My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 135 : Kita Pulang Hari Ini!


__ADS_3

Mama Renata sedang sibuk di taman belakang istana megah nya pagi itu. Sampai dering HP nya berbunyi dan menghentikan kegiatannya merawat bunga-bunga kesayangannya. Mama segera meraih HP nya dan mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari Mama Sofie, Bu Eva.


"Halo, Selamat pagi Jeng Renata" terdengar suara Mama Sofie yang bernada tinggi.


"Ya, Jeng Eva. Selamat pagi" sapa Mama Renata.


"Maaf saya pagi-pagi menggangu aktifitas Jeng Renata. Tapi saya ingin mengabarkan satu hal yang sangat penting"


"Ada apa, Jeng?"


"Sofie! Sofie semalam masuk rumah sakit dan sekarang keadaannya kritis!"


"Ya Allah...!" Mama Renata kaget sekali. "Sofie sakit apa?"


"Tadi dokter sudah bicara dengan Papa nya Sofie. Ternyata Sofie mengidap kanker otak stadium empat! Kami juga tidak tahu kalau selama ini Sofie mengidap penyakit mematikan itu! Semalam Sofie pendarahan dari hidung dan mulut nya. Dia juga sudah tidak sadarkan diri. Kami lalu segera membawa Sofie ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Sofie langsung masuk ICU..."


"Ya Allah...! Lalu apakah yang akan dokter lakukan untuk menyembuhkan Sofie?! Apakah dokter merekomendasikan untuk membawa Sofie ke Singapore? Saya dengar pengobatan kanker di Singapore sangat menjanjikan untuk bisa sembuh"


"Tidak bisa, Jeng Renata. Keadaan Sofie sudah sangat kritis! Dokter tidak mengizinkan Sofie untuk terbang naik pesawat ke Singapore. Kecuali Sofie sadarkan diri dan cukup kuat untuk pergi kesana"


"Jadi kita akan melakukan proses pengobatan di Jakarta?"


"Ya, untuk saat ini Sofie hanya bisa menjalani pengobatan di Jakarta. Tapi bukan itu saja masalahnya. Saya ingin menanyakan dimana keberadaan Indra! Papa nya Sofie sudah mencoba untuk menghubungi Indra, tapi telepon nya tidak aktif! Memangnya Indra dimana, Jeng?"


"Indra... Indra saat ini sedang berada di luar kota untuk menangani suatu pekerjaan"


"Bagaimana saya bisa menghubungi Indra untuk mengabarkan bahwa Sofie sedang kritis?!"


"Saya akan coba menghubungi Indra! Jeng Eva sabar dulu ya"


"Baiklah kalau begitu. Secepatnya saya tunggu kabar dari Anda, Jeng Renata! Bagaimanapun juga kan Indra adalah calon suami Sofie. Saya tunggu kedatangan Indra secepatnya di rumah sakit!"


"Baik, Jeng Eva"


"Ya Jeng Renata. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam" Mama Renata menutup teleponnya dan segera menghubungi Indra. Langsung tersambung karena Indra memang tidak menutup akses komunikasi dengan Mama Renata.


Saat itu Indra memang sedang bersama Marisa. Indra terus menerus merayu Marisa agar gadis itu mau tersenyum. Tapi Marisa masih diam seribu bahasa dan terlihat murung. Bahkan sekarang Marisa pergi ke kamarnya dan mengunci pintu kamar dari dalam.


"Halo, Mam" sapa Indra lewat sambungan telepon.


"Halo, Dra!"

__ADS_1


"Ya. Ada apa, Mam?"


"Kamu sudah selesai menangani urusan kamu diluar kota? Kamu harus pulang sekarang, Dra!"


"Ya, Mam. Saya memang akan segera pulang. Marisa juga sudah minta pulang"


"Apakah kamu sudah menyatakan perasaan kamu pada Marisa?"


"Sudah, Mam"


"Apa kata Marisa?"


"Marisa mau menerima cinta saya. Yang selama ini Marisa cintai adalah saya. Bukan Andro"


"Syukurlah"


"Makasih atas dukungannya, Mam"


"Iya, Dra. Kamu juga harus segera menjelaskan ini semua kepada Andro. Andro pasti bisa menerimanya. Mama sudah bicara dengan Andro"


"Oya? Syukurlah kalau begitu, Mam. Akhirnya semua bisa terselesaikan dengan baik. Jadi saya juga bisa menjalani hubungan bersama Marisa dengan tenang"


"Dan ada satu hal lagi yang perlu kamu selesaikan, Dra"


"Ada apa?"


"Ya Tuhan..."


"Kamu pulang ya, Dra! Segera! Mama takut terjadi apa-apa dengan Sofie. Bagaimanapun keluarga Sofie tidak tahu menahu tentang hubungan kamu dengan Sofie yang sudah berakhir. Jangan sampai kamu di anggap sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab"


"Ya, Mam. Saya pulang hari ini"


"Oke, Dra. Mama tunggu ya"


Sambungan telepon terputus. Indra menghela nafas panjang. Sebenarnya Indra tidak ingin segera kembali ke Jakarta karena masih ingin terus bersama Marisa. Apalagi sekarang hubungan Indra dan Marisa sedang dalam keadaan tidak baik setelah kejadian tadi malam.


Dengan langkah kaki yang berat, Indra menemui Marisa yang sedang berada didalam kamarnya. Kali ini pintu kamar Marisa sudah tampak terbuka. Gadis itu tampak sedang duduk di depan jendela sambil memandangi hamparan taman bunga yang luas di samping vila.


"Marisa, saya boleh masuk?" tanya Indra di depan pintu kamar.


Marisa menoleh dan mengangguk.


Indra segera masuk kedalam kamar dan duduk di kursi yang ada di samping Marisa.

__ADS_1


"Marisa, saya mau bicara sebentar sama kamu" kata Indra.


"Ada apa?" tanya Marisa dengan mata yang tidak berpaling dari taman bunga.


"Saya akan membawa kamu pulang hari ini. Kita berangkat sore ini juga"


"Saya setuju. Saya akan beres-beres sekarang"


"Dan saya akan meminjamkan charger HP agar kamu bisa menghidupkannya"


"Makasih"


Indra memegang tangan Marisa. " Kamu jangan bersikap dingin begini, Mar. Saya jadi tidak tenang"


"Kan saya sudah bilang kalau saya tidak akan meninggalkan kamu"


"Tapi saya tetap merasa khawatir"


"Tentang apa?"


"Nanti kamu akan bertemu dengan Andro. Saya tidak mau kamu kembali kepada Andro. Saya tidak mau!"


"Sepertinya kamu belum mengenal baik saya. Kalau kamu sudah sudah benar-benar mengenal saya, pasti kamu tidak akan merasa khawatir lagi. Saya sudah sampai sejauh ini. Sudah melewati berbagai rasa sakit yang kamu ciptakan. Saya tidak pernah mundur ataupun pergi. Saya tidak akan kembali kepada Andro"


Indra mencium tangan Marisa. "Baiklah, kalau kamu sudah meyakinkan saya. Saya juga akan tenang sekarang. Tapi ada satu hal lagi yang harus kamu tahu"


"Ada apa?" Marisa mengerutkan keningnya.


"Tadi Mama menelepon. Mama bilang kalau Sofie masuk rumah sakit dan sekarang sedang koma"


"Ya Allah!" mata Marisa membelalak! "Bu Sofie koma? Kita pulang hari ini! Kita harus segera berada disana! Bu Sofie butuh kamu, Dra!"


Indra jadi garuk-garuk kepala sendiri. "Kenapa kamu begitu antusias? Apakah kamu tidak khawatir kalau saya akan kembali kepada Sofie?!"


"Tidak, saya tidak khawatir. Kalau memang kamu di takdirkan untuk bersama Sofie, saya ikhlas. Apalagi Bu Sofie memiliki kamu jauh sebelum saya"


"Lalu kamu akan kembali kepada Andro?"


"Mungkin" kata Marisa seraya tersenyum.


Indra yang jadi panik sekarang! Di peluknya tubuh Marisa erat-erat. "Tidak! Saya tidak akan pernah kembali pada Sofie, dan kamu juga jangan pernah kembali pada Andro!"


"Tapi kamu jangan berbuat yang tidak-tidak lagi kepada saya! Saya takut dan merasa tidak nyaman bersama kamu!"

__ADS_1


"Iya, saya janji! Saya tidak akan pernah melakukannya lagi! Kamu jangan khawatir! Lagipula semalam kan saya tidak menanggalkan pakaian kamu! Kamu masih utuh dan tidak rusak!" Indra malah nyengir.


"Tapi lama-lama saya bisa rusak!" pekik Marisa kesal!


__ADS_2