My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 215 : Satu Tahun Yang Membahagiakan


__ADS_3

Marisa merasa sangat bahagia hari ini. Bagaimana tidak? Hari ini Baby Syailendra menginjak usia empat puluh hari, anniversary dirinya dengan Indra yang pertama, dan Alhamdulillah Marisa bisa merayakannya dengan penuh sukacita dan kemewahan.


Marisa merasa menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini. Punya suami yang tampan, baik, royal, gagah dan juga kaya raya. Punya seorang anak bayi yang lucu, tampan, sehat dan juga adalah pewaris tahta perusahaan besar.


Lalu kurang apalagi? Marisa merasa Allah SWT sudah sangat bermurah hati dan melimpahkan kebahagiaan yang luar biasa kepada keluarga kecilnya. Maka Marisa berusaha untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepadanya.


Tanpa Marisa tahu, sebenarnya cobaan berat sedang mendekati kehidupan keluarga kecilnya. Bara api sedang membakar biduk rumah tangganya secara perlahan-lahan. Ada seorang wanita lain yang telah masuk kedalam hati Indra dan mencuri perhatian nya.


Indra sendiri kembali kepada Marisa dengan wajah tanpa dosa. Saat itu tamu-tamu dan keluarga dekat mereka sudah kembali ke rumah masing-masing. Mama Renata juga tampaknya sudah kembali ke kamarnya untuk beristirahat setelah seharian penuh ini mengikuti serangkaian kegiatan yang melelahkan.


"Kamu belum masuk kamar?" tanya Indra sambil merangkul pinggang Marisa.


"Aku nungguin kamu" jawab Marisa.


Indra dan Marisa pun berjalan beriringan menuju kamar tidur mereka di lantai atas.


"Saya tadi memeriksa mobil dulu. Kuncinya masih menggantung" Indra mencari alasan karena sebenarnya dia baru saja dari toilet tamu untuk menemui Melati, asisten pribadi yang menjadi simpanannya.


"Melati sudah pulang?" kali ini Marisa yang bertanya.


"Mungkin" jawab Marisa seolah tidak perduli.


"Lho, tadi kamu gak lihat dia sama Andro waktu memeriksa mobil?"


"Tidak, lagipula saya tidak perduli"


Marisa memukul pelan bahu Indra. "Kok cuek gitu sih? Melati itu asisten pribadi kamu! Kamu bertanggung atas keselamatan sampai tujuan setelah selesai mengikuti acara ini"


"Kan ada Andro. Pasti Andro mengantarkan Melati sampai rumahnya"


"Kenapa ya mereka tidak segera jadian saja ya?! Mereka kan cocok sekali!"


"Mungkin Melati tidak suka pada Andro, melainkan suka pada saya" kata Indra seperti yang bercanda.


Mata Marisa melotot mendengar kata-kata Indra itu! "Awas saja kalau dia berani naksir kamu!"


"Lho, memangnya kenapa? Wajar kan kalau Melati suka kepada saya? Sama seperti kamu dulu! Kamu lebih menyukai saya di bandingkan dengan Andro!"

__ADS_1


"Beda ceritanya, Dra! Kamu belum jadi suami orang saat itu! Kalau saja saat itu kamu sudah menikah dan punya anak, aku gak akan berani naksir kamu!"


Mereka sampai didalam kamar dan mendapati Lilis sedang menjaga Baby Syailendra yang sedang tertidur di tempat tidurnya.


"Udah tidur Baby Syailendra nya, Lis?" tanya Marisa.


"Sudah, Bu. Sudah ada setengah jam" jawab Lilis.


"Oke, kamu boleh berisitirahat sekarang. Makasih ya, Lis"


"Sama-sama, Bu. Saya ke kamar dulu" Lilis segera meninggalkan kamar tidur Marisa.


Indra menutup pintu dan segera membawa Marisa kedalam pelukannya. Ada sedikit rasa bersalah yang merayapi hati Indra karena sudah berani bermain api dengan Melati.


"Kamu tidak mau ya, kalau Melati menyukai saya? Saya seorang Indra Perdana, tidak ada satupun wanita yang tidak menyukai saya!" kata Indra pada Marisa setelah Lilis meninggalkan kamar tidur.


"Terserah!" kata Marisa ketus!


"Kamu tenang saja, Sayang... Mau seratus Melati yang menyukai saya pun, saya hanya menginginkan seorang Marisa!" kata Indra.


Marisa memegang kedua belah pipi Indra. "Janji ya?! Kamu gak akan menduakan aku dengan siapa pun?!" katanya.


"Makasih, Sayang" Marisa mencium pipi Indra dan kemudian mendekati tempat tidur Baby Syailendra. Saat itu Baby Syailendra tampak sudah tertidur pulas dengan dengkuran halus.


"Anak Mama pulas banget" kata Marisa seraya mencium pipi tembam Baby Syailendra.


"Baby Syailendra itu sangat anteng, ya?" kata Indra.


"Iya, paling sekali saja bangun nya kalau semalam"


"Alhamdulillah, jadi Mama nya juga tidak terlalu lelah"


Indra membelai rambut Marisa. "Kamu bobo sekarang. Seharian ini kamu pasti capek. Acaranya tadi padat sekali. Belum lagi sambil mengasuh Baby Syailendra"


"Iya, aku ke air dulu ya"


"Iya, setelah itu saya yang ke air"

__ADS_1


Marisa pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Nyaman sekali rasanya setelah seharian penuh beraktivitas. Setelah selesai mandi Marisa pun memakai pakaian tidurnya dan menghampiri Indra yang sudah berbaring di atas ranjang.


"Sana ke air dulu" kata Marisa.


"Oke, tunggu sebentar ya, Sayang" kata Indra dan segera turun dari ranjang untuk pergi mandi.


"Jangan lama-lama, nanti masuk angin!"


"Siap, Bu Marisa! Hehehe"


Tak lama kemudian Indra sudah selesai mandi dan mendapati bahwa Marisa sudah menyiapkan pakaian tidurnya di atas ranjang. Indra segera memakainya dan berbaring di sebelah Marisa.


Indra menatap Marisa yang sedang memeriksa HP nya yang seharian ini tidak di pegang karena sibuk. Wajah Marisa tampak sangat cantik malam ini. Kecantikan yang jauh lebih dibandingkan dengan Melati. Wangi segar tercium dari tubuhnya yang baru mandi. Tiba-tiba saja senjata utama dalam celana Indra bergerak bangun dan mengeras dengan sempurna.


"Marisa Larasati..." panggil Indra pelan.


Marisa segera menaruh HP nya di atas meja dan menatap wajah Indra. "Ada apa, Indra Perdana?"


"Saya sayang kamu"


"Saya juga sayang kamu"


Indra membelai rambut Marisa. "Terima kasih sudah menjadi pendamping hidup saya selama satu tahun ini. Terima kasih untuk satu tahun yang penuh kebahagiaan"


Marisa tersenyum dan meraih tangan Indra dan menciumnya. "Sama-sama, suamiku. Terima kasih juga sudah memilih aku untuk menjadi pendamping hidup kamu dan juga sudah memberikan seorang Baby Syailendra yang lucu dan tampan"


"Justru saya yang harus berterima kasih kepada kamu karena sudah melahirkan anak saya"


Indra dan Marisa saling berbagi dan perlahan saling mendekatkan wajah mereka masing-masing. Dalam hitungan detik, bibir mereka sudah menyatu dengan erat. Mereka pun larut dalam sebuah ciuman yang panas dan mendebarkan.


Hingga perlahan Marisa meraba dada Indra yang bidang dan rabaan itu terus merayap ke bawah menuju perut Indra kemudian sampai di bawah pusar Indra.


Seketika itu juga ciuman Indra pada bibir Marisa terlepas dan Indra melihat bagaimana cantiknya Marisa yang menatapnya dengan mata sayu dan bibir basah.


"Mau apa meraba-raba tubuh saya? Kalau saya bernafsu untuk menikmati tubuh kamu bagaimana?" tanya Indra.


"Lampiaskan saja" jawab Marisa sambil meleletkan lidahnya.

__ADS_1


"Memangnya sudah bisa?" bisik Indra dengan suara bergetar.


"Sudah empat puluh hari" Marisa balas berbisik.


__ADS_2