
Fero adalah cowok pertama yang bisa membuat Marisa jatuh cinta. Wajahnya yang tampan, postur tinggi tegap dan kulitnya yang bersih menambah kebanggaan pada siapapun gadis yang bisa jadi kekasihnya.
Marisa adalah gadis beruntung yang bisa mendapatkan cinta Fero. Berawal dari saling follow Instagram masing-masing dan berujung ke pertemuan yang saling menautkan hati keduanya.
Sore ini sepulang Marisa bekerja dan Fero menjemputnya, mereka menghabiskan waktu dengan jalan-jalan ke mall untuk membeli make up untuk Marisa dan diakhiri dengan makan malam berdua di warteg pinggir jalan favorit Marisa yang tidak jauh dari kos-annya.
"Buat apa sih tadi kita beli make up sebanyak itu, Fer?" tanya Marisa.
"Kan kamu udah jadi wanita karir! Kamu harus dandan setiap hari biar kelihatan cantik!" jawab Fero.
"Kamu juga beliin aku banyak setelan kantoran,"
"Kan kamu sekarang jadi asisten pribadinya CEO. Kamu nanti akan banyak ikut metting sama dia. Kamu harus selalu tampak cantik."
"Emangnya aku selama ini gak cantik, ya?" goda Marisa.
Fero membelai pipi Marisa. "Kamu selama ini sangat cantik! Paling cantik malahan! Tapi cantiknya ya, gaya cantik anak kuliahan. Nah, selama tiga bulan kedepan kan kamu jadi wanita karir. Kamu harus merubah style kamu menjadi cantiknya wanita karir!"
"Kamu gak apa-apa menghabiskan banyak uang buat aku?"
"Ya gak papa dong, sayang! Yang penting saat kamu nanti bersama CEO kamu itu, kamu jangan lupa sama aku!"
Marisa menggenggam tangan Fero erat. "Aku gak akan lupa sama kamu, Fer! Seganteng apapun CEO ku itu!"
"Oh, jadi CEO kamu itu ganteng?" Fero cemberut.
"Ganteng sih..." jawab Marisa jujur. "Tapi ganteng kamu kok!"
"Serius?!"
"Serius! Lagipula dia udah terlalu dewasa dan udah punya tunangan juga! Pokoknya kamu lebih ganteng! Swear deh!" Marisa acungkan dua telunjuknya.
"Kamu juga lebih cantik dari semua artis yang pernah aku lihat di lokasi shooting!"
"Kalau aku jadi artis gimana?"
"Susah Marisa! Jadi artis yang terkenal di zaman sekarang ini butuh sensasi! Kalau kamu mau pacaran settingan sama Bily Saputra sih..." goda Fero.
"Ih! Ogah!" Marisa cemberut lalu mencubit pinggang Fero.
__ADS_1
Marisa merasa bahagia sekali malam ini. Rasa kesalnya akibat pengalaman pertama bekerja di Perdana Enterprise hari ini langsung hilang dengan adanya Fero.
Pukul 9 malam Marisa di antar Fero pulang ke kos-an dengan motornya. Kos-an Marisa berada di dalam gang yang jarak satu rumah dengan rumah yang lainnya hanya sejengkal saja.
Banyak sekali tetangga julid di lingkungan kos-an Marisa. Salah satunya adalah Mbak Niki yang adalah janda anak dua tapi berpakaian layaknya anak ABG. Mbak Niki ini adalah tetangga Marisa yang paling julid. Sering sekali dia menyindir nyinyir Marisa kalau ada Fero datang ke kos-an Marisa.
"Aduh! Malam-malam gini baru pulang! Dari mana aja Neng?!" sindir Mbak Niki.
"Hari ini pertama aku PKL di kantor, Mbak!" jawab Marisa seraya membuka pintu kos-annya.
"Malem banget pulangnya, kantor apaan?!" tanya Mbak Niki nyinyir.
"Pulangnya jam empat sore kok!" Marisa mencoba tidak terpancing emosi.
"Pulang kerja langsung kencan?! Apa gak mandi dulu?! Gak bau apa tuh ketek?!" Mbak Niki makin nyinyir.
"Pacar saya yang cantik ini selalu wangi walaupun belum mandi kok, Mbak!" kali ini Fero yang menjawab.
"Dasar orang lagi jatuh cinta! Bau ketek juga serasa wangi vanilla!"
"Udahlah, Fer! Ayo masuk!" Marisa segera menarik tangan Fero ke dalam kos-an.
"Antepin aja! Dia emang gitu! Kamu tunggu disini, oke? Aku buatin kopi dulu!"
"Okelah!"
Marisa hendak menuju dapur tapi Fero merangkul pinggangnya dan mencium bibirnya terlebih dahulu.
"Gerah, Fer! Aku belum mandi!" Marisa mendorong pelan dada Fero sehingga ciumannya terlepas.
"Ya udah, jangan lama-lama ya!"
Marisa membuatkan secangkir kopi untuk Fero dan pergi mandi. Sementara Fero duduk di karpet sambil menonton TV. Acara malam itu adalah Ikatan Cinta.
Kos-an Marisa kecil. Hanya terdiri dari satu kamar, ruang tamu kecil, dapur kecil dan WC. Sementara Gery nge-kos di samping kos-an Marisa.
Sebenarnya Gery dan Marisa bisa saja tinggal di kos-an berdua. Marisa bisa tidur dikamar dan Gery di ruang tamu. Tapi pasti jadi fitnah! Apalagi Mbak Niki yang julid itu!
Tak lama Marisa selesai mandi dan duduk bersama Fero sambil ngemil cokelat. Fero memang biasa ngapel sampai jam 10 malam.
__ADS_1
Ya begitulah gaya pacaran Marisa dan Fero. Jalan-jalan, makan, lalu pulang dan ngopi bareng. Gaya pacaran anak kuliahan.
"Bagaimana ya, gaya pacaran CEO Indra Perdana bersama tunangannya itu?! Pasti banyaknya diem-dieman! Atau makan malam formil bersama klien! Gak ada asyik-asyiknya! Mana tampang Pak Indra jutek! Kok ada yang mau tunangan sama batu kayak dia, ya?!" pikir Marisa-tapi tiba-tiba hatinya serasa mencelos. "Kenapa aku jadi memikirkan gaya pacaran dia?!"
Lamunan Marisa terhenti saat Fero mulai merangkulnya dan menekan bibir Marisa dengan bibirnya sendiri dengan perlahan. Marisa pun larut dalam ciuman Fero yang hangat, manis, dan lembut!
'Klek!'
Tiba-tiba pintu terbuka dan muncullah Mbak Niki! Ciuman Marisa dan Fero pun terlepas!
"Masya Allah!" seru Mbak Niki keras dengan terkejut berlebihan!
Terlihat sekali wajah Fero yang dongkol karena acara ciumannya jadi terganggu! Apalagi wajah Marisa yang merah karena malu kepergok ciuman oleh tetangga!
"Ada apa sih, Mbak?! Bisa sopan gak sih?! Masuk rumah orang apa gak bisa ngucapin Assalamu'alaikum dulu?!" tanya Marisa dongkol.
"Ya gua mana tahu kalau elu lagi ciuman!" jawab Mbak Niki asal.
Fero tampak semakin kesal! "Mbak sengaja, ya ganggu saya sama Marisa pacaran?!" tanyanya gusar.
"Yaelah! Gua cuma mau minta garem! Anak-anak mau goreng telor kebeneran garemnya abis! Bukan mau ganggu elu berdua! Lagian kalau mao pacaran bebas mah mendingan bawa masuk ke kamar! Kan bebas mau ngapain juga!" Kenyinyiran Mbak Niki semakin menjadi-jadi.
"Kita gak pacaran bebas kayak gitu kok, Mbak!" sela Marisa.
"Alah, gak usah munafik, Neng! Zaman sekarang mah pacaran udah kayak suami istri! Tadi juga gua liat ciumannya udah panas tuh! Kalau gua gak dateng mungkin udah terjadi sesuatu yang diluar batas!"
"Bisa jaga mulut gak sih, Mbak?! Bukannya Mbak tadi minta garem?! Saya ambilin dulu!" Marisa bergegas ke dapur dan mengambil garam. "Nih!" Marisa menyodorkan garam beserta tempatnya.
"Ada kertas gak?! Gua minta dikit aja!"
"Gak ada! Bawa aja sana sama tempatnya!"
"Tempatnya bagus nih! Lumayan buat wadah ikan teri atau bawang goreng! Gua kembaliin gak nih tempatnya?"
"Gak usah! Ambil aja sekalian tempatnya buat Mbak!"
"Ya udah! Gua bawa ya!"
"Iya, bawa sana dan segera pulang!" kaa Fero dongkol.
__ADS_1
Mbak Niki segera keluar dari kos-an Marisa. Namun dasar memang julid, dia sempat melirik kembali ke arah Marisa dan Fero lalu berkata, "Ngapelnya jangan kemaleman! Awas nanti di gerebek ronda!"