My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 138 : Perasaan Bersalah yang Menyiksa


__ADS_3

Sudah tiga puluh menit Marisa berdiam diri diluar gerbang rumah Sofie. Duduk di sebuah kursi plastik yang ada di depan pos satpam yang kebetulan sedang kosong. Tidak ada kepastian kapan Indra akan keluar dari rumah Sofie.


Marisa merasa ragu untuk meninggalkan tempat itu karena belum berpamitan pada Indra. Yang ada nanti Sang CEO malah marah-marah lagi! Mau ikut masuk kedalam, Marisa tidak memakai kerudung hitam. Mana mungkin pergi bertakziah dengan memakai setelan casual seperti yang di pakainya saat ini.


Tapi menunggu seperti itu juga sangat membosankan dan buang-buang waktu. Mau menghubungi Indra lewat HP, Marisa tidak bisa karena HP nya masih belum di isi daya.


Mata Marisa membelalak saat melihat Andro yang ternyata muncul dari dalam gerbang rumah Sofie. Marisa ingin bersembunyi dibalik pos satpam ataupun dimana saja yang penting tidak usah bertemu dengan Andro. Tapi terlambat karena Andro sudah melayangkan senyum tipis dan menyebrang untuk menghampiri Marisa.


Terpaksa Marisa bertahan di tempatnya, menunggu Andro mendekat. Walaupun Marisa belum siap untuk bertemu Andro saat ini.


Dan Andro pun kini sudah berada di hadapan Marisa. Menatap mata gadis itu dengan tatapan tajam yang belum pernah Marisa lihat sebelumnya. Tidak ada senyum lebar yang biasanya tersungging di bibir Andro setiap kali dia menatap Marisa, bahkan pada saat pertama kali mereka bertemu dalam sebuah lift di Perdana Enterprise.


"Kamu tidak perlu bersembunyi, karena saya sudah melihat keberadaan kamu" kata Andro.


"Saya... Saya tidak berniat seperti itu" kata Marisa menyangkal.


Suasana hening pun tercipta dan membawa kebekuan. Marisa mencoba tersenyum untuk mencairkan suasana yang beku di antara mereka tapi tetap saja suasana dingin itu sulit untuk di cairkan.


Sementara itu ingatan Andro melayang pada hari dimana dia berpisah dengan Marisa di bandara internasional Soekarno-Hatta. Pada hari dimana Andro mengucapkan salam perpisahan kepada Marisa.


Saat itu Andro sempat mencium kening Marisa, memintanya untuk menjaga diri baik-baik, dan juga menunggu Andro sampai pulang ke Indonesia kembali dan melamarnya.

__ADS_1


Andro juga ingat bahkan sempat menitipkan Marisa kepada Indra agar Indra menjaganya dari pria lain yang mungkin akan menggodanya. Ironisnya justru Marisa malah berhasil di rebut oleh Indra! Kepada siapa Andro menitipkan saat di bandara dulu.


Belum lama semua itu terjadi, baru dua Minggu. Tapi secepat itu Marisa berpaling kepada Indra. Kakak kandung yang juga adalah saudara laki-laki satu-satunya bagi Andro.


Lagi-lagi Andro harus mengalah kepada Indra... Dalam hal apapun... Indra laksana raja, Indra ibarat maha, Indra adalah segala-galanya!


Andro menguatkan hatinya, walaupun rasa perih saat itu seakan-akan mengiris hatinya... Berhadapan dengan Marisa, gadis pertama yang di cintai nya, kepada siapa Andro menitipkan harapan dan menggantungkan masa depan nya, dan kini gadis itu malah memilih Indra!


Andro mengulurkan tangannya seraya menyapa Marisa. "Hai, apa kabar, Marisa?"


Marisa menerima jabatan tangan Andro dengan perasaan yang serba salah. "Alhamdulillah, saya baik. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Marisa.


"Apakah saya masih perlu menjawab pertanyaan kamu? Apakah kamu tidak bisa membaca apa yang sedang saya rasakan saat ini?" Andro malah balik bertanya?


"Sekarang hari sudah gelap. Kamu sebaiknya pulang. Saya akan mengantarkan kamu pulang" kata Andro.


"Tapi..." Marisa tahu karena belum meminta izin kepada Indra.


"Kamu tidak usah khawatir. Indra sudah tahu kalau saya yang akan mengantarkan kamu pulang" kata Andro seperti yang mengetahui apa yang ada didalam hati Marisa.


"Saya..." Marisa masih ragu karena masih ingin menunggu Indra.

__ADS_1


"Kamu tidak usah menunggu Indra. Indra masih akan mengikuti acara pengajian didalam sana. Lagipula apa kamu tidak merasa lelah? Sedari tadi kamu berdiam diri disini dan menunggu Indra keluar dari rumah Sofie? Indra tidak akan segera keluar! Biarkan dia berdoa untuk Sofie. Sebagai hal terakhir yang bisa dia berikan kepada tunangannya itu"


Indra menelan ludahnya sendiri. Merasa tersindir dengan kata-kata Andro. Seolah-olah Andro menuding Marisa ingin menguasai Indra dari Sofie.


"Bukan..." Marisa ingin menjawab kata-kata Andro, tapi lagi-lagi Andro tidak memberi kesempatan untuk Marisa bicara. Pria tampan itu kembali memotong kata-kata Marisa.


"Saya akan menghidupkan mobil. Kamu siap-siap dan tunggu saya disini. Kita pulang sekarang. Mama juga sudah mengizinkan saya untuk mengantarkan kamu pulang" kata Andro dan berbalik meninggalkan Marisa untuk mengambil mobilnya.


Marisa tidak punya pilihan lagi selain ikut pulang bersama Andro. "Terpaksa aku pulang sama Andro. Mudah-mudahan Indra tidak marah. Aduh! Aku kok jadi khawatir berlebihan ya?! Aku takut Indra ngambek! Indra juga sih yang lama sekali! Kata Andro didalam akan dilaksanakan pengajian dan aku di minta untuk pulang bersamanya. Aku tidak di izinkan sedikitpun untuk bicara! Kenapa sih Andro jadi cerewet sekali! Aku izinkan Indra ikut pengajian untuk mendoakan BuSofie, kok! Aku tidak melarang! Aku cuma takut Indra marah kalau aku pulang tanpa izin darinya! Tapi Andro berkata-kata seolah aku tidak mengizinkan Indra ikut pengajian didalam sana" batin Marisa.


Mobil Andro sampai di hadapan Marisa, Marisa untuk sesaat ragu. Dia harus duduk didepan bersama Andro? Atau di belakang saja?


Akhirnya Marisa memutuskan untuk duduk didepan bersama Andro.


Mobil mewah itu pun melaju meninggalkan rumah Sofie. Andro mengemudikan mobil dengan pandangan datar dan tanpa senyum sedikitpun. Membuat Marisa tidak enak hati.


Mata Marisa terasa menghangat. Ada perasaan bersalah yang kembali menggelayuti hatinya.


Ada juga rasa kehilangan... Kehilangan canda dan tawa Andro yang selalu ada di setiap kali mereka bertemu. Bahkan disaat Indra beberapa kali telah menyakiti perasaan Marisa, canda tawa Andro yang selalu mengobati perasaan sakit itu.


Tapi kini semuanya telah berubah. Marisa tidak akan lagi melihat apalagi memiliki canda tawa dari seorang Andro Perdana. Satu konsekuensi yang harus Marisa terimakasih jika ingin memilih Indra, yaitu kehilangan Andro.

__ADS_1


Dada Marisa semakin terasa sesak. Apakah Andro tidak akan bisa bersikap manis lagi? Walaupun hanya sebagai seorang sahabat? Tentu saja Marisa juga tidak bisa menuntut Andro agar bisa tetap bersikap bersahabat dengannya. Hati Andro mungkin telah terluka dan membenci Marisa.


"Aku telah berbuat salah kepada Andro. Aku juga mungkin telah salah dalam memilih Indra. Tapi aku tidak boleh lari dari kesalahan. Aku harus meminta maaf kepada Andro atas semua kesalahanku. Tidak perduli di maafkan atau tidak, yang penting aku sudah mencoba untuk meminta maaf..." batin Marisa.


__ADS_2