My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 139 : Tangis Tanpa Suara


__ADS_3

Andro mengantarkan Marisa sampai ke depan gang kosannya. "Sudah sampai" kata Andro.


"Ya, terima kasih sudah mengantarkan saya sampai disini" kata Marisa.


"Sama-sama"


Marisa melepaskan sabuk pengaman yang dipakainya, tapi Marisa tidak segera membuka pintu mobil. Marisa merasa ini adalah saat yang tepat untuk meminta maaf kepada Andro. Mumpung mereka sedang bersama dan tidak ada Indra.


"Andro..." panggil Marisa dengan lidah yang kelu dan dada berdebar kencang.


"Ya?" kata Andro singkat. Berusaha terlihat tenang walaupun dalam hatinya merasakan kehancuran.


"Saya... Saya mau minta maaf..." kata Marisa dengan menguatkan hatinya karena merasa tidak pantas untuk mengatakan hal itu setelah apa yang terjadi antara mereka berdua.


"Minta maaf?" Andro menaikan sebelah alisnya. "Minta maaf untuk apa?"


"Saya minta maaf karena tidak bisa menjemput kamu saat kamu pulang ke Indonesia"


Andro tersenyum pahit. Teringat penantiannya yang sia-sia di bandara internasional Soekarno-Hatta malam itu. "Tidak apa-apa, saya tidak terlalu merasa sedih. Malam itu ada Gery yang menjemput saya untuk menggantikan kamu"


"Gery?"


"Ya, Gery khawatir kalau saya akan sendirian karena kamu mungkin tidak datang untuk menjemput saya, ternyata kamu memang tidak datang. Semenyedihkan itu saya..."


"Maaf..."


"Kamu tidak bersalah, kamu kan sedang bersama Indra saat itu. Saya tahu Indra pasti telah melarang kamu untuk menemui saya. Saya juga tahu seperti apa Indra kalau sudah bilang tidak boleh"


"Ya, selain itu juga jarak saya terlalu jauh untuk datang ke Jakarta menjemput kamu. Saya sedang berada di puncak Bogor malam itu"


"Oh ya?" Andro menatap curiga pada Marisa.


"Ya, tapi kamu jangan berpikir yang buruk dulu tentang saya dan Indra! Kami tidak sedang berlibur atau berduaan!" Marisa segera menjelaskan agar Andro tidak berpikir aneh-aneh. "Indra sedang sakit parah saat itu. Saya tidak mungkin meninggalkan Indra seorang diri. Indra juga tidak mau Mama tahu masalah apa yang tengah menimpanya saat itu. Jadi Indra membawa saya kesana untuk merawatnya sampai dia sembuh!"


"Indra sakit?"


"Ya, Indra mengalami luka-luka yang parah setelah ada seseorang yang menganiayanya"

__ADS_1


"Tunggu dulu, kamu bilang Indra? Sejak kapan kamu memanggil Indra dengan panggilan seperti itu? Bukankah kamu memanggilnya dengan panggilan Pak Indra?"


Marisa merasa semakin serba salah. "Indra yang meminta saya untuk memanggil namanya saja"


"Kamu sudah sedekat itu dengan Indra?"


"Maafkan saya..."


"Ya, sudahlah. Sekarang kamu masuk ke rumah dan istirahat"


Marisa merasa tidak enak hati jika harus menawarkan Andro untuk sekedar mampir, tapi kalau tidak menawarkan juga tidak mungkin. Itu sudah menjadi satu kebiasaan sewaktu mereka bersama.


"Mau mampir dulu ke rumah?" tawar Marisa. Tentunya ini adalah sebuah basa-basi. Tapi diluar dugaan Andro malah menyetujui ajakan Marisa untuk mampir ke kosannya.


"Baik, saya akan mampir sebentar. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan juga dengan kamu" kata Andro.


Marisa mengangguk dan turun duluan dari mobil Andro. Saat itu kebetulan ada Gery didepan rumahnya yang langsung terlihat melenggak kaget saat melihat Marisa datang bersama Andro.


Gery segera menghampiri Marisa dan Andro yang baru sampai di depan teras kosan Marisa.


"Marisa!" panggil Gery dengan tatapan kurang bersahabat.


"Beneran ya kamu ini! Tidak datang menjemput Pak Andro ke bandara! Udah gitu gak bisa di hubungi! Kemana saja kamu?!" Gery langsung menegur Marisa dengan keras!


"Ger... Kamu jangan marah-marah begitu sama aku..." mata Marisa kini berkaca-kaca.


"Gimana aku gak marah? Kamu udah gak bisa di bilangin! Kamu sudah gak nganggap aku sebagai sahabat lagi!" Gery tetap berkata dengan nada keras!


"St...! Sudah, Gery! Biarkan Marisa istirahat dulu!" kata Andro.


Gery menggerutu tak jelas dan kemudian pergi dari hadapan Marisa, sementara Marisa menyeka air matanya dan langsung masuk kedalam rumah.


Marisa benar-benar merasa sedih atas sikap Gery kepadanya. Padahal saat itu Marisa sedang butuh seorang sahabat. Marisa tidak sanggup menahan perasaan bersalahnya seorang diri. Rasa bersalah kepada Andro dan Sofie. Tapi sahabat yang ingin di ajaknya bercerita justru malah bersikap keras!


Marisa mandi dengan tergesa-gesa dan segera memakai pakaian santai. Dilihatnya Andro sudah duduk di ruang depan. Marisa segera memasak air panas dan membuatkan segelas kopi untuk Andro.


"Minum dulu, Ndro" kata Marisa seraya meletakkan gelas kopi di hadapan Andro.

__ADS_1


"Makasih" kata Andro.


"Kamu bilang tadi ada sesuatu yang ingin di bicarakan dengan saya?"


"Ya"


"Silahkan kalau mau bicara. Tapi sebelumnya izinkan saya minta maaf..."


"Atas apa lagi?"


"Atas pilihan saya yang mungkin telah menyakiti hati kamu... Saya tidak bisa bersama kamu lagi... Saya harap kamu mau memaafkan saya..."


"Saya sudah tahu sedari awal kalau kamu memang belum mencintai saya. Saya awalnya berharap mungkin seiring berjalannya waktu kamu bisa perlahan mencintai saya. Tapi ternyata saya salah"


"Maaf... Saya tidak bisa mencintai kamu... Karena saya... Karena saya..." Marisa tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Karena kamu mencintai Indra Perdana?!" Andro melanjutkan kata-kata Marisa.


Marisa tidak sanggup lagi menahan isakan nya, air mata mengalir deras laksana air sungai yang mengalir ke muara. Suara isakan nya terdengar sangat menyedihkan.


Dan Andro tidak sanggup melihat Marisa menangis. Andro tidak bisa berdusta. Dia masih mencintai Marisa, sangat mencintai gadis itu!


Andro merangkul bahu Marisa dan membelai-belai rambutnya yang panjang. "St...! Sudah! Jangan menangis!" bisik Andro.


"Maafkan saya..." bisik Marisa lirih.


"Iya, saya memaafkan kamu. Saya tidak menyalahkan kamu. Saya yang salah! Semua ini adalah salah saya! Saya bersalah karena saya tidak mampu membuat kamu untuk mencintai saya..." Andro ikut berkata lirih penuh kepedihan.


"Mulai sekarang kamu harus kuat! Saya mintalah kamu jangan pernah menangis lagi! Karena saya paling tidak bisa melihat kamu menangis! Berjanjilah pada saya kalau kamu tidak akan pernah bersedih lagi! Agar saya bisa tenang melepaskan kamu..."


"Karena mulai sekarang, saya tidak akan pernah bisa memeluk kamu lagi. Saya tidak akan bisa menenangkan perasaan kamu jikalau kamu bersedih nanti. Saya sudah tidak berhak lagi"


"Indra sudah menjadi pilihan kamu. Saya harap kamu tidak menyesal dengan pilihan kamu itu!"


Andro tidak banyak bicara lagi. Andro meninggalkan Marisa seorang diri di kosannya walaupun dengan keadaan masih menangis.


Tanpa Marisa tahu, Andro juga sebenarnya menahan tangis! Tangis yang tanpa suara... Andro mati-matian menahan tangisannya agar jangan sampai meledak di hadapan Marisa. Untuk itu Andro sampai harus mengigit bibirnya kuat-kuat!

__ADS_1


Saat melangkah untuk masuk kedalam mobilnya, Andro terlebih dulu meludah ke tanah. Ludahnya merah bercampur dengan darah akibat gigitannya sendiri!


__ADS_2