My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 117 : Perawat Pribadi Sang CEO


__ADS_3

Minal Aidzin wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin kepada semua pembaca "My Arrogant CEO" 🙏🙏🙏


Maaf kalau author baru bisa up lagi karena sibuk mudik ke kampung halaman. Terima kasih karena sudah mau sabar menunggu kelanjutan novel ini.


*******


Indra yang hampir terguling bersama kursi rodanya berhasil tertolong karena Marisa dengan sigap menahan kursi roda itu tepat pada waktunya.


"Pak Indra, hati-hati. Anda tidak apa-apa?" tanya Marisa dengan nafas terengah-engah.


"Saya tidak apa-apa! Mau apa kamu kesini lagi?! Bukankah urusan kita sudah selesai?!" Indra malah marah-marah!


"Kursi roda Anda hampir terguling!" kata Marisa dengan nada kesal.


"Enak saja kamu bicara! Saya hanya oleng sedikit dan tidak akan terguling!" sangkal Indra dengan wajah memerah!


"Maaf, saya hanya berusaha untuk menolong Anda"


"Saya tidak butuh pertolongan kamu! Kamu pergi sana! Saya bisa sendiri! Bukankah kamu yang sudah menolak untuk merawat saya?! Sekarang kenapa kamu malah menghampiri saya lagi!"


"Tidak! Saya tidak akan pergi! Saya akan merawat Anda sampai Anda kembali sehat!"


Wajah Indra tampak kaget tapi hanya sesaat. "Kamu mau merawat saya?" tanyanya seolah tidak percaya.


"Iya, saya bersedia" jawab Marisa.


Bukan main senangnya hati Sang CEO, tapi dengan nada arogan nya, Indra malah berkata. "Saya tidak butuh perawatan dari kamu! Saya bisa sewa sepuluh perawat pribadi untuk merawat saya sampai sembuh dan pastinya mereka akan lebih telaten dan profesional dari pada kamu!"


"Ya sudah kalau Anda tidak mau" kata Marisa lalu berbalik dan bersiap untuk melangkah pergi.


"Eh! Tunggu dulu!" Indra panik dan segera mencekal lengan Marisa. "Saya menerima kamu sebagai perawat pribadi saya! Kamu akan menerima gaji besar!"


"Oke, saya akan ikut Anda. Sekarang saya akan minta izin dulu pada Gery.


"Silahkan! Saya tunggu di apotek depan!"


Marisa kembali kepada Gery dan berkata bahwa dia akan merawat Indra selama pria itu sakit. Tentu saja keputusan Marisa itu membuat Gery bengong.

__ADS_1


"Gila kamu, Marisa! Katanya kamu akan pergi dari kehidupan Pak Indra! Kamu ingin lepas dan kembali menjadi mahasiswa biasa yang ceria! Belum ada satu jam, kamu sudah berubah pikiran untuk menjadi perawat pribadi Pak Indra!" kata Gery heran.


"Aku gak tega, Ger! Kamu lihat sendiri tadi bagaimana Pak Indra hampir terguling bersama kursi rodanya?" kata Marisa.


"Terserah! Bukannya gak tega! Yang ada kamu itu udah bener-bener jatuh cinta sama Pak Indra!"


Mata Marisa berkaca-kaca. "Iya Ger. Aku mencintai Pak Indra! Aku sayang banget sama dia... Aku gak bisa meninggalkan dia dalam keadaan seperti ini..."


Gery menepuk pundak Marisa. Getir sekali rasanya perasaan Gery melihat sahabatnya seperti itu. Sudah di sakiti dan di buat kesal berkali-kali, masih saja mencintai!


"Ya sudah, Mar! Kalau itu sudah menjadi keputusan kamu, aku sih mendukung saja. Hati-hati kamu selama bersamanya! Ingat kalian bukan muhrim! Jangan terlalu berdekatan dan jangan biarkan setan ambil alih!"


"Ya, Ger! Aku janji! Terima kasih"


Dan akhirnya Gery hanya bisa memandangi kepergian Marisa menyusul Indra. Gery menghela nafas panjang. Gery jadi bingung bagaimana harus menyikapi kondisi saat ini. Dimana Marisa memutuskan untuk merawat Indra yang sedang sakit padahal kontrak praktek kerja lapangan nya sudah selesai.


"Memang masih ada waktu selama seminggu sebelum aku dan Marisa kembali ke kampus. Tapi seharusnya itu bisa jadi waktu untuk kami berdua beristirahat setelah melewati masa PKL tiga bulan yang melelahkan! Dasar Marisa! Padahal selangkah lagi dia tadi bisa melepaskan diri dari Pak Indra! Tapi dia malah memutuskan untuk kembali masuk kedalam perangkap cinta Sang CEO arogan!"


"Sekarang aku baru menyadari, kalau penyakit seorang wanita itu adalah mencintai pria yang hanya bisa menyakiti!"


*******


Sementara Marisa mendatangi Indra yang sedang menunggu obatnya di apotek. Selesai mendapatkan obat nya, Indra mengajak Marisa untuk naik taksi online ke vila pribadi Indra di kawasan puncak Bogor.


Indra bahkan tidak perduli kepada mobil mewahnya yang masih ada di pelataran parkir rumah sakit. Indra merasa bahagia bisa membawa Marisa, gadis yang sangat di cintai nya itu ke vila pribadinya. Jauh dari siapapun! Rasanya tidak rugi juga Indra di pukuli Herman sampai luka parah kalau akhirnya bisa mendapatkan Marisa!


"Bagaimana dengan mobil Anda? Apakah tidak akan hilang nantinya?" tanya Marisa saat dalam perjalanan ke puncak bersama Indra.


"Kuncinya juga kan masih sama Gery. Biar nanti saya yang akan meneleponnya dan meminta Gery untuk membawa mobil saya ke kantor" jawab Indra.


"Lalu sekarang kita mau kemana?"


"Ke vila pribadi saya di puncak"


"Kenapa harus sejauh itu? Kalau ada apa-apa bagaimana?!" Marisa khawatir.


"Tidak akan terjadi apa-apa! Kamu tidak usah khawatir!"

__ADS_1


"Tapi jauh sekali!"


"Biar saja! Kalau kita ada di Jakarta, Mama bisa mencium keberadaan saya yang sedang sakit! Saya tidak mau Mama khawatir! Saya mau kalau saat saya pulang, kondisi saya sudah benar-benar sehat! Jadi Mama tidak perlu tahu tentang apa yang terjadi pada saya!"


"Jadi Anda akan bilang apa pada Mama?"


"Saya akan bilang kalau kita akan berada selama beberapa hari di luar kota"


Marisa dan Indra pun sampai di sebuah vila mewah milik Indra. Bukan main luasnya vila tersebut dengan pemandangan indahnya. Vila yang memiliki kolam renang besar dan di kelilingi taman bunga yang tertata rapi serta kebun buah dan sayur yang subur dan lebat.


Marisa langsung terpesona pada pemandangan vila tersebut dan merasa sudah jatuh cinta pada nuansa alamnya. Apalagi melihat ada taman bunga yang sedang bermekaran berwarna-warni dengan gazebo, ayunan dan jungkat-jungkit nya.


"Vila nya indah sekali..." kata Marisa kagum.


"Tentu saja! Saya menghabiskan banyak uang untuk membeli nya!" kata Indra sombong.


"Luar biasa! Dekorasi taman bunganya sangat cantik!"


"Kamu suka?"


"Suka sekali!" mata Marisa berbinar-binar memandangi keadaan di sekitarnya. Tanpa Marisa sadari saat itu juga Indra sedang memandangi nya.


"Melihat wajah kamu yang sedang terpesona seperti itu membuat saya tersadar kalau kamu ternyata sangat cantik, Marisa..." batin Indra kagum dengan kecantikan gadis yang ada di hadapannya.


Saat itulah sepasang suami istri penjaga vila segera datang menghampiri Indra dan Marisa dengan tergopoh-gopoh dan segera membukakan pagar besi beton yang tingginya mencapai dua meter.


"Selamat sore, Pak Indra" sapa mereka seraya menundukkan kepala dengan penuh hormat.


"Selamat sore. Oh ya, Marisa. Kenalkan ini adalah Pak Jukri dan Ibu Jum, penjaga vila ini" kata Indra.


"Selamat sore, Neng" sapa mereka.


Marisa segera tersenyum seraya memperkenalkan dirinya. "Selamat sore, saya Marisa. Perawat pribadi Pak Indra"


"Iya tadi Pak Indra sudah menelepon katanya habis mengalami kecelakaan dan harus di rawat selama beberapa hari" kata Pak Jukri.


"Ya, dan saya memilih vila ini sebagai tempat pemulihan untuk saya" kata Indra.

__ADS_1


__ADS_2