
Keesokan harinya Marisa kembali ke kantor. Marisa merasa tubuhnya sudah kembali fit untuk bekerja. Indra belum sampai di kantor karena ada jadwal fitnes di hari Rabu pagi. Menjelang makan siang barulah Indra muncul di ruangan kerjanya.
Marisa pun bertemu kembali dengan Indra. Suasana diantara mereka menjadi canggung. Indra tidak banyak bicara, Marisa juga demikian. Beberapa menit berlalu tanpa kata-kata. Indra sudah sibuk dengan laptopnya.
"Pak Indra, ini ada beberapa berkas yang harus Bapak tanda tangani," kata Marisa seraya meletakkan beberapa berkas di atas meja kerja Indra.
"Oke, kamu sudah sembuh?" tanya Indra.
"Alhamdulillah sudah, Pak."
"Kamu besok temani saya, ya? Saya ada acara main golf bersama para pengusaha muda sukses yang menjadi klien perusahaan."
"Kemana Pak?"
"Ke Sentul."
"Oh ya, baik, Pak."
"Itu juga kalau kamu sudah benar-benar sehat!"
"Insya Allah saya sudah sehat, Pak."
"Oke, jam delapan pagi kita berangkat dari sini!"
Marisa kembali ke meja kerjanya. Rasanya aneh menghadapi Indra Perdana yang agak sedikit ramah. Tapi kalau memang Indra mau merubah kelakuannya pada Marisa menjadi lebih baik, ya bagus! Marisa bisa menghirup nafas lega karena tidak usah lagi bersinggungan dengan CEO nya itu.
Pekerjaan hari itu pun berlangsung menyenangkan. Baru kali ini selama dua bulan bekerja di Perdana Enterprise, Marisa merasa nyaman dan tidak tertekan! Marisa pun menyelesaikan semua tugasnya dengan baik dan tepat pada waktunya.
Pukul empat sore Marisa sudah bersiap membereskan barang-barangnya karena waktu pulang kantor sudah hampir tiba. Indra juga kelihatannya sudah bersiap untuk pulang karena sudah menutup layar laptopnya.
Tiba-tiba telepon di meja kerja Indra berdering. Indra segera mengangkatnya dan terhubung dengan Bella, sekretaris nya.
"Selamat sore, Pak Indra." terdengar suara Bella.
"Ya Bella, ada apa?" tanya Indra.
"Ada Bu Sofie ingin bertemu dengan Bapak."
"Sofie? Dimana dia sekarang?"
"Ada di ruangan saya."
"Suruh dia masuk ruangan saya!"
__ADS_1
"Baik, Pak."
Marisa mendengar kata-kata Indra dan tahu kalau saat itu Sofie datang ke kantor. Marisa segera siap-siap untuk berpamitan pada Indra tapi pintu ruangan keburu terbuka dan Sofie sudah muncul di depan pintu.
"Selamat sore, Bu Sofie." sapa Marisa.
"Sore," balas Sofie tanpa menoleh lalu menghampiri Indra dan mereka saling mencium pipi kiri kanan.
"Kenapa kamu bilang segala pada Bella, kalau kamu mau ketemu saya?" tanya Indra pada Sofie.
"Ini kan bukan weekend, aku takut mengganggu kamu," jawab Sofie.
"Kamu bebas menemui saya kapanpun kamu mau!" kata Indra.
"Aku mau ajak kamu makan."
Marisa merasa sebentar lagi dia akan menjadi nyamuk. Maka itu, Marisa pun segera berpamitan pada Indra. "Maaf Pak Indra, semua berkas sudah saya bereskan. Agenda metting untuk hari Jumat juga sudah saya siapkan. Apakah masih ada tugas lagi untuk saya? Kalau tidak, saya pamit pulang." tanya Marisa.
"Tidak ada yang perlu kamu lakukan lagi, kamu boleh pulang." kata Indra.
"Kalau begitu saya pulang dulu, mari Bu Sofie." Marisa menatap Sofie yang tampak tidak tersenyum seperti biasa. Malahan Sofie tampak membuang mukanya.
Marisa merasa tidak enak. Dia segera keluar dari ruangan itu dengan hati yang bertanya-tanya. Kenapa sikap Sofie jadi berubah? Sofie yang biasanya ramah jadi terlihat angkuh dan tidak mau tersenyum pada Marisa.
Sementara itu di ruangan CEO, Sofie duduk di sofa yang ada di ruangan itu bersama Indra.
"Kamu mau ngajak aku makan dimana?" tanya Indra.
"Di restoran seafood dekat sini saja." jawab Sofie.
"Oke, mau berangkat sekarang?"
"Sebentar, Dra. Aku mau menanyakan sesuatu."
"Ada apa?"
"Kemarin Mama kamu telepon aku. Katanya kamu pergi malam-malam dan tidak pulang ke rumah. Mama tanya apakah aku bersama kamu, dan aku jawab tidak sedang bersama kamu."
"Hm," Indra ingat kemarin saat sedang menjaga Marisa di klinik, dia kehabisan baterai HP nya dan tidak bisa memberi kabar pada Mama nya juga pada Bella, makanya Indra menitip pesan pada Gery.
"Aku telepon Bella, kata Bella kamu sedang ada acara di luar bersama Marisa. Bahkan kalian berdua tidak masuk kantor kemarin,"
"Iya, saya ada metting."
__ADS_1
"Harus malam hari dan menginap?"
"Sebenarnya tidak terlalu penting. Hanya makan malam bersama klien. Saya pergi malam itu dan mengajak Marisa. Karena lokasinya dekat dengan apartemen, maka saya menginap disana. Marisa pulang ke kos-annya karena tidak enak badan."
"Lalu kenapa kemarin kamu tidak masuk kantor?"
"Saya latihan band bersama teman-teman." Indra tidak berbohong karena kemarin langsung bertemu dengan teman-teman satu band-nya setelah mengantar Marisa pulang dari klinik.
"Marisa juga tidak masuk kantor?"
"Dia masih tidak enak badan."
"Oh begitu, seharusnya kamu telepon Mama, jadi dia tidak khawatir."
"Ya, HP saya lobet. Saya tidak membawa charger."
"Aku ada satu pertanyaan lagi, Dra."
"Apa lagi?! Kenapa tiba-tiba kamu banyak bertanya?!"
"Masalah hubungan kita, Dra! Kapan kita akan resmikan di pelaminan? Kapan kamu akan melamar aku?"
Indra mengerutkan keningnya. "Melamar kamu? Memangnya kenapa saya harus melamar kamu?" Indra malah balik bertanya dan seperti yang tidak perduli pada pertanyaan Sofie.
Sofie tampak terkejut mendengar kata-kata Indra. "Kamu harus menikahi aku, Dra! Kita sudah cukup lama bertunangan! Papa dan Mama aku juga sudah sering menanyakan kapan kita akan menikah!" Sofie tampak berang.
"Saya belum siap!" jawab Indra singkat.
"Kamu bilang belum siap?! Kamu mau menunggu apa lagi?! Aku sudah memasuki usia dua puluh delapan! Kamu juga sudah kepala tiga! Kamu punya pekerjaan yang bagus dan harta yang berlimpah! Kamu punya segalanya!"
"Saya belum ingin menikah!"
"Tapi hubungan kita sudah terlanjur jauh, Dra! Aku dan kamu sudah layaknya pasangan suami istri!"
"Memangnya kenapa?! Itu hal wajar dalam menjalani sebuah hubungan, bukan?! Tunggu! Jangan bilang kalau saat ini kamu sedang..." Indra melotot ke arah perut Sofie.
"Tidak! Aku tidak hamil! Aku selalu pakai kontrasepsi!" kata Sofie keras.
"Bagus! Saya tidak mau kamu hamil dan membuat kita harus menikah secepatnya!" kata Indra enteng.
Sofie merasa dadanya sesak menahan tangis. "Lalu kapan kamu mau menikahi aku..? Hubungan kita mau di bawa kemana..?"
"Saya sudah pernah bilang pada kamu saat pertama kita akan bertunangan, kalau saya tidak berjanji kapan saya akan menikahi kamu! Yang pasti saya akan menikahi kamu, tapi tidak sekarang!"
__ADS_1
"Bagaimana jika kamu tergoda oleh wanita lain?!"