My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 83 : Dimana Indra?


__ADS_3

Marisa menatap Sofie dengan tatapan tidak percaya sambil memegangi pipinya yang terasa panas. Begitu kerasnya tamparan Sofie sehingga Marisa merasa ada sudut bibirnya yang terluka.


"Bu Sofie kenapa menampar saya?! Saya salah apa?! Saya tidak pernah berniat merebut calon suami Ibu! Bahkan seandainya Pak Indra belum bertunangan pun saya tidak akan mau dengannya!" kalau Marisa mencoba untuk membela dirinya.


"Jangan sok jaim kamu! Kamu tahu kan kalau Indra mencintai kamu, makanya kamu berani merebut Indra dari saya!" bentak Sofie.


"Pak Indra mencintai saya?! Itu tidak mungkin! Dia tidak pernah memperhatikan saya apalagi menaruh hati pada saya!"


"Tapi nama kamu yang Indra sebut bahkan sedang saat bersama saya! Indra juga jadi dingin setelah dia mengenal kamu!"


"Cukup, Bu Sofie. Saya akan beritahu Ibu tentang siapa yang sekarang sedang jadi selingkuhan Pak Indra! Bukan saya! Dia adalah salah satu karyawan di bagian pemasaran! Kalau Ibu tidak percaya, sekarang kita temui Mbak Bella dan kita tanyakan pada Mbak Bella! Sedang pergi dengan siapa Pak Indra saat ini!" kata Marisa dengan berapi-api.


"Indra pergi bersama wanita lain?! Seorang karyawan di bagian pemasaran?! Siapa dia?!" Sofie tak kalah berapi-api.


"Namanya Kayla! Sudah semingguan ini Pak Indra selalu bersama Kayla! Ayo kita tanyakan saja sekarang langsung pada Mbak Bella!" Marisa keluar dari ruangan dan langsung menuju ruangan kerja Bella diikuti Sofie.


Bella saat itu sedang sibuk dengan laptopnya memeriksa laporan dari bagian keuangan. Bella tampak bingung saat melihat Marisa memasuki ruangannya bersama Sofie.


"Marisa, Bu Sofie. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Bella.


"Mbak Bella, apakah Mbak tahu kemana Pak Indra pergi keluar?" tanya Marisa.


"Wah, saya tidak tahu Mar. Pak Indra hanya bilang kalau dia akan pulang lebih awal hari ini" jawab Bella.


"Masak kamu tidak tahu! Kamu kan sekretaris nya!" hardik Sofie.


"Maaf, Bu Sofie. Tapi pekerjaan saya adalah menerima semua laporan dari staf kantor dan para kepala bagian untuk memeriksanya dan menyerahkannya pada Pak Indra. Saya tidak berkewenangan untuk menanyakan masalah pribadi seperti kemana perginya Pak Indra" kata Bella.


"Tapi kamu tahu, Indra pergi bersama siapa?!" tanya Sofie.


Bella malah saling tatap dengan Marisa.

__ADS_1


"Jangan tatap-tatapan dengan Marisa! Kamu jawab saja pertanyaan saya!" bentak Sofie.


"Katakan saja pada Bu Sofie" kata Marisa memelas pada Bella.


"Ya, katakan pada saya! Saya tadinya menuding Marisa dan memarahinya. Saya pikir Marisa ada hubungan gelap dengan Indra! Tapi kata Marisa justru selama seminggu ini Indra selalu bersama Kayla! Apakah itu benar?!" tanya Sofie dengan nada mendesak.


"Maaf, Bu Sofie. Setahu saya memang seperti itu. Pak Indra selama seminggu ini selalu bersama Kayla. Bahkan menurut kepala bagian pemasaran. Kayla sudah tidak mengerjakan semua pekerjaannya selama seminggu ini karena selalu bersama Pak Indra. Mereka juga sering pergi keluar berduaan" tutur Bella.


Wajah Sofie memucat. Di tatapnya Marisa dengan perasaan bersalah. "Marisa... Saya minta maaf, tadi saya sudah berlaku kasar pada kamu. Saya tidak tahu bagaimana caranya menebus kesalahan saya" kata Sofie sedih. Matanya mulai berkaca-kaca.


Diluar dugaan, Marisa tetap tersenyum dan memegang tangan Sofie. "Tidak apa-apa, Bu. Saya paham. Saya juga wanita" katanya.


Sofie tidak sanggup menahan perasaannya, di peluknya Marisa erat-erat. "Terima kasih, Marisa. Kamu baik sekali! Tidak salah Andro memilih kamu sebagai pendampingnya! Sekali lagi saya minta maaf" katanya.


"Iya, saya sudah memaafkan Bu Sofie"


"Jadi sekarang bagaimana?! Apakah kalian bisa membantu saya untuk menemukan Indra?" Sofie menatap Marisa dan Bella.


"Bu Sofie, kalau Ibu mau mendengarkan saran saya. Mungkin Ibu bisa tanyakan pada Herman, supir pribadi Pak Indra. Herman pasti tahu dimana kira-kira nya Pak Indra saat ini berada" kata Bella.


"Kalau begitu tolong panggilkan Herman sekarang juga! Suruh dia untuk segera datang ke ruangan ini!"


"Baik Bu" Bella segera menelepon Herman yang kebetulan masih berada di kantor untuk segera datang ke ruangan sekretaris.


Tak lama kemudian Herman datang ke ruangan sekretaris dan tampak kaget melihat ada Sofie disana.


"Ada apa, Bella?" tanya Herman.


"Ini Bu Sofie mau bicara dengan kamu" kata Bella.


Herman menatap Sofie, "Ada apa, Bu Sofie?"

__ADS_1


"Herman, saya mau menanyakan satu hal sama kamu. Saya saat ini sedang mencari keberadaan Indra. Kamu pasti tahu dimana saat ini Indra berada, kan?! Indra sedang bersama dengan Kayla, kan?!" tanya Sofie.


Herman tampak serba salah. "Anu... Gimana ya, Bu..."


"Kamu harus bicara, Herman! Saya tidak akan membawa-bawa nama kamu kedalam masalah saya dengan Indra! Saya juga tidak akan memaksa Indra untuk terus bersama saya jika dia memang sudah tidak menghendaki saya. Saya juga punya harga diri! Saya punya perasaan!"


"Sebenarnya Pak Indra memang sudah ingin memutuskan hubungan dengan Bu Sofie. Pak Indra sudah lama merasa bosan pada Bu Sofie" kata Herman blak-blakan.


"Indra bercerita pada kamu tentang kebosanannya kepada saya?" Sofie tampak sedih sekali.


"Ya, jadi saya sarankan Ibu mundur saja. Tidak ada gunanya memaksakan hubungan dengan orang yang sudah tidak menghendaki kita lagi. Dalam satu hubungan, harus ada kerjasama dari kedua belah pihak untuk berjuang! Kalau salah satunya sudah tidak mau berjuang, maka hubungan itu akan timpang, tidak seimbang dan hanya tinggal menunggu waktu untuk hancur!" kata Herman sok bijak.


"Ya Herman. Saya mengerti. Lalu apakah kamu bisa beri tahu saya dimana kiranya saya bisa menemukan Indra?"


"Saya tahu Pak Indra ada dimana. Saya akan memberi tahu lokasinya pada Bu Sofie. Tapi saya minta ibu tidak memberitahu Pak Indra kalau Ibu tahu dari saya dimana keberadaan beliau"


"Pasti, Herman! Saya berjanji!"


"Dan informasi ini tidak cuma-cuma ya, Bu! Masalahnya ini bersifat sangat rahasia dan posisi saya sebagai supir taksi Pak Indra jadi taruhannya!"


"Maksud kamu apa?! Kamu minta saya memberikan kamu uang?!"


"Kurang lebih begitu Bu Sofie, hehehehe"


Bella dan Marisa jadi saling pandang melihat bagaimana kelakuan Herman. Seorang supir pribadi yang dengan mudah bisa membocorkan rahasia atasannya demi uang!


"Aku kira Herman memberi tahu dimana keberadaan Pak Indra pada Bu Sofie karena dia merasa kasihan pada Bu Sofie. Tadi kan dia sudah bicara sok bijak. Eh ternyata dia meminta imbalan!" batin Marisa.


"Baiklah, Herman! Saya akan berikan berapapun kamu mau! Kamu mau berapa juta?!" tanya Sofie tidak sabaran.


"Saya minta lima juta rupiah sekarang juga transfer ke rekening saya!" kata Herman.

__ADS_1


Marisa dan Bella langsung geleng-geleng kepala.


__ADS_2