My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 144 : Pembicaraan di Ruang Kerja Indra


__ADS_3

Kemana sebenarnya Indra Perdana? Siang itu setelah selesai mengikuti prosesi pemakaman Sofie sampai dengan selesai, Indra segera berpamitan kepada keluarga Sofie dan mengantarkan Mama pulang ke rumah. Indra sempat beberapa kali ingin mencoba untuk menghubungi Marisa saat dalam perjalanan pulang, tapi Mama melarang nya.


"Kamu jangan dulu menghubungi Marisa, Dra" kata Mama saat melihat bagaimana Indra mengotak-atik HP nya dalam keadaan sedang menyetir mobil.


"Kenapa, Mam? Kenapa saya tidak boleh menghubungi Marisa?! Saya kan sudah mengikuti prosesi pemakaman Sofie sampai selesai sesuai dengan permintaan Mama. Sekarang apalagi yang harus saya lakukan?!" tanya Indra jengkel.


"Kamu kan sedang menyetir mobil. Tunggulah sebentar sampai kamu tiba di rumah. Jalan raya sekarang ini sedang ramai dan padat sekali. Mama takut, Dra!"


Kalau begitu kita makan siang dulu di restoran dekat sini. Saya akan menghubungi Marisa disana"


"Ya, Mama setuju"


Indra membawa Mama ke sebuah restoran untuk makan siang. Saat di restoran itulah Indra mencoba menelepon Marisa tapi tidak di angkat oleh Marisa karena Marisa takut Indra masih bersama keluarga Sofie.


"Brengsek!" rutuk Indra geram!


"Indra! Bahasa kamu, nak!" tegur Mama.


"Maaf, Mam. Tapi Marisa tidak mau mengangkat telepon dari saya!"


"Mungkin dia sedang makan siang juga"


"Dia sedang bersama Andro!"


Mama menghela nafas panjang. "Dra, kamu tidak boleh berpikir yang tidak-tidak kepada Marisa dan Andro. Mama yakin mereka bisa bersahabat, kok! Mereka tidak akan mengkhianati kamu"


"Bagaimanapun saya telah merebut Marisa dari Andro, Mam. Saya tidak mau hal itu terjadi juga kepada saya!"


"Nanti kamu telepon lagi Marisa kalau kita sudah sampai di rumah, ya?" usul Mama.


"Ya..." sahut Indra lemah.


Indra pun melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah. Sekitar pukul tiga sore Indra sudah sampai di rumahnya. Indra langsung menuju kamarnya karena merasa ingin buang air kecil. Tapi sial sekali saat didalam toilet, HP Indra malah terjatuh dari saku celananya dan masuk kedalam lubang WC! Indra lupa mengeluarkan HP dari saku celananya setelah dia gagal menghubungi kami saat di restoran tadi.

__ADS_1


"Sial! Kenapa HP saya malah masuk kedalam WC?!" rutuk Indra dan segera memanggil salah satu pelayan untuk mengambil HP nya dari dalam lubang WC.


"HP nya mati, Tuan" kata Paijo, salah satu pelayan Indra yang berhasil mengambil HP tersebut dari dalam lubang WC dan mengeringkannya.


"Mati?! Sial sekali saya hari ini!" rutuk Indra!


"Jadi bagaimana, Tuan?" tanya Paijo.


"Kamu bawa HP saya ke tukang servis sekarang!" perintah Indra.


"Baik, Tuan" Paijo segera pergi untuk melaksanakan perintah dari majikannya itu.


Sekarang Indra jadi bingung sendiri. Bagaimana caranya untuk menghubungi Marisa?! Indra berniat untuk meminjam HP Mama, tapi Mama sudah masuk kedalam kamarnya dan mungkin sedang beristirahat karena hati yang melelahkan. Indra tidak mungkin mengganggu Mama nya.


Mau pinjam HP pada salah satu pelayan di rumahnya, Indra merasa gengsi! Mana mungkin seorang Tuan muda sepertinya meminjam HP pelayanannya sendiri! Bisa-bisa nanti pelayan itu akan tertawa atau bergunjing di belakangnya!


Sore berganti malam, Indra masih belum bisa menghubungi Marisa. Saat itulah Andro pulang ke rumahnya dan bertemu dengan Indra di ruang keluarga mereka.


"Selamat malam, Dra" sapa Andro.


"Mama mana?" tanya Andro.


"Ikut saya ke ruang kerja saya sekarang juga!" perintah Indra tegas lalu mendahului Andro untuk pergi ke ruang kerjanya yang terletak di lantai atas, tepat di sebelah kamar tidur Indra.


Andro mengikuti langkah Indra. Mereka pun kini sudah berada didalam ruangan kerja Indra.


"Ada apa kamu memangil saya kesini?" tanya Andro.


"Saya dari kemarin ingin bicara empat mata dengan kamu. Saya tidak ingin Mama mendengar pembicaraan kita. Sekarang Mama sedang berada di kamarnya" kata Indra seraya duduk di kursi kerjanya.


"Bicara apa?" tanya Andro lagi sambil ikut duduk di kursi yang ada dihadapan meja kerja Indra.


"Kamu kemana saja seharian ini?! Kenapa kamu baru sampai ke rumah?! Apakah kamu bersama Marisa seharian ini?"

__ADS_1


Andro tersenyum sinis. "Saya sudah mengantarkan Marisa ke kos-annya siang tadi. Setelah itu saya pergi ke kantor. Ada beberapa berkas yang harus saya tanda tangani pada hari ini juga. Kalau kamu tidak percaya, silahkan kamu tanyakan saja pada Bella. Saya berada di kantor dari siang sampai sore hari"


"Oh ya?! Kamu tidak berbohong?!" Indra merasa tidak percaya.


"Buat apa saya bohong?! Saya selama semingguan ini sibuk, Dra! Kamu kan yang sudah menyerahkan tugas memegang kantor selama kamu pergi dengan Marisa ke luar kota?!"


"Saya akan segera kembali ke kantor hari Senin ini!"


"Baguslah!"


"Saya akan segera memeriksa hasil kerja kamu selama semingguan ini. Awas saja kalau ada satu kesalahan pun!"


"Insya Allah tidak ada. Saya sungguh-sungguh dalam mengerjakan semua pekerjaan saya!"


"Sekarang mengenai Marisa, apakah kamu sudah tahu kalau Marisa dan saya sudah memutuskan untuk bersama?"


"Ya, Marisa sudah membicarakan hal itu dengan saya kemarin"


"Kamu tidak marah, bukan? Saya dan Marisa saling mencintai dan kami sepakat untuk menjalani hidup bersama"


"Saya tidak marah. Sedari kita kecil, saya sudah terbiasa untuk mengalah dan memberikan apapun yang kamu inginkan dari saya"


"Bagus sekali kalau begitu! Kamu memang adik yang baik!" Indra tersenyum puas!


Hati Andro terasa berdarah! "Tapi saya ingin menanyakan satu hal kepada kamu, Dra" katanya.


"Apa?"


"Kenapa sejak awal kamu tidak menyetujui hubungan saya dengan Marisa? Kamu selalu menghina dan merendahkan Marisa. Kamu bahkan pernah berkata kalau Marisa tidak pantas untuk menjadi anggota keluarga Perdana karena dia tidak berasal dari kalangan berada seperti kita. Tidakkah kamu seperti orang yang menjilat ludahnya sendiri?!"


"Andro, saya akan bicara jujur kepada kamu. Sebenarnya saya sudah menyukai Marisa sejak pertama kali melihatnya. Tapi ya saat itu saya memang merasa Marisa tidak pantas untuk di cintai karena dia berasal dari kampung, polos, dan bukan orang berada. Pendidikannya juga baru sebagai mahasiswi. Tapi lama kelamaan saya mulai merasa tidak bisa melupakan Marisa dan akhirnya saya sadar bahwa saya telah jatuh cinta kepadanya. Apalagi setelah dia resign dari Perdana Enterprise, saya merasa sangat kehilangan dia" tutur Indra.


"Oh seperti itu? Lalu apakah kamu sengaja meminta saya untuk memegang proyek di Turki agar kamu bisa mendekati Marisa dan kemudian merebutnya dari saya?!"

__ADS_1


"Tidak! Saya tidak pernah berpikir seperti itu! Justru saya meminta kamu pergi ke Turki agar saya bisa berkonsentrasi untuk melupakan Marisa! Target saya adalah saya sudah melupakan Marisa saat kamu kembali ke Indonesia. Tapi saya tidak bisa! Yang ada hidup saya berantakan! Puncaknya saat saya mabuk berat di Alexandre bar dan saya hampir mati karena di pukuli oleh Herman"


__ADS_2