
Marisa segera mengaktifkan kembali HP nya dengan menggunakan nomor baru. Nomor telepon pertama yang dihubungi nya adalah nomor Gery. Marisa mengabarkan kepada Gery tentang keadaannya saat itu yang sudah mendapatkan tempat tinggal baru.
Gery ikut senang mendengar kabar bahwa Marisa sudah ada di Cirebon bersama Herman dan Ina. "Alhamdulillah kalau begitu, Mar. Aku seneng karena ternyata ada orang yang akan menjaga kamu disana. Gak sangka ya ternyata Herman ada disana dan udah berkeluarga" kata Gery.
"Iya Ger. Alhamdulillah" kata Marisa.
"Padahal dulu kita sempet eneg banget ya sama Herman karena kelakuannya yang menyebalkan saat masih jadi supir pribadi Indra! Hahahaha!"
"Iya, Herman juga sudah mengakui bahwa dialah yang dulu memukuli Indra di Alexandre bar karena dia dendam kepada Indra yang telah membuat wajahnya cacat seumur hidup"
"Sebegitu parahnya kah?"
"Parah banget, Ger. Ngeri tapi kasihan"
"Memang keterlaluan Indra itu! Dia sih enak! Cuma di pukuli dan akhirnya malah justru mendapatkan kamu karena kamu bersedia merawatnya selama dia luka-luka. Aku bahkan ingat kalau kamu sampai tidak menjemput Andro di bandara! Aku yang menjemputnya hari itu karena kamu sedang bucin-bucinnya sama suami kamu itu!" Gery berkata dengan berapi-api dan membuat Marisa terdiam.
"Saat itulah Gery sadar kalau dia telah melukai perasaan Marisa karena telah mengungkit kesalahan Marisa di masa lalu.
"Mar, maaf aku kelepasan bicara seperti itu" kata Gery.
Marisa menghela nafas berat. "Gak apa-apa, Ger. Itu memang kenyataannya. Tapi aku tidak bisa memutar waktu kembali. Aku tidak mungkin kembali ke masa itu dan meninggalkan Indra yang sedang terluka untuk menjemput Andro. Aku terlalu naif! Aku pikir dengan semua ketulusan dan pengorbanan yang telah aku lakukan untuk Indra, dia akan menjadikan aku sebagai satu-satunya ratu dihatinya..."
"Bagaimana kalau memang kamu adalah satu-satunya ratu dihatinya? Mungkin si Melati itu cuma selingan aja. Apakah kamu mau memaafkan Indra kembali?"
"Untuk saat ini sepertinya mustahil, Ger. Aku sudah terlanjur sakit hati"
"Kamu menyesal telah menikah dengan Indra?"
__ADS_1
"Ya!"
"Kasihan kamu Marisa. Kamu kuliah tinggi-tinggi dan akhirnya malah harus hidup di desa terpencil dengan anak kamu yang masih bayi..."
"Mungkin sudah garis takdir yang harus aku jalani, Ger"
"Oya kapan kamu mau mengajak Lilis kesana? Kamu pasti butuh pengasuh untuk Syailendra kan? Apalagi kata Pak Henry, kamu akan bekerja sebagai TU di sebuah SMP plus disana?" Gery mengalihkan pembicaraan.
"Iya Ger. Aku akan segera menghubungi Lilis untuk meminta dia agar segera menyusul kesini"
"Biar nanti aku yang akan mengantar Lilis kesana sekalian melihat kediaman kamu yang baru dan juga nengok si Herman. Hehehe"
"Oke Ger! Siap!"
Setelah itu Marisa menghubungi orang tuanya melalui sambungan video call. Alangkah bahagianya Mama dan Ayah saat mendapat telepon dari Marisa dan mendengar kalau anak mereka itu baik-baik saja.
"Kamu dimana, Marisa?! Syailendra mana?! Kenapa pergi tanpa memberitahu Indra?!" tanya Mama.
"Maafkan aku, Mama dan Ayah. Aku memang sengaja tidak memberitahu Indra tentang kepergianku. Tapi aku dan Syailendra baik-baik saja. Kami ada di Cirebon" kata Marisa.
"Kenapa kamu pergi kesana?! Kita kan tidak ada saudara disana?! Kamu tinggal di rumah siapa?!" tanya Ayah khawatir.
"Aku tinggal disebuah rumah sewaan. Aku akan bekerja sebagai Staf TU di sebuah SMP disini" jawab Marisa.
"Kamu ada masalah apa dengan Indra?! Kemarin sewaktu Indra mencari kamu kesini, dia juga tidak bicara apapun tentang masalah yang sedang kalian hadapi" kata Mama.
Marisa pun menceritakan secara singkat tentang perselingkuhan yang telah Indra lakukan bersama Melati. Marisa juga menceritakan kalau dia pergi ke Cirebon atas bantuan Gery dan Henry.
__ADS_1
Mama dan Ayah pun menjadi berang setelah mendengar cerita Marisa. Mereka sangat kecewa karena Indra telah mengkhianati anak mereka yang baru dinikahi selama dua tahun!
"Keterlaluan sekali suami kamu itu, Marisa! Tega dia mengkhianati kamu saat kamu baru memberikan dia anak?!" geram Ayah!
"Mama juga dari awal memang tidak setuju kalau kamu segera menikah, Mar! Waktu itu kamu baru saja lulus kuliah dan jadi sarjana!" kata Mama.
"Maafkan aku, Mama dan Ayah..." kata Marisa sedih.
"Nah! Apa kataku waktu itu?! Aku kan sudah bilang kalau aku lebih suka kalau Kak Marisa memilih Kak Andro dibandingkan dengan Kak Indra!" kata Reno yang juga sedang berada di rumah saat itu.
"Iya, Andro lebih baik dan juga lebih tulus! Andro juga lebih memiliki sifat kekeluargaan! Kalau Indra mana?! Saat berada disini saja dia jarang mengobrol dengan kita!" kata Mama.
"Sudah-sudah! Sekarang kan Marisa sudah menikah dengan Indra dan itu adalah kenyataannya yang tidak bisa kita putar balik lagi!" kata Ayah menenangkan Mama dan Reno yang emosi. "Sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana agar Indra tidak bisa menemukan Marisa disana! Indra pasti akan kembali lagi kesini untuk mencari Marisa dan Syailendra!"
"Kita tidak boleh memberitahu Indra! Biar saja dia menyesali semua perbuatannya! Mama lebih baik Marisa berpisah dengan Indra daripada terus menanggung beban sakit hati terus-menerus!" kata Mama emosi!
"Kalau Kak Indra kesini lagi untuk mencari Kak Marisa, biar Reno bicara langsung dengan dia!" kata Reno juga dengan penuh emosi!
"Terima kasih, Mama dan Ayah juga kamu Reno. Kalian tetap berada bersama aku disaat aku terpuruk begini. Kalian tidak pernah meninggalkan aku" kata Marisa seraya berlinang air mata.
"Tentu saja, Marisa! Kamu ini keluarga kamu! Kami akan selalu ada untuk kamu! Kamu jangan takut! Kamu tidak sendirian!" kata Ayah.
"Kami selalu menyayangimu, Nak" kata Mama.
"Pokoknya Kak Marisa tenang saja selama berada disana! Jaga Syailendra baik-baik! Kalau keadaan sudah tenang, kami akan segera melihat keadaan kakak disana" kata Reno.
"Alhamdulillah... Terima kasih ya Allah... Kau telah berikan aku keluarga yang terbaik yang selalu menyayangiku..." batin Marisa penuh syukur.
__ADS_1