My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 192 : Alat Tes Kehamilan


__ADS_3

Tiga hari kemudian Mama sudah benar-benar sehat sehingga Andro juga sudah kembali ke kamarnya. Mulai hari itu juga Andro di minta Indra pergi ke kantor untuk memimpin perusahaan selama Indra di Surabaya.


Pagi itu Andro, Marisa, dan juga Mama sarapan bersama. Selama beberapa hari ini pula Marisa selalu menyiapkan makanan untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Marisa mengerjakan itu semua dengan senang hati karena memang gemar memasak. Lagipula selama Indra di Surabaya, Marisa juga belum pernah ke kantor lagi.


"Mam, saya hari ini ke kantor ya? Indra malam menelepon saya dan meminta saya untuk mengecek keadaan di kantor" kata Andro saat mereka masih sarapan.


"Oh iya, Sayang. Bagus juga kalau kamu ke kantor. Karena sudah lama tidak pernah memantau perkembangan perusahaan kita" kata Mama.


"Tapi Mama udah baikan, kan?"


"Udah, Mama udah baikan. Bagaimana Marisa? Apakah Marisa di minta ikut ke kantor juga?" Mama melirik Marisa.


"Enggak, Mam. Aku di rumah aja jagain Mama" kata Marisa.


"Oh iya. Ada baiknya juga Marisa di rumah. Kasihan selama tiga bulan ini selalu kerja"


"Ya udah kalau begitu saya berangkat sekarang ya, Mam" kata Andro.


"Iya, Sayang"


Andro bangkit berdiri dan mencium tangan Mama.


Saat itulah tiba-tiba Marisa merasa mual sekali dan meminta izin untuk pergi ke belakang.


"Huek! Huek! Aduh maaf, aku izin ke belakang dulu" kata Marisa sambil setengah berlari menuju ke arah dapur.


Indra dan Mama bertatapan. "Marisa sepertinya sakit, Mam. Dia mual-mual" kata Andro.


"Iya, coba kamu lihat keadaan Marisa" kata Mama.


"Sebentar ya, Mam"


Andro segera menyusul Marisa ke arah dapur dan mendapati ternyata Marisa sedang muntah-muntah di wastafel.


"Marisa, kamu sakit?" tanya Andro.


Marisa hanya menggeleng dan kembali muntah-muntah.


Andro segera mengambil air hangat dari dispenser dan memberikannya kepada Marisa. "Ini minum dulu, mar" katanya.


Marisa menerima gelas berisi air hangat dari Andro dan segera meminumnya. "Makasih ya?" katanya.


"Kamu sakit?"


"Mual banget"


"Sarapannya jadi keluar lagi ya"


"Iya, maaf ya. Aku muntah-muntah saat kamu baru selesai makan"


"Gak apa-apa. Sekarang bagaimana keadaan kamu? Apakah kamu mau saya antar ke dokter? Saya tidak usah jadi ke kantor"


"Enggak, Dro. Aku baik-baik saja. Nanti aku pake balsem atau minyak kayu putih, sebentar juga aku akan baikan"


"Apa mau kita panggil dokter Hadi?"

__ADS_1


"Gak perlu ah. Udah kamu pergi aja ke kantor"


"Saya khawatir sekali pada keadaan kamu, Marisa" Andro hendak memegang lengan Marisa tapi kemudian tersadar kalau hal itu kini sudah tidak pantas lagi untuk di lakukan, maka Andro segera mengurungkan niatnya.


"Aku akan baik-baik saja kok. Kamu tenang aja"


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi sekarang ya?"


"Iya"


"Jangan lupa pakai minyak kayu putih nya!"


"Iya"


"Kalau perlu kamu minum juga obat masuk angin cair!"


"Iya"


"Minta kerikan juga sama Mbak yang senggang pagi ini"


"Iya"


"Kalau ada apa-apa telepon saya!"


"Iya, Andro! Ya Allah... Kamu ini bawel banget sih?!" Marisa jadi tersenyum.


Andro yang kini salah tingkah dan garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf, saya berlebihan. Tapi saya benar-benar merasa khawatir sama kamu"


"Makasih ya? Kamu selalu baik sama aku"


"Iya..."


"Ya udah, yuk kita ke depan lagi" Marisa mendahului Andro untuk kembali ke ruang makan. Andro pun segera mengikutinya.


"Marisa, kamu gak apa-apa?" tanya Mama yang masih berada di ruang makan.


"Gak apa-apa, Mam. Aku cuma mual aja" jawab Marisa.


"Apakah kamu sakit?"


"Mungkin masuk angin biasa, Mam"


"Atau jangan-jangan kamu hamil? Kapan kamu terakhir datang bulan?"


Marisa terbengong dan perlahan mulai menyadari kalau dia telah telat datang bulan. Terakhir Marisa datang bulan adalah saat dia baru pulang bulan madu di Bali!


"Iya... Mam. Aku udah dua bulan gak datang bulan. Aku udah telat" kata Marisa malu-malu.


"Ya Allah...! Marisa, Sayang! Kamu pasti hamil! Kamu sudah mengandung anak pertama dari Indra! Kamu akan memberikan cucu pertama untuk keluarga Perdana! Masya Allah... Mama senang sekali! Mama akan punya cucu!" seru Mama yang tampak bahagia sekali!


"Apa iya ya?" Marisa ragu-ragu.


Sementara Andro jadi bengong karena tidak menyangka kalau Marisa mungkin sedang hamil. Ada rasa bahagia yang merayapi hati Andro...


"Andro! Kamu jangan bengong begitu, dong! Segera kamu pergi ke apotek dan beli alat tes kehamilan untuk Marisa!" kata Mama.

__ADS_1


"Saya? Beli alat tes kehamilan untuk Marisa?" Andro semakin terlihat bingung.


"Iya, kamu! Kan Indra sedang tidak ada disini!"


"Tapi, Mam. Saya kan belum pernah beli alat tes kehamilan. Saya harus bilang apa ke penjaga apotek nya?"


"Bilang saja beli alat tes kehamilan!"


"Nanti di tanya untuk siapa?"


"Bilang saja untuk istri kamu!"


"Apa?!" Andro tampak kaget sekali! "Mama ini bagaimana sih? Dulu seperti yang mendekatkan Marisa sama Indra. Eh sekarang seperti yang mendekatkan saya sama Marisa! Yang ada saya jadi baper!" batin Andro!


"Udah, Mam. Biar aku minta Bibi Sari untuk beli alat tes kehamilan nya. Mungkin Andro malu beli nya" kata Marisa.


"Oh, tidak Marisa! Saya mau beli alat tes kehamilan itu untuk kamu! Sebentar ya?!" Andro segera menyanggupi untuk pergi membeli alat tes kehamilan saat melihat Marisa seperti yang agak kecewa.


"Kamu kan harus pergi ke kantor"


"Gak apa-apa, sebentar kok" Andro pun segera tancap gas menuju apotek terdekat.


Tak lama kemudian Andro sudah kembali dengan membawa alat tes kehamilan. Saat itu Marisa sudah menunggu Andro di teras rumah.


"Ini, saya beli dua buah untuk kamu karena kata penjaga apotek nya, kalau beli satu takutnya hasilnya kurang valid jadi bisa di tes ulang" kata Andro.


"Makasih ya" kata Marisa.


"Sama-sama. Kalau begitu saya langsung berangkat sekarang"


"Iya, maaf ya aku merepotkan kamu pagi-pagi begini"


"Gak apa-apa, saya senang kok!"


"Tadi penjaga apotek nya tanya untuk siapa?"


"Iya, saya bilang saja untuk istri saya"


"Dasar!" Marisa nyengir.


"Kan tadi kata Mama begitu" Andro jadi ikutan nyengir.


"Kalau Indra denger, dia pasti marah!"


"Maaf..."


tiba-tiba hati Andro terasa sesak saat mendengar Marisa menyebut nama Indra.


"Iya, Indra juga gak denger kok" kata Marisa.


"Saya berangkat dulu" kata Andro.


"Ya, hati-hati ya. Kalau udah nyampe kabarin Mama!"


"Iya, kamu juga kalau udah ada hasil tes nya, kabarin saya!"

__ADS_1


Marisa mengerutkan keningnya. "Kabarin kamu?"


"Astaghfirullah! Maaf! Maksud saya, kabarin Indra!"


__ADS_2