
Indra menarik dirinya dan ciuman pada bibir Marisa pun terlepas. Indra meraba bibir nya sendiri yang kini terasa agak menebal. "Kamu mengigit bibir saya, Marisa!" katanya dengan mata melotot.
"Maaf" desis Marisa dengan wajah yang bersemu merah.
"Tidak apa-apa, saya suka kalau kamu membalas ciuman saya. Itu artinya kamu sudah mulai terbiasa" Indra mendekatkan lagi bibirnya ke bibir Marisa tapi gadis itu melintangkan dua jari di bibir Indra untuk menahan agar Sang CEO tidak mencium nya lagi.
"Jangan, Pak Indra. Sudah" kata Marisa lirih.
"Hm... Baiklah, kita sudahi saja ciuman ini. Nanti kita sambung lagi" kata Indra seraya melonggarkan pelukannya.
"Jangan! Jangan lakukan ini lagi. Saya takut"
"Kamu takut apa?"
"Saya bukan siapa-siapa Anda"
"Kata siapa saya bukan siapa-siapa kamu?! Kamu mencintai saya dan saya juga menyukai kamu! Kamu juga tadi menikmati setiap ciuman saya!"
menyukai?! bukan mencintai!
"Saya akan menyesali semua ini!" kata Marisa.
"Menyesali semua ini?! Hahahaha! Jangan ngawur kamu! Baru dua jam ada disini, kamu sudah dua kali jatuh dalam dekapan dan ciuman saya!"
"Sebaiknya sekarang Anda makan malam dulu. Anda kan harus minum obat dan juga saya harus mengoleskan obat pada luka-luka Anda"
"Ya, kamu benar juga. Saya merasa lapar sekali. Saya belum makan apapun hari ini"
"Mari saya bantu"
Marisa membantu Indra untuk duduk di kursi rodanya dan mereka pun makan bersama di ruang makan. Berbagai makanan lezat sudah di siapkan oleh Bu Jum disana. Indra dan Marisa pun makan malam bersama dengan lahap.
Selama makan malam berlangsung, Marisa tidak hentinya mengagumi keindahan ruang makan itu dalam hatinya. Sebuah ruang makan yang luas dengan dekorasi modern dan seluruh ruangan berdinding kaca yang punya akses langsung ke kolam renang di belakang vila.
Marisa yang awalnya hanya melihat pemandangan seperti itu di sinetron-sinetron, kini secara langsung dapat melihat bagaimana mewah nya sebuah vila yang memiliki kolam renang di belakang nya.
Sebaliknya Indra justru sedang mengagumi sosok Marisa yang saat itu tampil cantik dengan dandanan ala kadarnya. Dengan daster batik yang berukuran agak kebesaran dan rambut yang di gelung sekedarnya. Tanpa riasan wajah dan tanpa polesan make up, Marisa tampak cantik alami.
"Makan nya yang banyak, Sayang" kata Indra membuat Marisa kaget karena masih saja sibuk menjelajahi ruang makan itu dengan pandangannya.
__ADS_1
"Eh, iya! Anda juga makan yang banyak. Biar cepat sembuh" kata Marisa.
"Saya tidak selera makan, dada saya masih sakit"
"Habis ini kita minum obatnya, ya"
"Ya"
Selesai makan malam bersama, Marisa kembali membawa Indra kedalam kamar utama dan memberikan Indra minum obat sesuai dosis dari dokter. Setelah itu Marisa juga mengoleskan salep agar di seluruh luka yang ada di wajah Indra.
Marisa begitu lembut dan telaten, Indra merasa nyaman dan bahagia sekali. Marisa yang begitu di cintai nya kini ada di dekatnya dan bahkan menjadi perawat pribadinya.
"Nah, selesai" kata Marisa.
"Terima kasih, Sayang" kata Indra seraya meraih tangan Marisa dan mencium nya.
"Kenapa Anda mencium tangan saya? Apakah harga diri Anda tidak jatuh di karenakan nya?" tanya Marisa.
"Tidak ada harga diri yang akan jatuh! Yang ada adalah kamu akan segera jatuh dan bertekuk lutut dalam dekapan saya!" jawab Indra.
"Kenapa Anda terus menerus menggoda saya?! Apakah karena saya sudah berterus terang kepada Anda tentang perasaan saya?"
"Saya tidak mau ini semua terjadi, Pak Indra. Saya mencintai Anda tapi bukan berarti Anda bebas melakukan apa saja terhadap saya! Apalagi Anda hanya menyukai saya dan hanya menginginkan saya sebagai teman Anda selama di tempat ini!"
"Memangnya kalau saya katakan saya juga mencintai kamu, kamu mau jadi kekasih saya dan meninggalkan Andro untuk saya?"
"Anda tidak mencintai saya! Anda hanya menyukai saya!"
"Tapi saya mau kamu jadi kekasih saya!"
"Jadi kekasih Anda?"
"Ya, saya mau kamu jadi milik saya seutuhnya, Marisa!"
"Saya dan Anda tidak bisa bersama, Pak Indra"
"Kenapa?"
"Karena kita tidak sepaham. Kita memiliki sudut pandang yang berbeda"
__ADS_1
"Dalam hal apa?"
"Dalam banyak sekali hal! Terutama dalam hal menjalin suatu hubungan. Saya menginginkan suatu hubungan yang serius, saya juga tidak bisa melakukan hubungan yang ada diluar batas kewajaran. Saya tidak bisa melakukan hubungan suami-istri sebelum menikah"
"Omong kosong! Cinta dan **** itu satu paket, Marisa!"
"Itu namanya bukan cinta, tapi nafsu semata!"
"Kamu bisa bicara seperti itu karena kamu belum pernah merasakannya, Sayang! Kalau kamu sudah tahu bagaimana rasanya bercinta dengan saya, saya jamin kamu akan ketagihan dan akan kembali meminta saya untuk melakukannya lagi dan lagi!"
Wajah Marisa merah padam! "Menjijikkan!"
"Hal seperti itu sudah terbiasa terjadi, Sayang! Bahkan wanita yang belum pernah tidur dengan saya pun selalu memimpikan agar bisa tidur dengan saya! Mereka bahkan ada yang secara terang-terangan menawarkan dirinya kepada saya!"
"Saya tidak perduli! Anda bisa melakukan hal itu dengan wanita lain tapi Anda tidak akan bisa melakukan hal itu kepada saya!"
"Saya kan sudah bilang kalau saya akan melakukannya secara perlahan-lahan. Dan pada akhirnya nanti kita akan lihat siapa yang jadi pemenangnya! Saya atau kamu!"
"Setelah apa yang Anda lakukan pada Bu Sofie dan juga Kayla! Bagaimana Anda memperdayai mereka dan akhirnya meninggalkan mereka seenaknya! Apakah Anda pikir saya akan melakukan kebodohan yang sama juga?!"
"Kamu ini benar-benar membuat saya penasaran, Marisa! Saya begitu ingin menikmati keindahan tubuh kamu! Saya berjanji, kalau nanti saya berhasil mendapatkan kamu, saya akan menyekap kamu selama tiga hari tiga malam!"
"Kurang ajar! Sudahlah! Saya tidak ada waktu untuk membahas tentang hal-hal menjijikkan seperti ini! Sekarang saya mau kembali ke kamar sebelah dan beristirahat! Kalau Anda ada perlu, panggil saya saja!"
"Ya sudah! Pergi sana! Dasar wanita sok jual mahal!"
Marisa bergegas meninggalkan Indra tapi kemudian berbalik kembali.
"Ada apa? Mau minta cium dulu?" tanya Indra.
"Saya mau pinjam charger. HP saya mati"
"Tidak! Saya tidak akan meminjam kamu charger! Saya tidak mau kamu menghubungi Andro ataupun Fero! Saya tidak mau ada yang menganggu kita selama kita disini!"
Marisa melotot! "Kok Anda jadi aneh begini! Saya bukan mau menghubungi Andro ataupun Fero. Saya hanya khawatir kalau keluarga saya menelepon dan nomor HP saya tidak aktif! Nanti mereka akan khawatir terhadap saya!"
"Saya tidak perduli! Nanti saya akan menelepon Gery dan minta agar dia memberikan nomor HP saya kalau keluarga kamu menanyakan keberadaan kamu!"
"Gila!"
__ADS_1
"Ya, saya sudah gila, Marisa! Saya tergila kepada kamu!"