
Marisa masuk ke dalam villa dengan ditemani oleh Bi Inah, istri Mang Ahmad si penjaga villa. Bi Inah memberikan Marisa handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Ini handuknya, Neng." kata Bi Inah.
"Terimakasih, Bi." Marisa mengambil handuk itu lalu segera mengeringkan rambutnya.
"Angetin dulu badannya. Di meja makan udah Bibi siapin minuman hangat."
"Iya, Bi."
"Kalau begitu, Bibi pamit dulu. Sudah malam. Kalau ada perlu apa-apa, panggil aja Bibi di paviliun belakang, ya?"
"Lho, Bibi di paviliun belakang? Saya sama siapa disini?"
"Kan Neng sama suaminya! Masa Bibi ganggu?! Takutnya mau bulan madu atau apa gitu. Hik hik hik! Cuaca mendukung, Neng! Dingin dan hujan deras!" goda Bi Inah yang mengira kalau Marisa adalah istri dari Indra. Memang biasanya villa keluarga milik Pak Mahmud itu di sewakan pada pasangan suami istri baru.
Wajah Marisa memerah. Belum sempat dia menerangkan bahwa dia bukanlah istri Indra, sang CEO itu sudah muncul di ruangan bersama Mang Ahmad.
"Bu, hayuk kita kembali ke paviliun! Udah malam! Takutnya Pak Indra sama Bu Marisa mau istirahat!" kata Mang Ahmad pada istrinya.
"Iya, Pak." kata Bi Inah lalu bersama suaminya meninggalkan Marisa dan Indra berdua di villa itu.
"Pak Indra, kita minum teh hangat dulu yuk?" ajak Marisa.
"Iya boleh. Kamu siapkan untuk saya sekarang! Saya mau ke toilet sebentar," kata Indra.
"Baik, Pak." Marisa segera ke ruang makan dan menyiapkan teh hangat untuknya dan Indra. Tak lama kemudian Indra datang dan ikut duduk disana.
"Teh manisnya kemanisan!" komentar Indra saat menyeruput teh buatan Marisa.
"Maaf Pak, mau saya tambah airnya?" tanya Marisa.
"Tidak usah! Saya memang sedang ingin yang manis-manis!" jawab Indra sambil melirik tajam ke arah Marisa.
"Oh," Marisa menundukkan wajahnya.
"Kamu mau mandi sekarang?" tanya Indra
"Silahkan Bapak duluan saja,"
"Kamu duluan!"
"Oh, iya Pak."
Marisa segera menghabiskan teh nya dan mengambil tasnya yang ada di ruang depan. Di villa itu terdapat dua kamar tidur dengan kamar mandi di tengah.
Marisa menghampiri Indra kembali dan bertanya. "Bapak mau tidur di kamar depan?"
"Iya," jawab Indra singkat.
"Kalau begitu saya di kamar kedua,"
__ADS_1
"Kamu tidur bersama saya malam ini!"
"Hah?!" Marisa terkejut tapi lalu menganggap kata-kata Indra hanya candaan. Tanpa bertanya lagi Marisa pergi ke kamar kedua dan menaruh tasnya. Di ambilnya baju tidur dan handuk lalu masuk ke kamar mandi.
Marisa menyalakan shower air hangat dan membasahi tubuhnya dengan mata terpejam meresapi nikmatnya tubuh yang lelah saat terkena air hangat. Nyaman sekali mandi dengan shower seperti itu. Maklum di kos-annya tidak ada fasilitas kamar mandi mewah seperti itu.
Di basuhnya seluruh tubuhnya dengan sabun cair yang ada di kamar mandi sambil mulutnya bernyanyi kecil. Rasanya ingin sekalian berendam di bathtub seandainya saja tidak ada Indra di villa itu bersamanya.
Marisa memutuskan menyudahi mandi nya dan segera mengeringkan tubuhnya dan memakai baju tidur di dalam kamar mandi. Namun begitu terkejutnya Marisa saat dia keluar dari kamar mandi dan mendapati Indra sedang berdiri di depan pintu kamar mandi tersebut!
"Pak Indra?!" seru Marisa.
Untuk sesaat mereka bertatapan. Marisa merasa ada debaran aneh saat bertatapan dengan Indra dalam kondisi seperti ini. Dimana dia baru saja mandi dan kedinginan sementara Indra sudah melepaskan pakaian kantor nya dan hanya memakai celana pendek selutut.
Yang gilanya lagi kenapa Marisa harus melirik ke arah dada bidang Indra yang berotot dan tampak mengundang untuk bersandar?
"Astaghfirullah!" batin Marisa sambil menundukkan wajahnya.
"Lama sekali mandi nya!" rutuk Indra yang juga merasa ada debaran aneh saat bersama Marisa dalam keadaan sedang memakai baju tidur dan rambutnya yang basah meneteskan butiran-butiran air ke bagian dadanya yang tampak membusung di balik baju tidurnya.
"Sebentar kok!" tukas Marisa.
"Saya juga mau mandi! Kamu tunggu saya di kamar! HP kamu ada di atas meja kamar!"
"Iya, Pak..." Marisa bergegas masuk kamar kedua tanpa menghiraukan perkataan Indra yang aneh.
kamu tunggu saya di kamar!
Marisa segera menelepon Mama nya dan mengatakan kalau dia sudah ada di Sumedang dan baru selesai makan malam. "Ya Ma, aku sudah metting dan langsung ikut acara makan malam sama Pak Indra." kata Marisa pada Mama nya.
"Oke sayang, kamu hati-hati disana, ya?" kata Mama.
"Iya, Ma."
"Pak Indra itu, orangnya baik?"
"B... Baik Ma, lumayan lah. Di bilang baik banget juga enggak,"
"Ya sudah sayang, kamu istirahat, ya? Selamat malam..."
Selesai bertelepon dengan Mama nya, Marisa membalas pesan dari Andro dan juga Gery.
Pesan yang terkirim pada Andro langsung di baca dan panggilan video call langsung berdering di HP Marisa.
"Malam Marisa..." sapa Andro.
"Malam Pak Andro." balas Marisa.
"Lama sekali HP kamu baru aktif. Lobet apa gimana?"
"Enggak, sengaja di matiin kok."
__ADS_1
"Di suruh Indra?"
"Ya begitulah. Tapi aku memang sibuk. Sampai disini langsung metting dan makan malam. Ini baru nyampe dan mandi."
"Kamu bobo dimana?"
"Di villa Pak Mahmud, kepala desa,"
"Cuma berdua sama Indra?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Hm... Gak papa sih. Cuma... Kok aku jadi cemburu, ya?"
Marisa tertawa pelan. "Cemburu sama Kakak sendiri?"
"Ya kan namanya juga pria dan wanita, Mar! Walaupun Indra dingin tapi dia juga pria normal. Kamu jaga diri baik-baik, ya! Takutnya ada setan lewat!"
"Iya Pak Andro, aku pasti bisa jaga diri!"
"Aku kangen kamu, Marisa... Dan kamu juga pasti tahu perasaan aku. Aku harap sepulang dari sana kamu ada kabar baik buat aku."
"Insya Allah..."
"Bismillah..."
Beberapa saat video call dengan Andro, Marisa di kejutkan dengan panggilan Indra dari kamar depan.
"Marisa! Marisa!"
"Maaf, Pak Andro. Video call nya udah dulu , ya? Pak Indra memanggil saya,"
"Ya sudah, kamu temui dia dan segera tidur kalau urusan sama Indra udah selesai!"
"Oke, bye?"
"Bye sayang..."
Marisa menyimpan HP nya di atas meja lalu bergegas keluar kamar untuk menemui Indra di kamar depan.
Pintu kamar depan tampak terbuka dan Marisa melongokan kepala ke dalam kamar. Tampak Indra sedang duduk di atas ranjang.
"Ada apa, Pak Indra?" tanya Marisa.
"Kamu masuk kesini! Pijat bahu saya! Sepertinya saya masuk angin!" kata Indra.
"Pijat bahu?" Marisa bertanya ragu.
"Iya! Kamu bisa tolong saya kan?"
"Bisa, Pak. Tapi kita pijat nya di ruang depan, ya?"
__ADS_1
"Gak bisa! Saya mau kamu memijat saya disini! Masuk kesini sekarang!"