
Indra mulai memimpin perusahaan dengan di temani oleh Melati. Pada awal pertemuan nya dengan Melati, Indra bersikap dingin dengan hanya bicara seperlunya saja kepada Melati seperti dulu saat pertama Indra bertemu dengan Marisa yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
"Saya tidak mau ada kesalahan sedikitpun dalam perkejaan kamu! Karena saya membutuhkan seorang asisten yang benar-benar serius, teliti dan cermat! Kamu harus mengatur jadwal meeting, mempersiapkan semua berkas metting, mencatat semua hal penting yang ada dalam metting tersebut, dan juga mempresentasikan nya didepan klien!" kata Indra kepada Melati.
"Baik, Pak" kata Melati dengan kepala sedikit menunduk dan penuh sopan santun.
"Saya juga akan mengajak kamu kalau ada acara metting diluar kantor ataupun diluar kota"
"Baik, Pak"
"Oh ya, satu hal yang harus kamu tahu, saat ini istri saya sedang mengandung anak pertama kami. Sebenarnya istri saya adalah asisten pribadi saya di perusahaan ini, hanya saja saat ini usia kehamilan nya sudah menginjak tujuh rupa lebih jadi saya memutuskan untuk mencari asisten pribadi baru. Saya belum tahu apakah istri saya akan keluar bekerja di kantor atau tidak. Kalau perkejaan kamu bagus, saya akan menempatkan kamu di bagian lain di perusahaan ini jika istri saya memutuskan untuk kembali bekerja. Kamu mengerti?!"
"Mengerti, Pak. Kalau saya boleh tahu, siapakah nama istri Anda itu?" kali ini Melati mencoba mencari topik pembicaraan dengan menanyakan tentang istri Indra b
"Namanya Marisa" jawab Indra lalu memperlihatkan foto pernikahan dengan Marisa yang ada di atas meja kerjanya.
"Istri Anda cantik sekali" puji Melati dengan tatapan kagum melihat kecantikan Marisa lewat fotonya.
Indra tersenyum bangga. "Ya, dia memang cantik sekali!"
"Apakah Bu Marisa akan berkunjung ke kantor, Pak? Kalau bisa saya ingin sekali berkenalan dengannya"
"Sejak dua minggu terakhir ini saya meminta istri saya untuk diam di rumah dan hanya keluar disaat-saat weekend saja agar saya bisa menemaninya. Tapi kalau memang kamu ingin mengenalnya, saya akan mengajaknya makan siang bersama kamu jika ada kesempatan"
"Oh ya, Pak Indra. Saya akan senang sekali jika bisa bertemu dengan Bu Marisa"
Melati pun mulai menjalankan tugasnya sebagai asisten pribadi Indra. Sebagai seorang asisten baru, pekerjaan Melati cukup baik. Gadis itu benar-benar cermat, teliti dan rajin. Pekerjaannya tidak pernah salah dan terlambat untuk di kerjakan.
Indra pun cukup merasa senang dengan pekerjaan Melati yang sangat banyak membantunya. Indra merasa kalau dia tidak salah pilih untuk menjadikan Melati sebagai asisten pribadinya.
__ADS_1
Sikap Melati selama bekerja pun bisa di katakan sangat sopan dan beretika. Gadis itu tidak pernah terlambat datang ke kantor, berpakaian sopan dan selalu mengenakan riasan wajah yang tidak berlebihan. Wajah cantiknya selalu terlihat anggun dengan kulitnya yang sawo matang.
Melati juga selalu menjaga jarak dengan Indra. Malahan dalam keadaan sedang bicara berdua pun, Melati tidak pernah menatap wajah Indra secara terang-terangan. Melati lebih sering menundukkan sedikit wajahnya.
Hingga akhirnya seminggu kemudian Indra memutuskan untuk memperkenalkan Melati kepada Marisa. Saat itu usia kehamilan Marisa sudah menginjak delapan bulan. Marisa sudah di haruskan untuk kontrol kehamilan dua minggu sekali.
"Marisa Sayang, besok kan waktunya kita kontrol kehamilan kamu" kata Indra pada malam itu saat mereka berdua berisitirahat di atas ranjang setelah selesai makan malam bersama Mama dan Andro.
"Iya, mulai bulan ini aku harus kontrol dua minggu sekali" kata Marisa.
"Tenang saja, saya akan selalu menemani kamu untuk kontrol kehamilan"
"Gak sabar ya ingin segera ketemu dede bayi..." Marisa mengelus perutnya sendiri yang sudah terlihat sangat besar.
"Iya, saya juga sudah tidak sabar. Saya akan menemani kamu saat proses persalinan nanti" Indra ikut mengelus-elus perut Marisa.
"Beneran ya! Kamu gak takut lihat darah kan?!"
"Aku ingin lahiran normal!"
"Insya Allah. Kalau kata dokter aman, saya izinkan kamu untuk melahirkan secara normal. Yang penting kamu dan bayi kita sehat! Kalian berdua adalah harta saya yang paling berharga!"
"Amin..."
"Oh ya, Marisa. Setelah kita selesai kontrol lagi kamu, kita ke kantor ya?"
"Ke kantor? Boleh! Aku juga kangen main ke kantor! Tumben kamu ngajak aku ke kantor"
"Saya ingin mempertemukan kamu dengan Melati"
__ADS_1
"Oh, iya ya?! Aku belum pernah ketemu sama dia! Melati yang selama dua minggu belakangan ini selalu bersama kamu"
"Kok nada suaranya terdengar tidak enak?!"
"Enggak kok! Aku cuma bercanda"
"Kamu khawatir? Takut saya tergoda dengan Melati?! Tidak mungkin lah! Dia bukan tipe saya! Anaknya juga sopan kok! Kamu pasti bisa bekerja secara profesional!"
"Aku jadi ingin melihatnya"
"Ya makanya saya ingin memperkenalkan kamu dengan dia. Kita sekalian makan siang bersama besok"
"Oke, aku setuju!"
"Ya sekarang kamu istirahat. Besok kan pagi-pagi sekali kita harus ke rumah sakit"
"Oke" Marisa berbaring dan Indra segera mengikutinya.
Indra meraih tubuh Marisa kedalam pelukannya. Di cium nya kening Marisa dan membelai-belai rambutnya dengan penuh kasih sayang. Indra kemudian mencium bibir Marisa yang dibalas Marisa dengan hangat dan mereka berdua pun segera terlibat dalam ciuman yang penuh gairah.
Indra langsung merasa bergairah hanya karena berciuman dengan Marisa. Bagian bawah tubuhnya mengeras dan menegang. Padahal Indra baru saja dua hari lalu melakukan hubungan badan dengan Marisa. Walaupun saat ini kandungan Marisa sudah menginjak usia delapan bulan, Indra selalu saja merasa ingin menikmati tubuhnya. Maka itu Indra masih rutin berhubungan dengan Marisa secara rutin dua sampai tiga kali dalam seminggu dengan cara sangat lembut dan berhati-hati.
Seperti halnya malam itu, Indra tidak bisa menahan keinginannya untuk menikmati tubuh Marisa. Dengan perlahan dan lembut, Indra mulai bergerak meraba-raba buah dada dan menciumi leher juga bahu Marisa sehingga membuat Marisa mendesah mesra.
Indra semakin bernafsu dan mulai melucuti pakaian tidur Marisa yang longgar. Sebentar saja tubuh Marisa sudah tidak mengenakan selembar benangpun dengan perut hamilnya yang justru membuat Indra semakin bernafsu!
Indra tidak tahan lagi, di lumatnya seluruh tubuh Marisa sehingga membuat Marisa merintih-rintih dalam kenikmatan. Dan saat Marisa sudah sama-sama tidak tahan juga, Indra segera menyatukan tubuh mereka berdua dalam kenikmatan yang luar biasa.
"Luar biasa, Marisa...! Bagaimana tubuh kamu jadi semakin nikmat dalam keadaan hamil besar seperti ini?! Ohhhhhhhh...!" Indra sampai menggigil karena merasa tidak sanggup menahan kenikmatan yang dirasakannya saat melakukan hubungan badan dengan Marisa saat itu.
__ADS_1
"Nikmati tubuhku sepuasnya, Dra... Lepaskan hasrat kamu seliar-liarnya...! Ough...!" rintih Marisa saat merasakan bagaimana nikmatnya dalam keadaan disetubuhi oleh Indra malam itu.