My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 204 : Persalinan Marisa


__ADS_3

Indra yang mendengar teriakan-teriakan Marisa. Segera keluar dari kamar mandi dan betapa kagetnya Indra saat melihat Marisa berdiri dengan wajah pucat. Indra juga melihat ada aliran bening menjalar di kedua kaki Marisa.


"Astaga, Marisa!" Indra tercekat dan segera mendekati Marisa. "Kamu keluaran, Marisa!"


Marisa mengangguk perlahan sambil mengigit bibirnya menahan rasa panik dan sakit. "Iya, Dra. Ketuban aku pecah!"


"Itu salah satu tanda persalinan kan?!"


"Iya..."


Indra mengusap perut Marisa, "Perutnya saki?"


"Mulai terasa mulas teratur..."


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Indra segera menggendong tubuh Marisa dan membawanya keluar kamar. Di turuni nya tangga sambil masih menggendong Marisa.


"Pak Indra, Bu Marisa kenapa?" tanya Marni salah satu asisten rumah tangga di kediaman keluarga Perdana yang kaget melihat bagaimana Indra menuruni tangga.


"Kamu tolong ambilkan tas besar yang ada di kamar saya! Saya akan membawa Bu Marisa ke rumah sakit! Bu Marisa mau melahirkan!"


"Baik, Pak!" Marni segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Indra.


Andro yang ada di ruang makan pun segera menghampiri Indra bersama Mama. Keduanya ikut kaget melihat bagaimana cara dalam gendongan Indra dan tampak kesakitan. Marisa meringis dan sesekali mengeluarkan hembusan nafas melalui mulut nya.


"Marisa, Sayang! Kamu mulas? Apakah kamu mau melahirkan?" tanya Mama panik.


Marisa hanya bisa mengangguk.


"Iya, Mam. Marisa sudah merasakan mulas teratur dan sepertinya ketuban nya juga pecah" kata Indra.


"Ya Allah! Ayo segera kita ke rumah sakit, Dra! Mama siap-siap dulu!"


"Iya, Mam" Indra kini melirik Andro "Dro, tolong panasin mobil!"


"Iya, sebentar" Andro segera menuju garasi dan memanaskan mobil Indra. Tak lama kemudian Indra sudah membawa Marisa dan memasukkannya kedalam mobil di bagian belakang, Mama juga sudah siap dan ikut duduk di sebelah Marisa. Kemudian Marni datang dengan membawa tas besar yang berisi peralatan bayi untuk dibawa ke rumah sakit.


"Saya ikut, Pak?" tanya Marni.


"Gak usah, nanti malah bikin repot saja! Masukan saja tas nya ke bagasi! Kalau saya membutuhkan kamu, saya akan menelepon ke rumah!" jawab Indra.

__ADS_1


"Baik, Pak" Marni segera memasukkan tas besar yang di bawanya kedalam bagasi.


"Saya bagaimana? Saya ikut ke rumah sakit atau ke kantor saja?" tanya Andro.


"Kamu ke kantor saja. Biar Mama yang ikut dengan saya" jawab Indra.


"Oke"


"Ada metting siang ini dengan klien dari Surabaya. Kamu gantikan saya, agendanya ada pada melati"


"Oke, kamu hati-hati ya"


"Ya, saya berangkat dulu"


Andro mencium tangan Mama.


"Doain ya, Ndro. Biar Marisa segera lahiran dengan selamat" kata Mama.


"Iya, Mam. Pasti saya akan selalu mendoakan. Kabarin saya kalau ada apa-apa ya?!"


"Iya, Ndro"


Marisa mengangguk sambil berusaha tersenyum. " Amin... Makasih..."


"Kamu tenang saja, Dro! Saya akan selalu ada di samping Marisa dan mendampinginya dalam melahirkan anak saya! Kamu urus saja pekerjaan di kantor dan jangan terlalu memikirkan Marisa!" kata Indra agak sinis melihat bagaimana Andro memegang tangan Marisa.


Andro melepaskan pegangannya pada tangan Marisa dan menutup pintu mobil Indra. Mobil itu pun segera melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit.


Dalam perjalanan, Marisa merasakan bagaimana perutnya semakin terasa sakit. Di tarik nya nafas dalam-dalam dan di hembuskan melalui mulut untuk mengurangi rasa sakit. "Huh... Huh..."


"Sakit sekali ya, Sayang?! Sabar ya" kata Mama sambil memijiti punggung Marisa.


"Iya, Mam. Gak apa-apa. Saya kuat kok"


Indra mempercepat laju kendaraannya dan tibalah mereka di rumah sakit langganan keluarga. Marisa segera masuk kedalam kamar persalinan dan di periksa oleh dokter Febriani yang adalah dokter yang selama ini menangani kehamilannya dari bulan-bulan pertama.


"Sudah pembukaan Lima, Bu" kata dokter Febriani setelah memeriksa keadaan Marisa.


"Kapan istri saya akan melahirkan, dokter?" tanya Indra yang ikut kedalam ruang persalinan.

__ADS_1


"Mungkin sekitar tiga sampai empat jam lagi hingga pembukaannya lengkap, Pak"


"Saya akan menemani istri saya disini dan mendampingi nya sampai anak saya lahir!"


"Iya, Pak. Ada baiknya Anda menemani Bu Marisa agar Bu Marisa semangat"


"Perut saya sakit sekali, dokter" kata Marisa sambil terus meringis.


"Iya, Bu. Pasti akan terasa sakit. Karena itu proses pembukaan dalam persalinan normal. Kalau begitu saya tinggal dulu ya. Kalau ada apa-apa segera panggil suster" kata dokter Febriani.


"Makasih, dokter"


Waktu seolah berjalan dengan sangat lambat. Marisa melewati seluruh proses tahapan pembukaan dengan penuh kesabaran. Dengan terus berdoa dan menyebut nama Allah SWT sambil menahan rasa mulas hingga akhirnya Marisa berhasil mencapai pembukaan sepuluh.


Dokter Febriani sudah siap untuk membantu proses persalinan Marisa. Keringat dingin sebesar-besar biji jagung sudah memenuhi kening Marisa. Nafasnya sudah terengah-engah dan Marisa terus mencoba untuk mengikuti semua arahan dokter Febriani dalam mengejan dan mengatur nafas.


Indra sendiri sudah tidak sanggup melihat bagaimana Marisa yang sedang berjuang antara hidup dan mati dalam melahirkan anak mereka. Baju Indra sudah basah kuyup oleh keringat dingin. Indra berusaha tetap kuat dan memberikan semangat untuk Marisa. Di genggamnya tangan Marisa dan di kecup nya berulang kali kening Marisa.


"Ayo, Bu Marisa! Kepalanya sudah terlihat! Tarik nafas...! Hembusan...! Dorong! Ya! Terus dorong!" seru dokter Febriani.


"Ayo, Sayang! Yang kuat!!" bisik Indra di telinga Marisa.


"Bismillahirrahmanirrahim....! Engh.....!!!!!" dengan kekuatan penuh Marisa mengejan dan akhirnya sang bayi pun berhasil lahir ke dunia di iringi dengan suara tangisan keras yang membahana!


"Oek...!!! Oek...!!! Oek...!!!"


"Alhamdulillah..." ucap Marisa, Indra dan dokter Febriani dengan bersamaan.


"Selamat, Pak Indra dan Bu Marisa! Bayinya laki-laki!" dokter Febriani mengangkat bayi Marisa dan langsung di letakan di atas dada Marisa untuk inisiasi menyusui secara dini.


"Masya Allah..." ucap Indra dengan penuh takjub melihat bagaimana darah dagingnya telah berhasil di lahirkan dengan selamat.


Mata Marisa berkaca-kaca saat melihat bagaimana bayi nya bergerak-gerak di atas dadanya dan sedang mencari ****** susu ibunya. "Alhamdulillah ya Allah..." ucap nya.


"Makasih, Sayang! Kamu sudah berhasil melahirkan anak kita dengan selamat! Kamu hebat! Kamu seorang Ibu yang luar biasa!" bisik Indra sambil menciumi wajah Marisa.


"Iya, Dra... Aku bahagia sekali..."


"Bu Marisa. Bayinya kita bersihkan dulu ya, setelah itu Pak Indra boleh meng- Adzani nya" kata seorang perawat dan mengambil bayi Marisa untuk di bersihkan dan di beri pakaian.

__ADS_1


__ADS_2