My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 157 : Saya Harus Bagaimana?


__ADS_3

Marisa merasa tidak enak juga mendengar kata-kata Indra. Rupanya pria itu sudah berusaha untuk menyenangkan hati Marisa. Tapi bukan seperti itu juga caranya. Terlalu lebay seperti berada di dunia dongeng zaman putri-putrian.


Marisa memegang lengan Indra. "Maafkan saya. Saya tidak bermaksud untuk menyingung apalagi membuat kamu marah. Saya hanya tidak terbiasa dengan hubungan yang terlalu di publikasikan seperti itu. Saya tidak suka menjadi pusat perhatian. Tapi bukan berarti saya juga ingin merahasiakan semuanya. Kita jalani saja dengan normal dan tidak usah berlebihan. Kamu mau mengerti?" katanya.


Indra mendengus kesal. "Saya mulai berpikir kalau kamu memang tidak serius untuk menjalani hubungan dengan saya! Mungkin juga kamu hanya ingin membalas dendam kepada saya karena perbuatan saya di masa lalu. Kamu buat saya jatuh cinta setengah mati kepada kamu dan akhirnya kamu meninggalkan saya!"


"Tidak begitu! Saya menerima kamu karena saya mencintai kamu! Kalau tidak serius, untuk apa saya bawa kamu ke kampung halaman saya?"


"Atau kamu malu kalau saya kesini? Karena saya sudah tua! Sudah ada umur! Saya lebih cocok menjadi Om kamu! Begitu?!"


"Tidak! Kamu jangan salah paham! Saya tidak malu memiliki seorang kekasih seperti kamu! Justru saya bangga karenanya!"


"Omong kosong!" Indra merenggut buket mawar merah yang ada di tangan Marisa dan menginjak-injak nya!


"Indra! Jangan!" pekik Marisa kaget dan berusaha untuk menghentikan Indra yang menginjak-injak bunga mawar merah itu.


Indra malah mengambil buket bunga yang sudah rusak itu dan mencampakkan ke tempat sampah!


"Astaghfirullah! Indra! Apa yang kamu lakukan?! Bunga itu kan untuk saya!" kata Marisa dengan wajah pucat!


"Kamu tidak menyukainya, bukan?! Karena itu sangat tidak berharga! Kamu lebih suka kalau saya memberikan kamu uang?! Oke! Nanti saya akan transfer bunga uang dolar ke rekening kamu!" bentak Indra.


Marisa langsung berkaca-kaca dan menggelengkan kepalanya berulang kali seolah tak percaya dengan perkataan Indra.


"Sudahlah! Tidak usah cengeng! Kita pulang sekarang! Saya juga kan harus segera kembali ke kantor!" kata Indra lalu membuka pintu mobilnya untuk Marisa. "Masuk!" perintahnya keras!


Marisa masuk kedalam mobil Indra dan mobil mewah itupun melaju kencang meninggalkan pelataran parkir gedung kampus Marisa.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Marisa dan Indra saling membisu. Indra menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi dan hati yang menahan jengkel. Sementara itu Marisa diam sambil mengigit bibirnya sendiri untuk menahan tangis yang sudah hampir tumpah.


Hingga mobil Indra sampai di gang tempat kos-an Marisa. Mobil Indra hendak memasuki gang yang nantinya akan berhenti di depan kos-an Marisa, tapi Marisa meminta Indra untuk berhenti.


"Cukup sampai disini! Tidak usah di masukan kedalam gang" kata Marisa.


"Memangnya kenapa?! Kamu mau kelayapan kemana dulu?! Segera pulang! Jangan macam-macam! Kamu sekarang adalah kekasih saya dan kamu harus bisa menjaga nama baik saya!" kata Indra keras!


"Saya tidak akan kelayapan kemana-mana! Saya cuma mau beli nasi bungkus di warteg sana. Ini sudah jam makan siang. Saya lapar" kata Marisa.


Indra tertegun. Benar juga kata Marisa. Saat ini sudah hampir jam satu siang dan Indra juga merasa lapar pada perutnya. Jam makan siang bahkan sudah hampir terlewat!


"Maafkan saya. Saya lupa kalau saya tadinya berniat untuk mengajak kamu makan siang di restoran" kata Indra dengan nada suara sedikit melunak.


"Saya mau makan di warteg saja" kata Marisa.


"Kamu sendiri saja. Saya sudah kelewat lapar"


"Maafkan saya, Marisa. Saya marah sampai tidak ingat untuk mengajak kamu makan siang..."


Marisa tersenyum pahit. Di raihnya tas kuliah dan HP nya yang berada di atas dashboard mobil. Tapi sebelum Marisa turun dari mobil Indra, Marisa masih sempat mendekatkan wajahnya ke pipi Indra dan mengecup lembut pipi kekasihnya itu.


'Cup'


"Terima kasih sudah mengantarkan saya sampai disini. Hati-hati ya di jalan" kata Marisa sebelum akhirnya turun dari mobil Indra dan berlari kecil ke arah warteg.


Bukan main sakitnya perasaan Indra melihat bagaimana Marisa yang tampak pucat dan menangis tapi masih sempat mengecup pipinya dan berterima kasih. Satu penyesalan tumbuh di hati Indra. Membuat dadanya sesak dan matanya hangat.

__ADS_1


"Ya Tuhan... Apa yang sudah saya lakukan?! Saya sudah menyakiti lagi hatinya!" keluh Indra.


'Bugh!' dengan kesal Indra memukul stir mobilnya!


"Maafkan saya, Marisa Sayang... Maafkan saya..." ratap Indra sedih.


Apa yang harus saya lakukan sekarang?! Bagaimana jika Marisa marah dan memutuskan hubungan dengan saya?! Bagaimana caranya agar dia mau memaafkan saya?!


Apakah sekarang saya susul dia ke warteg itu dan meminta maaf langsung kepadanya?! Bertekuk lutut di hadapan nya untuk memintanya memaafkan saya?! Ah! Tidak mungkin! Yang ada nanti dia menganggap saya berlebihan lagi dan semakin muak kepada saya!


Atau saya tanya kepada Andro? Bagaimana caranya merayu Marisa agar gadis itu tidak marah lagi?! Ah! Tidak mungkin juga! Yang ada nantinya Andro akan mempergunakan kesempatan ini untuk kembali merebut Marisa dari tangan saya!


Atau saya ceritakan kepada Gery?! Mungkin anak itu bisa memberikan saya solusi! Dia kan sahabat terdekat Marisa! Ah! Tidak mungkin juga! Saya tahu persis kalau pemuda kelam bernama Gery itu adalah di pihak Andro! Yang ada nantinya dia akan segera menelepon Andro untuk mengabarkan kalau saya ada masalah dengan Marisa!


Lalu saya harus bagaimana?! Apa yang harus saya lakukan?!!!


Baru saja beberapa waktu menjalin hubungan dengan Marisa, saya sudah mengalami masalah! Padahal saya hanya ingin menyenangkan hatinya!


Ini semua gara-gara Bella! Dia bilang kalau wanita akan senang jika dibawakan bunga! Yang ada bukannya senang, wanita yang saya cintai malahan bersikap tidak suka! Akibatnya saya terbawa emosi dan berkata-kata yang menyakiti perasaannya!


Awas kamu, Bella! Kamu harus bertanggung jawab atas masalah yang saya alami dengan Marisa! Kalau bukan karena ide konyol kamu, saya tidak akan bermasalah dengan Marisa!


Dasar Indra Perdana! Bukannya mencari jalan keluar untuk bisa menyelesaikan masalah dengan Marisa, sekarang Indra malah bergegas kembali ke kantor untuk memarahi Bella!


Sampai di kantor, Indra segera pergi ke ruangan Bella yang adalah sekretaris nya dan Bella tampak sedang melanjutkan pekerjaannya setelah selesai jam makan siang hari itu.


"Selamat siang, Pak Indra. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Bella saat melihat Indra memasuki ruangan kerjanya.

__ADS_1


'Brak!' tanpa bicara lebih dahulu, Indra malah menggebrak meja kerja Bella hingga wanita itu terkaget-kaget dan hampir terlonjak dari duduknya!


__ADS_2