
Minggu sorenya, Marisa sudah kembali ke kos-annya. Indra sebenarnya ingin mampir dulu, tapi Marisa memintanya untuk segera pulang ke rumah karena sudah dari kemarin bersama Marisa. Marisa tidak mau kalau keluarga Indra merasa kehilangan Indra disaat hari lebaran seperti saat ini.
Gery yang sedang nongkrong di teras rumahnya segera menghampiri Marisa yang tampak sedang membuka kunci pintu rumah. Gery yang selama beberapa hari ini agak cuek kepada Marisa karena menyayangkan pilihan Marisa terhadap Indra kini berinisial untuk memperbaiki hubungannya dengan Marisa. Apalagi ini hari lebaran.
"Mar, aku minta maaf ya" kata Gery seraya mengulurkan tangannya.
Marisa menoleh dan segera menyambut uluran tangan Gery. Bukan main senangnya hati Marisa karena bisa berbaikan dengan sahabatnya itu.
"Iya, Ger. Aku juga minta maaf" kata marisa.
"Kamu baru pulang dari Bogor?"
"Iya. Eh kita masuk yuk! Kita ngopi bareng"
"Pak Indra gak kamu ajakin kesini?"
"Enggak. Aku minta dia segera pulang untuk menemui keluarganya. Dari kemarin dia kan bersama aku"
"Iya, aku juga lihat di instastory kamu. Pak Indra Perdana, CEO utama Perdana Enterprise yang terhormat itu ikut lebaran di kampung kita! Luar biasa!"
"Alhamdulillah dong!"
"Iya, Alhamdulillah. Kayaknya sebentar lagi akan ada acara lamaran nih!"
"Ah kalau itu sih masih lama. Aku mau selesai kuliah dulu. Baru mikirin pernikahan"
"Iya, setelah lulus kuliah gak usah kerja lah! Kan udah jadi nyonya Bos!"
"Ah bisa aja kamu ini!"
Marisa membuka pintu rumahnya dan masuk kedalam. Gery segera ikut menyusul dan menyalakan TV sambil tidur-tiduran di kasur lantai.
"Kamu gak ke Bogor?" tanya Marisa.
"Enggak ah. Libur nya juga cuma dua hari" jawab Gery.
"Aku juga sebenarnya gak niat pulang. Cuma Indra pengen kenalan sama keluarga aku"
"Aku lihat di status Reno, dia ngucapin terima kasih atas sapi kurban yang di beli sama Pak Indra"
__ADS_1
"Oh ya? Aku gak liat status Reno tuh. Dasar anak kecil!"
"Jadi Pak Indra beli sapi buat kurban keluarga kamu?"
"Iya. Aku udah nolak sih. Tapi dia maksa"
"Kamu serius sama Pak Indra?"
"Insya Allah aku serius"
"Ya mudah-mudahan saja sekarang ini Pak Indra sudah bukan Pak Indra yang dulu. Aku takut dia baik sama kamu cuma karena ada maunya aja! Awas ya, Marisa! Jaga diri kamu! Jangan sampai kamu terlena dengan Pak Indra dan akhirnya mau melakukan apa saja yang dia minta!"
"Apaan sih?!"
"Kamu tahu kan apa maksud aku?! Ingat almarhum Bu Sofie! Di tinggal setelah Pak Indra bosan!"
"Iya. Aku tahu. Aku mengerti. Insya Allah aku akan jaga diri"
"Padahal kenapa sih kamu gak sama Pak Andro aja?! Udah baik! Ganteng! Soleh! Ramah! Lebih muda! Masih orisinil lagi! Wah kalau aku ini cewek, udah aku embat tuh Pak Andro!"
Marisa tertawa. "Awas ya Ger! Ingat kodrat kamu! Jeruk tidak bisa makan jeruk! Kecuali jeruk nya gak tahu diri!"
"Aku masih normal kok! Gak usah khawatir!"
"Cemilannya ada?"
"Ada tuh di kantong kain yang aku bawa. Tadi aku sempet belanja cemilan dulu di mini market sama Indra"
"Asyik!" Gery langsung unboxing kantung kain belanja milik Marisa.
Tak lama kemudian Marisa sudah datang kembali dengan dua cangkir kopi panas.
"Aku kita ngopi bareng lagi" kata Gery.
"Aku sangat kehilangan selama beberapa hari ini, Ger. Aku kangen sama kamu! Aku gak bisa cuek-cuekan sama kamu. Aku bahkan sempat berpikir kalau keputusan aku memilih Indra adalah kesalahan karena kamu jadi jauh sama aku" kata Marisa.
"Iya, aku juga merasa kehilangan kamu. Aku minta maaf ya karena udah jauhin kamu. Apalagi beberapa hari yang lalu aku sempet gibahin kamu sama Mbak Niki"
"Ya gak apa-apa. Aku juga yang salah. Aku gak bisa memilih Andro. Abisnya gimana kalau aku cinta nya sama Indra. Cinta kan tidak mengenal logika"
__ADS_1
"Aku agak curiga sebenarnya sama kamu!"
"Curiga masalah apa?"
Gery mengusap dagunya sendiri. "Aku curiga kalau sebenarnya kamu tidak mencintai Indra maupun Andro! Kamu juga tidak pernah mencintai Fero! Kamu sebenarnya menaruh cinta sama aku!"
Mata Marisa membelalak! "Enak aja! Sok kegantengan banget kamu!" teriak Marisa seraya memukuli bahu Gery!
"Ya buktinya kamu galau berat saat aku cuekin kamu! Mungkin selama ini kamu berharap aku nembak kamu. Tapi aku nya gak nembak-nembak juga! Makanya kamu terpaksa sama Pak Indra! Hahahaha!" Gery terbahak-bahak!
"Gila banget sumpah!" rutuk Marisa!
"Sorry, aku cuma bercanda! Hahahaha!"
"Gak lucu tahu! Awas aja kalau sampai yayang aku, Indra Perdana mendengar fitnah keji yang tadi kamu ucapkan!"
"Hahahaha! Yayang Indra!"
"Oh ya, Ger. Gak kerasa besok kita akan ke kampus lagi ya. Aku rasanya lega sekali karena kita sudah berhasil menyelesaikan masa PKL kita di Perdana Enterprise dengan baik"
"Alhamdulillah. Apalagi kamu, dapet CEO nya juga!"
"Udah dong, Ger! Jangan godain aku terus! Aku juga gak niat cari CEO, kok! Aku niat PKL dengan sungguh-sungguh. Tapi yang namanya jatuh cinta kan gak kenal tempat dan waktu"
"Iya sih. Ya... Semoga saja Pak Indra Perdana adalah pilihan yang terbaik. Kalau tidak, kamu bisa menyesal seumur hidup karena telah melepaskan Pak Andro demi CEO arogan itu!"
Marisa menyentuh lengan Gery. "Please, Ger. Lupakan semua sikap buruk Pak Indra selama kita PKL di Perdana Enterprise. Dia sekarang sudah banyak berubah menjadi lebih baik"
"Itu kan sama kamu! Kalau sama aku belum tentu! Aku tidak akan pernah lupa bagaimana dia telah membuat kita repot luar biasa pada awal-awal PKL disana!"
"Ya, aku juga ingat. Mudah-mudahan saja setelah ini dia tidak akan lagi merepotkan kita!"
Benarkah seorang Indra Perdana tidak akan membuat Marisa repot lagi?! Sepertinya seorang Indra Perdana akan tetap menjadi seorang yang arogan, egois, dan pemaksa!
Bagaimana tidak?! Keesokan paginya saat Marisa baru saja menunaikan shalat shubuh, Indra sudah hadir di depan pintu rumahnya! Bahkan Marisa belum sempat membuka mukena nya saat mendengar ada ketukan di pintu depan!
"Siapa pagi-pagi sekali datang kesini?" pikir Marisa dan bergegas membuka pintu rumahnya yang masih di kunci dari dalam.
Marisa keheranan saat melihat Indra muncul di depan pintu rumahnya dengan membawa paper bag berukuran besar!
__ADS_1
"Selamat pagi, Sayang" sapa Indra dengan senyuman yang paling manis yang pernah Marisa lihat.
"Selamat pagi. Ada apa kesini? Ini kan masih gelap. Baru jam setengah 6" tanya Marisa heran.