleh adiknya itu!
"Apa yang mereka lakukan selama tiga hari di Bogor? Memuakkan! Aku bisa gila sendiri kalau terus memikirkan masalah itu!" Indra merutuk kesal sembari mengepalkan tinjunya.
Padahal tadi Indra sudah bercinta dengan Sofie selama beberapa jam dan berhasil membuat tunangannya itu beberapa kali mencapai puncak kenikmatan. Tapi kenapa rasanya sekarang tidak sama lagi?
Indra merasa apa yang tadi dia lakukan bersama Sofie tidak menghapuskan dahaganya! Seolah berada di pasar gurun, Indra masih merasa kehausan dan merasa sangat tersiksa dengan semua ini!
Apakah Sofie sudah tidak bisa menjadi tempat dimana Indra melampiaskan nafsu birahinya? Apa Sofie sudah tidak lagi menarik dan Indra pun bosan? Indra menginginkan sesuatu yang baru, berbeda dan lebih menantang. Dan itu adalah Marisa! Kekasih adiknya sendiri!
__ADS_1
Indra sudah menjalani masa pertunangan selama tujuh bulan dengan Sofie dan sudah berpuluh-puluh malam menghabiskan waktu untuk bercinta dengan Sofie. Indra sudah yakin kalau Sofie bisa jadi wanita terbaik yang bisa memuaskannya sampai mereka menikah nanti.
Mama tidak akan salah pilih. Sofie berasal dari kalangan keluarga terhormat, kaya raya dan mempunyai hubungan baik juga dengan keluarga Perdana. Papa Sofie adalah salah satu rekan bisnis Papa Indra dan sekarang tentunya sudah menjadi rekan bisnis Indra. Sofie adalah wanita yang pantas untuk menjadi pendamping Indra sekaligus jadi Ibu dari anak-anak Indra kelak.
Tapi bagaimana jadinya sekarang kalau Indra sudah tidak puas lagi dengan tubuh Sofie?! Indra merasa masih ada yang kurang. Masih ada yang mengambang. Seolah di jiwa Indra masih merasa panas dan menuntut pemuasan!
"Sial! Ini semua gara-gara Marisa si gadis kampung itu! Aku jadi tidak bisa tidur! Awas kamu Marisa! Saya tidak akan menyerah untuk mendapatkan kamu! Nanti kalau kamu sudah tahu rasanya bercinta dengan saya, kamu yang tidak bisa melupakan saya seumur hidup kamu!"
Malam semakin merambat dan Indra masih tidak merasa mengantuk. Tubuhnya semakin terasa panas apalagi jika teringat wajah Marisa. Mencium bibirnya saja sudah membuat Indra puas, apalagi bisa mencium seluruh tubuhnya?!
Akhirnya karena tidak merasa mengantuk juga, Indra memutuskan untuk kembali mengulangi apa yang tadi sudah dia lakukan pada Sofie.
Indra masuk ke dalam apartemennya dan ternyata lampu kamar tidur sudah di matikan oleh Sofie. Tanpa suara Indra naik ke atas tempat tidur dan membuka pakaian tidur Sofie yang tipis dan transparan.
Dalam gelap Indra menciumi bibir, leher, dan dada Sofie. Saat ciuman Indra berubah menjadi *******, Sofie terjaga dan merasakan bagaimana bernafsunya Indra menggumuli tubuhnya didalam gelap.
Indra tidak lama-lama menggumuli tubuh Sofie karena dari rintihannya, Indra tahu persis kalau Sofie juga sudah tidak sabar agar Indra segera melakukan apa yang harus dilakukannya.
Dan semuanya pun terjadi, Indra menempatkan diri di atas tubuh Sofie dan menyatukan tubuh keduanya. Betapa penyatuan tubuh keduanya membuat kamar apartemen yang sepi menjadi riuh dengan suara rintihan Sofie dan ******* Indra.
"Indra... Owh... Indra..!" Sofie memeluk erat tubuh Indra hingga kuku-kukunya yang lancip mencengkeram keras di punggung Indra.
Sofie antara sadar dan tidak. Sofie tidak sanggup menahan dirinya sendiri agar tidak menjerit saat mencapai puncak kenikmatan. Dan saat Sofie masih terengah-engah menahan kenikmatan yang dia rasakan, samar-samar Sofie masih bisa mendengar suara ******* Indra memanggil-manggil nama seseorang. Kurang jelas memang, tapi tentu saja Indra memanggil-manggil nama Sofie! Siapa lagi?!
Indra sepertinya berada dalam saat-saat dimana dia akan segera mencapai puncak kenikmatan. Desahannya di sertai suara geraman dan Sofie kini bisa mendengar dengan jelas nama siapa yang Indra sebut.
"Marisa... Argh..! Marisa..."
__ADS_1
Jelas sekali! Indra memanggil-manggil nama Marisa! Bukan dirinya! Dalam gelapnya suasana kamar apartemen itu, Sofie merasa darahnya tersirap dan jantungnya seolah berhenti berdetak!