My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 206 : Melati Menjenguk Marisa


__ADS_3

Sudah satu minggu ini Melati bekerja bersama Andro dalam satu ruangan yang sama karena Andro sedang menggantikan posisi Indra sebagai CEO utama di Perdana Enterprise. Selama satu minggu ini Melati merasakan bagaimana berbedanya Andro dengan sang kakak, Indra. Andro sangat ramah dan bersahabat hingga membuat seolah-olah Melati sedang bekerja dengan seorang partner. Tidak seperti Indra yang dingin dan kaku yang selalu menuntut kesempurnaan dalam setiap pekerjaan yang di pegang Melati.


Dalam hatinya diam-diam Melati mulai bertanya-tanya kenapa dulu Marisa lebih memilih Indra daripada Andro? Kalau memang dulu Marisa adalah kekasih Andro, apa kira-kiranya yang membuat Marisa sampai berpaling?


Hari itu adalah hari adalah hari ke tujuh kelahiran bayi Marisa. Melati belum sempat berkunjung ke rumah sakit maupun ke kediaman keluarga Perdana untuk melihat bayi Marisa. Maka hari itu Melati berinisial untuk pergi berkunjung kesana sepulang dari kantor.


"Pak Andro" sapa Melati saat dilihatnya Andro agak santai karena tidak sedang sibuk dengan HP maupun laptopnya. Sang CEO ganteng sedang duduk bersandar di kursi kerjanya sambil meminum secangkir kopi.


Andro melirik kearah Melati seraya menaikan sebelah alisnya, "Ya, ada apa?" tanyanya.


"Ya ampun, tampan nya..." batin Melati yang kagum melihat ketampanan sang atasan, tapi segera di kuasainya perasaan kagum itu dengan mencoba bersikap profesional. "Apakah di rumah Bapak masih banyak tamu yang datang untuk melihat bayi Bu Marisa?" tanyanya.


"Masih ada beberapa, tapi sudah tidak terlalu banyak. Ya ada beberapa lah. Memangnya kenapa?" Andro balik bertanya.


"Saya belum berkunjung untuk menjenguk Bu Marisa dan bayinya. Saya malu kalau kesana kemarin-kemarin karena pasti masih banyak tamu penting yang datang"


"Ya memang banyak sekali klien bisnis yang datang ke rumah, juga kerabat dekat"


"Bagaimana kalau sore ini sepulang dari kantor saya datang ke rumah Bapak?"


"Hm... Boleh, kamu bisa ikut dengan mobil saya"


"Tidak usah, Pak Andro. Saya biar naik taksi online saja" Melati menggeleng sopan.


"Gak apa-apa, kita bareng saja. Kan bisa lebih cepat dan irit ongkos juga. Hehehe"


"Tapi kan saya belum beli hadiah untuk bayinya Bu Marisa. Saya mau mampir dulu ke pusat perbelanjaan untuk beli kado"


"Ya gak apa-apa, saya antar sekalian"


Melati terlihat kaget. "Apakah tidak merepotkan Anda?"


"Sama sekali tidak, saya juga belum beli kado untuk keponakan saya itu. Kita berdua bisa beli kado bersama. Jadi bisa saling sharing kado apa yang bagus"


Dada Melati berdebar-debar saat mendengar Andro menyebutkan kata "kita berdua"


"Bagaimana?" tanya Andro.


Melati segera menganggukkan kepalanya. "Baiklah kalau begitu, makasih ya Pak Andro"


"Iya sama-sama, melati"


"Bayinya Bu Marisa dan Pak Indra laki-laki kan?"

__ADS_1


"Iya, namanya Syailendra Putra Perdana"


"Namanya bagus sekali!"


"Iya, bayinya juga sangat lucu dan tampan! Saya jadi ingin segera memiliki anak juga"


"Kalau begitu segera cari istri dong, Pak"


"Belum ada yang cocok"


"Pasti Pak Andro mencari wanita yang sempurna!"


"Tidak seperti itu juga kok!"


Sepulang dari kantor, Andro pun pergi bersama dengan Melati ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli kado. Mereka asyik memilih-milih hadiah untuk Baby Syailendra. Tak terasa mereka jadi semakin akrab satu sama lain.


Akhirnya Andro membeli sebuah Baby Walker sementara Melati membeli buaian. Saat membayar di kasir, Andro membayar juga hadiah yang di beli oleh Melati dengan menggunakan kartu ATM nya.


"Ini sekalian saja pake kartu ATM saya" kata Andro.


"Oh ya, makasih Pak" kata Melati.


Saat mereka kembali berada dalam mobil, Melati pun membuka dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan untuk di serahkan kepada Andro.


Andro tersenyum dan mulai menjalankan mobilnya. "Sudah, gak usah di ganti. Biar saya yang traktir"


"Lho kok begitu?! Kan itu hadiah saya" Melati bingung.


"Ya gak apa-apa dong. Sesekali saya traktir kamu. Anggap saja itu bonus dari saya karena selama satu minggu ini kamu sudah membantu saya bekerja"


"Saya jadi malu, Pak Andro. Saya udah nebeng mobil Bapak, eh di bayarin juga hadiahnya!"


"Hahaha. Kami ini seperti orang lain saja! Kamu tenang saja! Saya tidak akan bilang kepada Indra dan Marisa kalau hadiah dari kamu itu saya yang bayar!"


Melati jadi tersipu malu.


Pukul enam, Melati dan Andro pun sampai di kediaman keluarga Perdana. Mama Renata senang sekali melihat kedatangan Melati.


Waktu Magrib sudah tiba, Melati ikut menunaikan shalat Maghrib dulu di mushola yang berada di lantai satu bersama Mama Renata dan beberapa asisten rumah tangga. Setelah itu Melati segera menemui Marisa di lantai atas. Saat itu Marisa sedang menyusui Baby Syailendra dengan di temani Indra.


Marisa senang sekali melihat kedatangan Melati. Mereka pun jadi asyik mengobrol. Indra segera meninggalkan kamar itu karena ingin membiarkan Marisa dan Melati ngobrol bersama.


Marisa menceritakan bagaimana dia melahirkan Baby Syailendra dengan cara normal. Melati pun mendengarkan dengan penuh antusias.

__ADS_1


Melati juga belajar menggendong Baby Syailendra yang tertidur setelah kenyang menyusu. Melati mengayun-ayun Baby Syailendra dengan penuh kasih sayang. Matanya memandang takjub pada mahluk kecil tampan yang berada dalam dekapannya.


"Masya Allah gantengnya... Benar kata Pak Andro, kalau melihat Baby Syailendra jadi ingin segera punya anak juga" kata Melati.


"Nah! Bagaimana kalau kamu sama Andro menikah dan kalian bisa segera memberikan adik buat Baby Syailendra!" goda Marisa.


Wajah Melati seketika itu juga langsung memerah. "Ah, Bu Marisa bisa saja!"


"Kenapa? Kamu tidak tertarik pada Andro? Kalian berdua cocok sekali!"


"Pak Andro yang mana mungkin tertarik pada saya"


"Lho, kenapa tidak mungkin? Kamu kan cantik! Aku berharap hal itu bisa terjadi! Pasti seru kalau kita berdua jadi saudara"


Melati hanya tersenyum.


"Ayo sekarang simpan Baby Syailendra-nya. Jangan di gendong terus! Nanti jadi kebiasaan!" kata Marisa.


"Oh ya? Apakah bisa jadi kebiasaan?" tanya Melati.


"Kalau kata orang Sunda, bayi jangan di biarkan tidur di gendongan. Nanti jadi bau tangan"


"Nanti kita jadi gak bisa ngapa-ngapain ya"


"Iya"


Melati pun perlahan membaringkan Baby Syailendra di tempat tidurnya lalu menyelimutinya. "Cup cup cup, Sayang. Bobo yang nyenyak ya"


Saat itulah Mama datang bersama Marni dan melihat kalau Baby Syailendra sudah tertidur.


"Marisa, Melati. Ayo kita turun dan makan malam dulu! Baby Syailendra sudah bobo kan?" kata Mama.


"Ya Mam. Ini baru aja bobo" kata Marisa.


"Ya sudah sekarang kita makan. Biar Baby Syailendra di jaga dulu sama Marni"


"Saya jadi malu, Bu. Kok jadi ikutan makan malam" kata Melati.


Mama memegang lengan Melati. "Tidak apa-apa, Melati. Saya senang kok kamu bisa ikutan makan malam. Apalagi tadi saya lihat kamu datang sama Andro! Kalian berdua cocok sekali!"


"Ah, Ibu bisa saja" Melati merasa malu sekali.


"Tuh kan, aku bilang juga apa?! Kamu cocok sama Andro!" kata Marisa.

__ADS_1


__ADS_2