
Marisa menggelengkan kepalanya. "Gak bisa dong, Mbak Niki! Mana mau yang punya kosan kalau daya listrik nya kita naikan?! Yang ada nanti bayar listrik jadi mahal!"
"Kan ada Pak Indra yang bayarin!" kata Mbak Niki.
Belum sempat Marisa menjawab, saat itu mobil mewah Indra memasuki gang dan berhenti di depan rumah Marisa. Indra tampak turun dari mobilnya dengan mengenakan jaket biru dan kacamata hitam yang membuat penampilannya lebih menawan dan lebih muda.
"Selamat siang, Sayang" sapa Indra dan memberi kecupan lembut di pipi Marisa.
Mau tak mau hati Marisa yang tadinya sudah kesal jadi luruh juga. "Selamat siang"
"Maaf saya tidak menjemput kamu kuliah. Dari kemarin saya sibuk sekali"
"Tidak masalah"
Indra memperhatikan barang-barang pesanannya yang sudah tiba dan berjajar rapi di teras rumah Marisa. "Paketnya sudah datang" kata Indra.
"Ya, baru saja. Makasih ya" kata Marisa. Kali ini Marisa segera mengucapkan terima kasih karena takut Indra marah lagi seperti saat kejadian buket bunga mawar merah.
"Kamu suka?" tanya Indra.
"Sangat suka sekali! Tapi masalahnya saya tidak tahu mau menyimpannya dimana?!"
"Ya didalam rumah kamu!"
"Masalahnya saya tidak punya lemari TV untuk ukuran TV besar. Saya juga bisa tidur pakai AC karena sudah memiliki kipas angin. Saya juga tidak mungkin menyimpan kulkas itu di dapur karena dapur saya sempit sekali!"
"Itu gampang! Keluaran saja semua barang-barang kamu yang lama dan kita ganti dengan yang baru! Lagi pula kan kamu ini calon istri saya! CEO utama di Perdana Enterprise! Masa kamu masih pakai barang-barang murahan dengan kualitas buruk begitu?! Semua barang-barang yang ada di rumah kamu itu sudah tidak layak pakai dan sudah harus masuk museum!"
"Hik hik hik!" Mbak Niki malah cekikikan mendengar kata-kata Indra.
Sementara Marisa hanya bisa menggeram kesal dalam hatinya karena tidak mau berdebat dengan Indra. "Tapi, Dra. Saya tidak mungkin memakai barang-barang pemberian kamu itu. Listrik di rumah saya hanya berdaya 450 kWh"
__ADS_1
"Apa?! Kecil sekali!"
"Ini kan kos-an!"
"Kalau begitu kamu pindah ke apartemen saya! Atau kamu pindah ke kosan mahal di daerah elit! Paling hanya berkisar antara 50 juta pertahun!"
"Mantap!" seru Mbak Niki! "Tuh Marisa! Tunggu apalagi?! Segera aja Lo pindah ke apartemen Pak Indra! Ngapain juga Lo terus tinggal disini?! Kalau Lo nanti butuh teman curhat, gua sama anak-anak siap otw nginep di apartemen Lo! Beneran!"
Marisa menggeleng. "Saya tidak bisa pindah dari sini"
"Lalu barang-barang ini bagaimana?" tanya Mbak Niki.
Marisa melirik ke arah Indra. "Kamu yang beli, kan? Menurut kamu harus di apakan semua barang-barang ini?"
"Ya kamu pindah saja dari sini! Lagipula disini terlalu sempit! Kumuh juga! Saya juga malas datang kesini kalau bukan ingin bertemu dengan kamu!"
Saat itulah Gery menghampiri Marisa dan ikut nimbrung dalam pembicaraan itu. "Udah, Mar. Kamu pindah aja dari sini. Tapi gak usah ke tempat yang terlalu mewah! Kalau gak salah di depan gang juga kan ada kontrakan yang lebih gede, lebih mewah, ada di pinggir jalan juga! Nah kamu pindah aja kesana! Aku sama Mbak Niki kan ada disini. Kami gak akan jauh dari kamu" usul Gery.
"Iya, daripada ini barang-barangnya jadi mubazir!" kata Mbak Niki.
Setelah lama menimbang-nimbang akhirnya Marisa setuju untuk pindah dari kos-annya ke rumah kontrakan yang lebih besar di pinggir jalan yang ada di sebelah gang masuk ke kos-an lamanya.
*******
Tiga bulan kemudian...
Hubungan Marisa dan Indra pun berjalan lancar dan sampai ke bulan ketiga. Indra sudah mulai belajar untuk menahan keinginan untuk mendapatkan tubuh Marisa sebelum waktunya. Walaupun terkadang Indra masih mencoba untuk menggoda Marisa tapi dia tidak pernah memaksa gadis itu untuk memberikan kegadisannya.
Pada bulan ketiga hubungan Indra dan Marisa, saat itu Marisa sedang menyusun sidang skripsi nya untuk proses akhir dari kuliahnya sebelum menyandang gelar sebagai sarjana.
Indra bersama Mama dan Andro datang ke rumah Marisa di Bogor dan melamar Marisa kepada Ayah dan Mama. Keluarga Marisa pun menerima lamaran Indra dengan senang hati tapi tetap menunda pernikahan sampai kuliah Marisa rampung.
__ADS_1
Akhirnya keputusan di ambil oleh Indra yaitu dia ingin mengikat Marisa dengan tali pertunangan lebih dulu sebelum nanti mereka menikah. Marisa pun menyetujui keputusan Indra karena berpikir tidak ada salahnya untuk bertunangan dengan Indra.
Selama tiga bulan menjalani hubungan dengan Indra membuat Marisa semakin yakin kalau Indra memang adalah pilihan yang tepat untuknya. Selain itu Marisa juga memang semakin cinta pada Indra.
Mama Renata pun mulai sibuk menyiapkan pertunangan untuk Marisa dan Indra. Dari mulai gaun, perhiasan untuk mengikat, dekorasi hingga catering di pilihkan oleh Mama Renata dengan kualitas yang terbaik.
Bahkan kali ini Indra ikut berpartisipasi dalam memilih semua keperluan untuk pertunangannya dengan Marisa. Jauh dengan sikap Indra saat bertunangan dengan Sofie yang masa bodoh dan terima beres tanpa mau terlibat sama sekali.
Tinggal Marisa yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat begitu mewahnya persiapan pertunangannya. Dalam hatinya ingin rasanya Marisa mengubah konsep pertunangannya menjadi lebih sederhana dan kekeluargaan tapi Marisa sadar kalau dia akan bertunangan dengan seorang CEO besar yang memiliki banyak relasi dan rekan bisnis.
Marisa sampai harus mengusap dadanya sendiri saat melihat besarnya pengeluaran yang di keluarkan oleh Indra untuk pertunangan mereka. Tapi sekali lagi Marisa sadar kalau uang miliaran rupiah yang saat ini di keluarkan oleh Indra adalah hal yang wajar untuk pertunangan seorang CEO besar.
Marisa sudah melihat gaun pertunangannya, contoh dekorasi dan catering, hingga cendramata yang akan di berikan kepada para tamu yang nanti hadir.
Marisa merasa benar-benar beruntung dan menjadi Cinderella di keluarga Perdana.
Puncaknya adalah saat Indra membuka sebuah kotak besar berisi seperangkat perhiasan emas putih bermata berlian saat mereka berdua sedang bersama di kontrakan Marisa.
Mata Marisa mengerjap dengan mulut setelah terbuka saat melihat bagaimana indahnya seperangkat perhiasan yang di perlihatkan oleh Indra.
"Indah sekali... Luar biasa..." desis Marisa dengan kekaguman luar biasa.
"Kamu suka?" tanya Indra.
Marisa mengangguk. "Mana mungkin ada wanita yang tidak suka dengan perhiasan seindah ini"
"Ini semua untuk kamu, Sayang. Untuk pengikat pertunangan kita"
"Sungguh?"
"Iya, saya khusus memesannya dari sebuah toko berlian ternama di Italia!"
__ADS_1