My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 132 : Telepon Dari Sofie


__ADS_3

Tiga hari berlalu dari semenjak kepulangan Andro dan dia masih belum bisa menghubungi Indra. Andro malah mendapatkan email dari Bella, sekretaris Indra di kantor bahwa Indra memintanya untuk memegang urusan kantor selama Indra izin untuk urusan pribadi.


Mau tidak mau Andro harus memegang urusan kantor sebagai CEO utama selama Indra tidak ada. Tidak ada satupun orang di kantor yang tahu kemana Indra pergi membawa Marisa. Mama sudah beberapa kali menelepon Indra dan mengatakan bahwa dia dan Marisa baik-baik saja. Tapi Indra tetap tidak mau mengatakan dimana keberadaan nya walaukepada Mama sekalipun.


"Keterlaluan Indra! Dia pergi dengan Marisa entah kemana dan berkata pada Bella kalau ada urusan pribadi. Berarti benar dugaan saya kalau Indra dan Marisa memang pergi bersama diluar urusan pekerjaan! Indra sengaja membawa Marisa pergi untuk menjauhi saya! Mungkin kepergian saya ke Turki juga sebenarnya hanya akal-akalan Indra agar bisa mendekati Marisa selama saya tidak ada!" batin Andro geram!


Sementara keadaan Indra sekarang sudah jauh lebih baik. Dalam perawatan Marisa, luka-luka di wajah dan tubuh Indra kini sudah mulai sembuh dan luka dalamnya juga sudah tidak terasa sakit.


Marisa begitu telaten merawat Indra. Dari mulai makanan, obat-obatan sampai pakaian Indra semua di urus oleh Marisa. Marisa setiap hari memasak makanan enak untuk Indra sehingga Indra merasa bahwa Marisa memang memiliki paket lengkap sebagai calon istri.


Tapi tetap saja selama tiga hari itu Indra tidak mengizinkan Marisa untuk menerima telepon dari Gery ataupun Andro. Bahkan Indra sampai memblokir dua nomor tersebut. Marisa sempat protes kepada Indra karena takut ada kabar penting dari Gery mengenai urusan di kampus. Tapi Indra tetap tidak mengizinkan.


"Begitu saya pulih, kita akan segera kembali ke Jakarta dan menyelesaikan urusan disana. Sekarang kamu sabar dulu dan jangan berhubungan dulu dengan dunia luar!" kata Indra.


Marisa hanya bisa mengangkat bahunya.


Hingga tiba pada malam hari seusai makan bersama dan Marisa selesai mengolesi luka di wajah Indra yang hampir sembuh total lalu mereka berdua berbaring bersama di atas ranjang sambil nonton TV. Saat itu sedang acara sepak bola favorit Indra. Marisa menemani Indra menonton pertandingan sepak bola.


Sejak kejadian Minggu malam kemarin, Marisa tidak berani lagi untuk tidur bersama Indra. Mereka tidur di kamar yang terpisah. Indra juga tidak memaksa Marisa untuk tidur bersamanya.


Tapi malam itu Marisa ketiduran di samping Indra saat menemani Indra menonton pertandingan sepak bola. Indra yang akhirnya menyadari bahwa Marisa telah tertidur pulas di sampingnya jadi bergairah saat melihat paha Marisa yang tersingkap karena baju tidurnya terangkat ke atas.


Indra menelan ludahnya sendiri. Matanya mulai menjelajahi seluruh tubuh Marisa. Marisa benar-benar terlihat sangat cantik dan seksi malam itu. Wajah cantiknya terlihat bercahaya dan segar. Dengan mata terpejam dan gigi nya yang gingsul terlihat sedikit di antara celah bibir nya yang padat berisi.


"Marisa, kamu cantik sekali!" gumam Indra seraya membelai rambut hitam panjang Marisa.


Acara sepak bola di TV sudah selesai dan kini Indra fokus memandangi Marisa yang tertidur pulas.

__ADS_1


"Kamu memang seorang wanita yang sempurna, Marisa! Kamu cantik, kamu baik, pintar memasak, bisa memegang peranan penting dalam pekerjaan saya, dan kamu juga sangat menggairahkan" Indra berdecak kagum.


Makin di pandangi, Marisa tampak semakin cantik!


"Saya rasa saya sudah berada di ujung penantian saya, Marisa. Kamu adalah wanita yang cocok untuk mendampingi saya dalam hidup ini! Saya berikan hati saya untuk kamu ikat didalam hati kamu"


Indra merundukan wajahnya dan mengecup bibir Marisa dengan lembut. Saat Indra berniat untuk mengulum bibir Marisa, saat itulah HP nya bergetar karena ada panggilan telepon masuk.


Indra menghentikan ciumannya dan melihat layar HP untuk mengetahui siapa orang yang meneleponnya. Ada nama Sofie disana. Sudah lama Sofie tidak pernah menghubungi Indra karena Indra juga tidak pernah mau menerima panggilan telepon darinya. Tapi malam ini Sofie menelepon lagi.


Indra memutuskan untuk mengangkat telepon dari Sofie. Sekalian untuk mengatakan kepada Sofie kalau sekarang Indra sudah bersama Marisa dan Sofie tidak usah mengganggu lagi.


"Halo" kata Indra.


"Dra..." terdengar suara Sofie lemah dan pelan.


"Aku butuh kamu, Dra... Sekarang..."


"Ada apa?!"


"Aku sakit, Dra... Kepala ku rasanya seperti di tusuk-tusuk... Aku gak kuat lagi... Tolong aku, Dra... Aku takut gak bisa melihat kamu lagi..."


pinta Sofie memelas.


Bukannya merasa kasihan, Indra malah merasa kesal mendengar kata-kata Sofie. "Kamu ini dasar wanita tidak tahu malu, ya?! Saya sudah katakan kalau saya tidak mau ada hubungan apa-apa lagi dengan kamu! Saya juga tidak mau kamu terus menerus mengganggu saya!" bentak nya!


"Untuk yang terakhir kalinya... Dra..."

__ADS_1


"Dengar ya, Sofie! Kamu kan masih punya keluarga! Kamu minta tolong saja pada mereka! Saya sibuk dan saya tidak perduli kepada kamu! Saya sekarang sedang bersama Marisa dan saya sudah menjadikan Marisa sebagai kekasih saya yang baru!"


"Dra...! Kamu dan Marisa...?!" terdengar suara Sofie seperti tercekat.


"Selamat malam!" Indra menutup teleponnya dan mematikan daya HP nya. "Dasar menyebalkan! Ganggu orang saja!" rutuk Indra dan kini kembali fokus kepada Marisa.


Indra membaringkan tubuhnya di samping Marisa dan memeluk tubuh Marisa. Di ciumi nya wajah Marisa hingga gadis itu terbangun dan menatap Indra dengan mata yang masih mengantuk.


"Indra..." panggil Marisa pelan lalu kembali terpejam.


"Kamu tidur saja, cantik. Biar saya yang bekerja" bisik Indra lalu di raba nya dada Marisa dan mulai memberikan remasan lembut.


"Ah... Indra... Kamu mau apa?" desah Marisa dan bergerak membelakangi Indra.


Indra justru menjadi semakin liar, di peluknya tubuh Marisa dari belakang dan di susupkan nya kedua tangan kedalam baju tidur Marisa. Dengan cekatan Indra melepaskan kaitan bra yang ada di punggung Marisa sehingga bra Marisa melonggar dan kini kedua tangan bebas menjamahi buah dada Marisa yang padat dan kencang.


"Akh...! Indra... Jangan...!" rintih Marisa dan kini kedua matanya terbelalak. Di pegang nya kedua tangan Indra dan coba di singkirkan dari dadanya tapi tidak bisa karena Indra memegangi buah dada Marisa dengan erat.


"Diam, Marisa Sayang!" bisik Indra.


"Lepasin, Dra..." kata Marisa lemah.


"Nikmati saja, Marisa. Saya tahu kamu juga merasa nikmat saat saya melakukan hal ini"


"Tidak... Jangan..."


Indra malah memilin-milin puncak buah dada Marisa hingga gadis itu menggeliat hebat karena tidak tahan.

__ADS_1


"Indra! Sudah! Jangan!" pekik Marisa!


__ADS_2