My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 57 : Tidak Berharap


__ADS_3

Indra terbangun di pagi hari dengan keadaan tanpa busana dan selimut tebal menutupi tubuhnya. Hari sudah terang dilihat dari jendela kamar apartemen yang memang tidak di tutup gordennya.


Kepala Indra terasa sedikit pusing. Kenapa dia bisa berada di apartemen ini tanpa memakai pakaian? Indra kemudian ingat kalau tadi malam dia sudah tidur dengan Sofie dan malah melakukannya lagi saat menjelang dini hari.


Melihat ke sebelahnya, Indra tidak mendapati ada Sofie berbaring disisinya. Indra menajamkan pendengarannya dan tidak juga mendengar ada suara-suara kucuran shower di kamar mandi.


"Kemana Sofie?" fikir Indra.


Indra melihat ada makanan di atas meja yang ada di kamar apartemen itu. Indra segera bangkit dari berbaringnya dan melihat ada makanan apa yang tersaji di meja. Sepiring sandwich dan segelas kopi panas. Itu artinya makanan ini baru berada disana.


Indra mengambil HP nya yang juga ada di atas meja. Ada pesan dari Sofie dan juga Mama.


"Dra, kamu kemana? Kamu pergi malam tadi? Kenapa gak ada di kamar?" pesan dari Mama.


"Aku lagi di apartemen. Langsung ke kantor dari sini." balas Indra singkat.


Lalu Indra pun membaca pesan dari Sofie. "Dra, aku pergi duluan. Ada meeting penting pagi ini. Sarapannya di makan, ya!🙂"


Pesan dari Sofie terkirim sekitar dua puluh menit yang lalu. Berarti benar dugaan Indra kalau makanan yang ada di mejanya belum lama berada disitu.


"Sofie pergi duluan tanpa menunggu aku bangun? Kenapa dia tidak membangunkan aku seperti biasanya? Aku juga ada metting penting pagi ini," gumam Indra lalu menelpon Sofie.


"Sofie, kamu dimana?" tanya Indra lewat sambungan telepon.


"Aku baru saja sampai di kantor." jawab Sofie yang memang bekerja di kantor papanya yang merupakan rekan bisnis Indra juga.


"Oh, kenapa kamu tidak membangunkan saya?"


"Kamu tidur nyenyak sekali! Aku gak tega membangunkan kamu,"


"Saya puas sekali semalam tadi!"


"Tentu saja! Kamu beda sekali malam tadi, Dra! Kamu... Kamu sangat liar!"


"Liar dan kuat!" Indra menegaskan.

__ADS_1


"Ya, seperti itu..."


"Tapi seharusnya kamu membangunkan saya! Saya ada metting penting pagi ini. Bagaimana kalau saya kesiangan?"


"CEO utama gak apa-apa kan kalau terlambat beberapa menit?"


"Saya selalu tepat waktu!"


"Iya, maafkan aku! Lain kali aku akan membangunkan kamu."


"Oke, aku mandi dulu. Bye?"


"Bye..." Sofie memutuskan sambungan teleponnya dan menghela nafas panjang. Teringat akan kejadian semalam dimana Indra memanggil-manggil nama Marisa saat bercinta dengannya. Hatinya terasa semakin sesak.


"Maafkan aku, Dra... Aku pergi duluan dari apartemen kamu. Aku tidak sanggup menahan rasa sakit saat mendengar kamu memanggil-manggil nama Marisa..! Padahal kamu sedang bercinta bersamaku..! Apakah kamu mencintai Marisa..?" batin Sofie seraya meneteskan air mata.


"Aku tahu selama ini kamu tidak pernah mencintaiku... Kamu hanya menuruti perjodohan kedua orang tua kita. Tapi apakah setelah sekian lama kita bersama dan terikat tali pertunangan, kamu tidak bisa belajar mencintaiku..?


"Ya! Mungkin tidak mudah mendekati apalagi memasuki relung hati kamu yang dingin dan beku. Tapi aku sangat bahagia karena dari sekian banyak wanita di sekeliling kamu, kamu memilih aku sebagai calon pasangan hidup kamu.


"Aku pikir kamu tidak bisa jatuh cinta. Kamu terlalu dingin dan hanya menyukaiku. Kamu hanya tertarik pada kecantikan dan keindahan tubuhku. Aku bisa menerima karena aku yakin kita berdua bisa hidup bahagia walaupun tidak ada cinta di antara kita. Kita bisa saling mengisi dan menerima.


"Sakit hati aku, Dra..! Aku gak bisa membohongi diri kalau aku tidak menerima kamu memperlakukan aku seperti itu! Kamu tidak punya hati, aku masih bisa menerima! Tapi kalau kamu sudah tidak mempunyai perasaan, aku tidak sanggup lagi! Aku sudah tidak berharap masih bisa menjalani ini semua bersama kamu!" ucap Sofie tegas ditengah duka laranya.


*******


Kita kembali pada Marisa yang pagi itu sudah berdandan rapi dan sudah siap untuk berangkat ke kantor. Ada metting penting pagi ini dengan salah satu klien dari Korea Selatan. Marisa sudah menyusun agenda mettingnya kemarin saat masih berada di Bogor.


Sambil sarapan Marisa masih sempat membalas beberapa pesan dari Andro. Sekarang pria itu sudah semakin menunjukkan dominasinya pada Marisa. Mau tidur menelepon, baru bangun menelepon, mau apapun harus saling berkirim pesan. Marisa kadang geli sendiri menghadapi Andro yang bucin nya melebihi Fero dulu.


Ada satu pesan juga dari Indra yang tampaknya di kirim beberapa menit yang lalu. "Kamu masuk kantor hari ini?"


Hanya itu. Tidak ada panggilan "Mar," atau "Marisa,"


Marisa tiba-tiba merasa ada satu desiran aneh dalam dadanya. Ada rasa bahagia mendapat satu pesan dari Indra. Satu perasaan yang sebenarnya pernah dirasakan Marisa pada awal-awal perkenalannya dengan Indra. Sebelum Indra berbuat kasar dan arogan.

__ADS_1


"Sudah tigaa hari aku gak ketemu Pak Indra. Bagaimana kabarnya selama ini? Apakah dia masih marah karena aku pergi ke Bogor? Tapi aku kan menyelesaikan tugas-tugas ku saat berada disana," fikir Marisa.


"Aku harus buktikan pada Pak Indra walaupun aku mengerjakan tugas dari rumah, tapi pekerjaan ku selesai tepat waktu!" Marisa bergegas menyelesaikan sarapannya lalu keluar rumah dan mengunci pintunya.


Gery sudah ada di depan gerbang Marisa dengan senyum lebarnya. "Selamat pagi, kawan!" sapa Gery sok bijak.


"Pagi juga," balas Marisa geli.


"Maaf malam aku gak samperin kamu. Aku tahu kamu pulang tapi mau ke rumah kamu rasanya kagok. Ada Pak Andro,"


"Gak apa-apa."


"Gimana keadaan Reno?"


"Alhamdulillah keadaan sudah stabil. Operasi nya berjalan lancar."


"Alhamdulillah. Lain kali jangan di kasih bawa motor sendiri! Bahaya kan?"


"Iya, Ayah pasti akan memperketat pengawasan pada Reno. Apalagi Reno juga tahu kalau dia hampir lumpuh. Semoga dia jera. Ini adalah kesempatan kedua buat dia."


"Ya udah kita berangkat sekarang yuk?"


"Oke!"


Marisa pun pergi ke kantor dengan berboncengan bersama Gery. Hari Senin pagi yang cerah.


"Oh ya, Mar, hari ini kan kita gajian bulan kedua!" kata Gery saat dalam perjalanan.


"Oh ya? Aku gak inget. Aku tidak berharap gajian. Bulan kemarin juga aku tidak gajian." kata Marisa cuek.


"Iyalah, kamu kan dapet gajian lebih besar dari Pak Andro!" goda Gery.


"Aku gak bermaksud begitu, Ger!" nada suara Marisa terdengar tersinggung.


"Maaf, aku bercanda kok."

__ADS_1


"Tapi aku serius. Aku tidak berharap mendapatkan gaji bulan ini. Apalagi aku udah berani pulang ke Bogor dan gak kerja Sabtu kemarin. Padahal kata Pak Nugraha, gak ada cuti buat karyawan PKL-an."


"Iya masa kamu gak pulang kalau Reno masuk rumah sakit? Tapi tenang aja, Mar. Kalau kamu gak gajian, biar aku yang traktir!"


__ADS_2