My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 103 : Semuanya Terasa Kosong Kembali


__ADS_3

Seperti mimpi rasanya saat Marisa makan siang bersama Indra di restoran seafood yang biasanya Marisa datangi bersama Andro. Marisa kini menyadari kalau dia merasa sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan Indra.


Sama halnya dengan Indra, dia juga merasa tidak percaya kalau saat ini dia sedang bersama Marisa di restoran seafood yang biasanya Indra datangi bersama Sofie. Indra bahkan mengira kalau dia tidak akan bisa bertemu lagi dengan Marisa.


"Kamu apa kabar, Marisa?" tanya Indra di sela-sela suapannya.


"Alhamdulillah baik, Anda sendiri bagaimana?" Marisa balik bertanya.


"Saya baik-baik saja! Memangnya kamu pikir saya galau karena kepergian kamu?!" Indra jadi sewot!


"Lho kok mendadak ketus sih? Saya kan tidak berpikir begitu!" kata Marisa.


"Mungkin saja kamu berpikir begitu! Saya hanya merasa tidak ada semangat saat-saat ini" Indra malah jaim. Padahal begitu kelimpungan nya dia selama beberapa hari ini karena merasa kehilangan Marisa.


"Tadi Anda bilang kalau Anda sangat merindukan saya?" goda Marisa seraya tersenyum geli.


Indra melongo. Dalam hatinya membatin. "Cantik sekali kamu, Marisa!"


"Lho kok diam?!" tanya Marisa.


"Saya cuma bingung, apakah saya benar-benar mengucapkan kata-kata itu?! Pasti kamu salah paham! Saya merindukan kinerja kamu! Bukan sosok kamu! Kamu jangan gede rasa ya!" kata Indra masih dengan nada ketus nya!


"Oh begitu... Saya pikir Anda benar-benar merindukan saya"


Diam-diam Indra jadi kesal pada dirinya sendiri! Kenapa masih harus berpura-pura?! Apa susahnya berkata jujur kalau dia sangat merindukan Marisa?!


Indra melihat bagaimana Marisa makan pelan-pelan. Indra juga ingat bagaimana Marisa biasanya makan dengan lahap.


"Kenapa kamu makan pelan-pelan begitu?! Biasanya kan kamu makan seperti orang yang sudah seminggu tidak bertemu dengan makanan?!" tanya Indra.


"Kan kata Anda kalau saya ini makan seperti orang yang tidak punya etika. Saya masih ingat bagaimana Anda menghina saya saat bertelepon ria dengan Bu Sofie. Jadi saya merubah cara makan saya agar tidak malu-maluin!" jawab Marisa.


"Kamu masih dendam dengan masalah itu?"


"Tidak, saya justru berterima kasih karena akibat dari penghinaan itu, saya sekarang lebih mengetahui cara makan yang beretika"


"Makan saja yang banyak! Kamu kan sudah menang tender proyek besar hari ini. Saya akan bayar berapapun harga makanan yang kami makan. Anggap saja ini bonus dari saya"


Mereka pun melanjutkan makan siang itu dengan nikmat.


"Pak Indra... Bolehkah saya menanyakan sesuatu?" Kata Marisa tiba-tiba.


"Apa?" tanya Indra seraya menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Bu Sofie? Apakah Anda sudah berbaikan dengan dia?"


Indra menatap Marisa dengan tatapan kurang senang. "Saya dan Sofie sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi!"


"Bu Sofie sakit, Pak"


"Saya tahu dan itu bukan urusan saya lagi!"


"Kalau Kayla bagaimana? Apakah Anda masih berhubungan dengan dia?"


"Tidak ada! Sejak awal saya memang tidak ada hubungan apa-apa dengan Kayla!"


"Tidak ada hubungan bagaimana?! Setiap hari Anda memesrai Kayla di hadapan saya!"


"Kapan? Saya tidak ingat!"


"Ih! Dasar nyebelin!"


"Apa katamu kamu?! Saya nyebelin?! Kamu tuh yang nyebelin! Pergi dari Perdana Enterprise dengan tiba-tiba padahal sedang banyak proyek besar yang sedang saya tangani dan semua itu mengandalkan kamu! Nah! Saya tahu sekarang! Kamu pergi dari Perdana Enterprise karena cemburu melihat saya dan Kayla! Iya kan?! Dasar anak kecil! Kalau cemburu bilang saja! Bukannya pergi tiba-tiba!"


"Siapa yang cemburu?! Enak saja!"


"Lalu kenapa kamu pergi dari Perdana Enterprise?! Masa PKL kamu sampai esok hari, Marisa. Apakah kamu ingin rekomendasi bagus dari perusahaan saya?"


"Karena kamu pergi secara tiba-tiba, maka saya tidak mau memberikan nilai bagus untuk PKL kamu!"


"Lho kok begitu?! Saya tadi kan sudah memenangkan tender proyek besar dengan pihak Setiawan Group!"


"Kalau masalah tender seperti itu, saya juga bisa menanganinya. Hanya saja kebetulan saya kesiangan sampai di kantor tadi"


"Kenapa Anda bisa kesiangan? Tidak biasanya..."


"Saya pergi ke bar tadi malam"


"Bar itu apa Pak?"


"Dasar wanita kampung! Kamu tidak tahu bar?! Tempat minum-minum!"


"Dimana lokasi nya?"


"Dekat apartemen saya yang di Jakarta Selatan.


"Oh... Jadi bar itu tempat maksiat ya?"

__ADS_1


Indra mengangkat bahunya. "Jangan sok suci, kamu!"


Makan siang berlanjut kembali. Marisa makan dengan lahap, sementara Indra makan sambil tidak hentinya memandangi wajah cantik Marisa. Seolah Indra takut kalau tidak akan bisa melihat wajah Marisa lagi.


"Pak Indra, kalau begitu saya mohon pamit dahulu. Saya sudah kenyang. Terima kasih atas traktiran nya" kata Marisa pamit.


"Kenapa kamu terburu-buru?" Indra kecewa sekali.


"Kan saya bilang saya sudah kenyang"


"Kamu tidak akan kembali ke kantor?"


"Tidak. Oh ya, soal metting tadi dengan pihak Setiawan Group saya sudah mengcopy semua hasilnya kedalam laptop kantor. Jadi Anda tinggal memeriksanya saja"


"Baiklah kalau begitu. Silahkan pergi dan terima kasih atas kedatangan kamu hari ini"


"Saya berharap kalau Anda mau memberikan nilai bagus untuk PKL saya"


"Berdoalah!"


Marisa tersenyum kecut. "Saya setiap malam berdoa untuk kelulusan saya"


"Semoga Tuhan mengabulkan doa kamu"


"Amin..." Marisa meninggalkan Indra di resto seafood itu sendirian.


Sepeninggal Marisa justru Indra merasa dunia nya kembali kosong! Padahal baru saja Indra merasakan kebahagiaan saat bersama Marisa walaupun itu cuma sebatas makan siang.


"Kenapa hati saya terasa kosong dan hampa lagi? Saya tidak ingin kembali ke kantor! Padahal ada hasil metting bersama Pak Setiawan yang harus saya periksa! Ada apa sebenarnya dengan perasaan ini?! Saya merasa sangat lelah dan tersiksa!"


Dan pada akhirnya Indra pun tidak kembali ke kantor, dia kembali ke bar. Bar tempat Indra minum-minum selama beberapa hari ini. Tempat dimana Indra mendapatkan ketenangan semu. Tempat yang hanya memberikan kesenangan sesaat.


Karena pada akhirnya setiap Indra pulang ke rumah ataupun ke apartemennya, perasaan kehilangan Marisa pun kembali mendera dan terasa menyesakkan dada.


Semuanya kembali terasa kosong...


Sama halnya dengan Indra, Marisa juga merasa sangat kehilangan Indra setelah dia kembali ke kosannya. Padahal tadi semuanya terasa sangat indah walaupun hanyalah bicara hal yang sama penting sambil makan siang.


Betapa kuatnya perasaan kehilangan ini. Bahkan lebih terasa menyakitkan dari pada saat kehilangan Fero dulu...


Kini semuanya kembali terasa kosong...


.

__ADS_1


__ADS_2