
Sudah beberapa bulan ini Indra tidak pernah merasakan hal seperti ini. Rasa rindu untuk segera sampai di rumah setelah seharian bekerja di kantor. Apalagi tadi selama di kantor, Melati selalu saja berusaha menggoda Indra dengan gayanya yang murahan. Indra paling tidak suka pada sikap wanita yang seperti itu. Seperti seorang pedagang yang sedang mengobral barang dagangannya.
Begitu sampai di rumah, Indra langsung mengajak Baby Syailendra bermain bahkan sampai Marisa menegurnya saat memergoki Indra tengah bermain dengan anaknya itu. "Tumben sekali jam setengah lima kamu sudah tiba di rumah?" katanya sambil mencium tangan Indra.
Indra menatap kearah Marisa yang baru saja selesai mandi sore itu. Marisa yang tampak cantik dan menarik walaupun tidak sedang memakai pakaian seksi dan riasan wajah mencolok. Marisa yang berwajah polos dengan baju sorenya yang sopan dan santai.
"Iya, saya kangen sekali sama Baby Syailendra" kata Indra.
"Alhamdulillah, sudah lama sekali Baby Syailendra tidak bermain-main dengan Papanya. Baik sore maupun pagi hari. Karena kamu selalu pulang terlambat dan pergi lebih awal" kata Marisa.
"Iya, saya juga menyesal karena tidak punya waktu yang banyak untuk Baby Syailendra. Ternyata dia sudah pintar sekali dan berat badannya sudah jauh berbeda dari beberapa waktu yang lalu"
"Aku rasa kamu bahkan tidak ingat sekarang Baby Syailendra sudah berapa bulan?!"
"Tentu saja kalau itu saya ingat! Baby Syailendra sudah sembilan bulan sekarang!"
"Lalu apakah kamu tahu berapa berat badannya sekarang?"
"Maaf, kalau itu saya memang tidak tahu..." Indra berkata dengan nada berat seperti menyesal...
"Bahkan kamu tidak ingat jadwal imunisasi-nya kan?!"
"Memangnya Baby Syailendra masih ada jadwal imunisasi?!"
"Iya dong! Bulan ini adalah waktunya Baby Syailendra imunisasi campak!"
__ADS_1
"Kapan? Saya akan mengantarkan kamu ke rumah sakit untuk imunisasi-nya!"
"Senin depan"
"Oh ya, saya akan mengingatnya!"
"Terima kasih sebelumnya" Marisa meninggalkan Indra berdua dengan Baby Syailendra. Membiarkan Papa dan anaknya itu bermain bersama.
Entah mengapa setelah kepulangan Indra dari Surabaya dua Minggu lalu, sikap Marisa berubah menjadi dingin kepada Indra. Marisa lebih irit berbicara maupun bersentuhan dengan Indra.
Marisa merasa ada sesuatu yang telah berbeda dengan kehidupan cintanya dengan Indra. Seolah-olah telah ada satu sekat dalam hatinya untuk bisa dekat kembali dengan Indra. Walaupun selama dua Minggu ini mereka selalu tidur dan makan bersama, tapi dalam hati Marisa sudah mendingin dan tidak ada sedikitpun hasrat untuk bermesraan dengan Indra.
Marisa masih merasa kecewa dengan ketidakhadiran Indra saat Baby Syailendra terbaring lemah di rumah sakit. Bahkan Indra yang seharusnya saat itu ada bersamanya untuk merawat buah hati mereka malah tidak bisa di hubungi!
Ataukah memang felling seorang istri itu memang kuat?! Seorang istri selalu bisa merasakan jika terjadi sesuatu yang tidak beres dengan suaminya. Seperti Marisa yang dalam hal kecilnya tetap merasa ada sesuatu yang terjadi antara Indra dan Melati.
Sebaliknya Indra juga merasa tidak berani untuk mendekati apalagi menyentuh Marisa. Padahal Marisa tampak semakin cantik dan menarik disaat berbaring di atas ranjang mereka. Tapi Indra seolah kehilangan keahliannya untuk merayu Marisa.
Malam itupun Marisa langsung memejamkan matanya setelah Baby Syailendra tertidur. Padahal sebenarnya Marisa masih belum tidur. Hanya saja Marisa memang merasa tidak ingin berbicara dengan Indra selama beberapa malam ini. Marisa telah kehilangan respect kepada suaminya sendiri.
Indra yang baru saja masuk kedalam kamarnya setelah selesai berbincang dengan Mama di ruang keluarga mendapati Marisa yang sudah tampak tidur lelap bersama Baby Syailendra.
Perlahan Indra mendekati Marisa dan duduk di sisi ranjang sambil memandangi wajah cantik istrinya yang sedang memejamkan mata. Marisa yang terlihat sangat cantik malam hari itu.
Indra mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Marisa dan kemudian mencium keningnya dengan lembut agar tidak mengganggu tidur Marisa.
__ADS_1
"Kamu cantik sekali, Marisa. Kamu juga baik hati... Kamu adalah wanita yang paling sempurna dalam hidup saya maka dari itu saya memilih kamu sebagai pendamping hidup saya" bisik Indra sambil kembali mencium pipi Marisa.
"Saya tidak bisa kehilangan kamu... Saya begitu mencintai kamu dan saya tidak akan pernah bisa pindah ke lain hati... Kamu adalah satu-satunya wanita yang saya inginkan...
"Tapi kenapa selama beberapa hari ini kamu menjadi dingin kepada saya? Kamu selalu diam dan menghindari saya... Kamu seolah tidak ada bersama saya walaupun kita berdua berada dalam satu ruangan yang sama...
"Kamu seolah-olah asing kepada saya... Kamu berubah dengan begitu cepat...
Padahal kamu adalah seorang wanita yang hangat dan periang...
"Saya merindukan kamu, Marisa... Saya rindu senyum dan tawa kamu... Saya rindu memeluk da, mencium kamu... Saya rindu menyentuh dan memesrai kamu... Saya rindu kehangatan dan kenikmatan tubuh kamu... Saya juga sangat merindukan ******* dan rintihan kamu...
"Saya tidak mengerti apa yang terjadi antara kita berdua. Kita bersama tapi tidak berinteraksi seperti halnya suami dan istrinya. Kamu acuh dan sebaliknya saya juga tidak berani untuk mendekati kamu... Saya merasa kamu masih marah kepada saya...
"Saya minta maaf, Marisa... Saya banyak sekali kesalahan kepada kamu... Saya tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikan dan menebus seluruh dosa saya kepada kamu...
"Tapi semuanya belum terlambat, Sayang... Kita masih bisa mencari kebahagiaan kita bersama. Kita masih bisa memperbaiki semuanya. Kita masih bisa merajut kemesraan dan kehangatan seperti sedia kala"
Indra menciumi wajah Marisa berkali-kali. Tanpa terasa matanya menjadi hangat dan hatinya bergetar hebat.
Sebaliknya Marisa sendiri sebenarnya saat itu tidak sedang dalam keadaan tertidur dan mendengar semua kata-kata Indra. Marisa merasa hatinya sedih sekali karena merasakan perubahan dalam kehidupan rumah tangganya dengan Indra yang mendingin...
Saat Indra akhirnya berbaring di sebelah Baby Syailendra dan masuk kedalam selimut, Marisa pun tidak sanggup menahan perasaannya dan menangis tanpa suara...
Beberapa lama Marisa masih saja menangis tanpa Indra mengetahuinya. Indra sepertinya sudah tertidur karena terdengar dengkurannya yang halus.
__ADS_1
Akhirnya Marisa pun ikut tertidur setelah lelah menangis... Pada tengah malam Marisa terjaga dari tidurnya dan memutuskan untuk mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat tahajud.
Marisa tidak tahu harus mengadu kepada siapa lagi tentang kegundahan hatinya selain kepada Allah SWT... Malam itu Marisa benar-benar merasa sedih dan kehilangan arah... Seolah ada beban berat yang menggelayuti bahunya...