My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 262 : Herman dan Ina


__ADS_3

Marisa menatap pria dihadapannya rasa tidak percaya. Herman! Supir pribadi Indra disaat Marisa masih menjadi seorang mahasiswi PKL di Perdana Enterprise. Herman yang menghilang secara misterius dan kini ternyata hidup di Cirebon dengan Indra keadaan wajah yang sangat mengenaskan.


"Maaf, apakah Bu Marisa takut melihat saya? Kalau takut, sebaiknya saya menghindar saja" kata Herman.


Marisa segera menggeleng. "Bukan! Bukan seperti itu! Saya hanya tidak menyangka kalau akan bertemu lagi dengan kamu. Sejak saat itu kita tidak pernah bertemu lagi" kata Marisa.


"Ya, sejak Pak Indra menghajar saya hingga setengah mati waktu itu, saya memutuskan untuk pulang kampung kesini. Ini adalah kampung tanah kelahiran saya"


"Lalu kamu kenal dengan Henry?"


"Iya, saat saya luka parah pasca penyiksaan yang Pak Indra lakukan, saya beberapa hari tinggal bersama Pak Henry sampai luka-luka saya sembuh. Pak Henry juga yang membiayai semua biaya pengobatan saya dan beliau juga yang sudah memberikan saya modal usaha di kampung sehingga saya bisa dengan tenang meninggalkan ibu kota"


Marisa melirik Henry, "Kamu baik sekali" katanya kagum.


Henry hanya tersenyum tipis. "Aku hanya merasa senasib dengan Herman karena kami sama-sama memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dengan Indra Perdana"


Marisa menatap Herman dengan miris. Walaupun tampak mengerikan, Marisa merasa ada rasa iba dalam hatinya melihat bagaimana keadaan Herman yang seperti itu. Apalagi itu terjadi akibat perbuatan Indra, suami Marisa sendiri!


"Aku minta maaf atas perbuatan Indra yang sudah membuat kamu sampai seperti itu" kata Marisa prihatin.


"Tidak, Bu Marisa. Anda tidak perlu meminta maaf karena ini semua bukan kesalahan Anda. Bahkan saat penyiksaan terhadap saya terjadi, Anda masih berstatus sebagai kekasih Pak Andro dan Pak Indra juga adalah kekasih Bu Sofie"


"Iya, tapi sekarang Indra adalah suamiku"


"Saya tahu, Pak Henry sudah menceritakan semuanya kepada saya. Beliau juga yang meminta saya untuk menyiapkan tempat tinggal untuk Bu Marisa"


"Terima kasih, Herman. Saya berhutang budi kepada kamu dan juga Henry"

__ADS_1


"Saya sudah mendengar cerita tentang Anda dari Pak Henry, jadi apakah benar kalau Anda pergi kesini untuk menghindari Pak Indra?"


"Iya... Saya melarikan diri dari kediaman keluarga Perdana dengan membawa anak saya ini. Namanya Syailendra"


"Maaf Bu Marisa, kenapa Anda bisa menikah dengan Pak Indra?! Bukankah Pak Andro waktu itu sudah menunjukkan keseriusan dan akan melamar Anda setelah pulang dari Turki?"


Marisa tersenyum pahit. "Iya, Herman. Saya memang tidak jadi menikah dengan Andro karena saya mencintai Indra. Saat Andro sedang di Turki, saya dan Indra semakin dekat karena saya merawat Indra selama dia menjalani pengobatan akibat pemukulan seorang tidak dikenal di sebuah bar"


Herman dan Henry saling pandang.


"Setelah itu kami memutuskan untuk bersama, saya memutuskan hubungan dengan Andro dan Bu Sofie juga meninggal akibat penyakit kanker yang dideritanya"


"Saya lah orang yang telah memukuli Pak Indra di Alexandre bar pada malam itu, Bu Marisa" kata Herman tiba-tiba mengakui perbuatannya pada Marisa.


Tapi bukannya kaget, Marisa ternyata sudah menduganya sejak awal. "Saya sudah menduga kalau kamu yang melakukan hal itu. Bagaimanapun juga kamu menanggung derita yang luar biasa atas apa yang Indra telah lakukan pada kamu" kata Marisa.


Marisa mengangguk.


"Saya minta maaf, Bu" kata Herman.


"Sudahlah, Herman. Apa yang sudah terjadi tidak usah dibahas lagi. Sekarang kita mulai dengan kehidupan kita yang baru. Saya mohon agar kamu dan juga teh Ina bisa menerima kehadiran saya disini dengan senang hati dan ikhlas" kata Marisa.


Herman mengangguk. "Tentu, Bu Marisa. Saya dan Ina akan menjaga dan menganggap ibu sebagai keluarga kami sendiri"


Mata Marisa berkaca-kaca saking terharunya. "Terima kasih, Herman"


"Walaupun saya dulu sempat menjadi anak buah Pak Indra dan pernah membuat Bu Marisa putus dengan pacar Bu Marisa yang dulu, tapi percayalah kalau saya sekarang telah berubah menjadi orang yang lebih baik. Ibu tidak usah takut kepada saya walaupun sekarang keadaan wajah saya sangat mengerikan seperti ini"

__ADS_1


"Tidak, Herman. Saya tidak takut. Justru saya kagum dengan keadaan kamu. Walaupun kamu mengalami luka fisik dan batin yang luar biasa, tapi kamu mampu mengatasi itu semua dan menjadi orang yang lebih baik lagi, bahkan kamu memiliki sebuah keluarga yang harmonis"


Herman tersenyum seraya melirik ke arah istrinya, Ina. "Saya juga kagum dengan kesetiaan Ina, saya pikir tadinya dia tidak akan mau menerima saya kembali sebagai kekasihnya karena keadaan wajah saya yang sudah cacat permanen. Tapi ternyata bukannya meninggalkan saya, Ina malah mengajak saya untuk membina sebuah rumah tangga. Itulah yang membuat saya kembali merasa ada harapan untuk hidup normal seperti orang lain"


"Luar biasa... Itu namanya cinta sejati! Kesetiaan dan pengorbanan yang Ina telah lakukan untuk kamu benar-benar membuat saya merasa kagum!"


"Iya Bu, karena saya mencintai Kang Herman apapun keadaannya. Saya tidak akan meninggalkan dia dalam keadaan apapun" kata Ina.


"Masya Allah..."


"Bagaimana kalau sekarang kita antarkan Marisa ke rumah yang akan dia tempati selama tinggal disini" kata Henry.


"Oh ya, pasti Bu Marisa ingin segera beristirahat" kata Herman lalu mengambil sebuah kunci dari atas meja. "Ayo kita lihat rumah yang akan Bu Marisa tempati"


Herman dan Ina pun mengantarkan Marisa ke sebuah rumah kecil minimalis tapi memiliki sebuah taman kecil asri yang berada di sebelah rumah Herman.


"Ini rumahnya, Bu. Memang tidak besar tapi mudah-mudahan Ibu berkenan tinggal disini" kata Ina.


"Justru saya merasa kalau rumah ini sangat bersih dan nyaman. Saya dan Syailendra pasti akan betah tinggal disini, sekali lagi saya ucapkan terima kasih karena kebaikan kalian" kata Marisa terharu.


"Sama-sama, Bu" kata Ina.


"Saya dan Ina hanya bisa membantu sekedarnya. Tapi kalau Bu Marisa mau berterima kasih, berterima kasihlah kepada Pak Henry karena semua ini adalah dengan pertolongan Pak Henry. Sama seperti yang saya alami. Kalau bukan karena kebaikan Pak Henry, mungkin saya sudah mengakhiri hidup saya" kata Herman.


"Marisa melirik Henry. "Makasih ya?" katanya sambil tersenyum.


"Apa sih?! Aku hanya berusaha semampu aku, kok!" kata Henry dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


__ADS_2