My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 153 : Idul Adha di Rumah Marisa


__ADS_3

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar


Gema takbir bersahutan di setiap masjid yang ada. Tanpa terasa mata Indra menghangat. Bahkan tetesan air mata jatuh ke pipinya saat Indra mengerjapkan matanya.


Marisa kaget melihat ada air mata yang menetes ke pipi Indra. Di seka nya air mata di pipi kekasihnya itu. "Dra, kenapa kamu nangis?" tanyanya.


"Saya... Saya tidak tahu ada perasaan apa yang tengah mengusik hati saya ini. Saya teringat masa-masa remaja dulu. Saat Papa masih ada dan sering mengajak saya pergi ke masjid di malam takbir seperti ini" tutur Indra.


"Setelah itu kamu tidak pernah menginjakkan kaki di masjid lagi?"


Indra menggeleng. "Tidak pernah. Setelah memasuki kehidupan di bangku kuliah, saya lebih suka menghabiskan malam takbir bersama kawan-kawan satu band di cafe atau di bar"


"Kamu bahagia?"


"Saya merasa senang, tapi bukan bahagia"


"Hati dan jiwa kamu terasa kosong?"


"Ya... Apalagi setelah kepergian Papa. Hidup saya berubah menjadi sangat sibuk. Mana mungkin saya sempat memikirkan malam takbir. Yang ada hanya perasaan senang karena besok bisa bangun siang. Tidak usah pergi ke kantor"


"Masih menghabiskan malam takbir di bar?"


"Setelah jadi CEO di Perdana Enterprise, saya sudah jarang pergi lagi ke bar. Baru kemarin saja setelah saya merasa hidup saya berantakan karena merasa kehilangan kamu"


"Lalu apa yang kamu lakukan kalau tidak pergi ke bar?"


Indra menatap Marisa. "Kamu janji tidak akan marah kalau saya menjawab pertanyaan kamu?"


"Buat apa saya marah? Hal tersakit pernah saya rasakan selama saya menjadi asisten pribadi kamu dan selama itu pula saya tidak pernah marah"


"Setelah menjadi CEO utama di Perdana Enterprise, saya menghabiskan malam takbir dengan tidur bersama wanita yang menjadi kekasih saya"


Marisa tersenyum kecut. "Sudah saya duga!"


"Maafkan saya, Marisa"


"Tidak apa-apa. Toh itu hanya masa lalu. Saya bahkan masih ingat bagaimana kamu mencium Kayla di depan mata saya..."


"Sudahlah! Saya tidak mau membahas tentang itu!"

__ADS_1


"Saya juga tidak mau!"


"Sekarang saya hanya ingin bersama kamu. Saya tidak akan tertarik kepada wanita lain lagi!"


"Kita lihat saja nanti!"


"Suasana takbir di kampung ternyata lebih terasa damai ya? Para warga terlihat sangat antusias"


"Iya, apalagi kalau malam tahun baru Hijriyah! Warga disini selalu mengadakan pawai obor!"


"Nanti kita akan kesini lagi saat malam tahun baru Hijriyah"


Indra menyadarkan kepalanya di bahu Marisa. "Saya boleh bersandar di bahu kamu, kan?"


"Boleh dong, Sayang!"


Indra melirik Marisa dengan posisi masih bersandar di bahu gadis itu. "Kamu sayang sama saya?"


"Sayang... Banget!" Marisa membelai-belai rambut Indra dan mencium kening pria itu.


Entah mengapa hati Indra terasa sangat tersentuh dengan perlakuan Marisa itu. Mata Indra mulai menghangat lagi. Indra segera menyeka matanya yang basah sebelum ada air mata yang menetes.


"Saya jadi kangen sama Mama..."


"Besok kita pulang ke Jakarta ya"


"Ya, agak sorean"


"Atau setelah shalat Idul Adha di mesjid kita video call dengan Mama"


"Shalat Idul Adha di mesjid?"


"Ya! Kamu besok harus ikut shalat di mesjid!"


"Saya kan bukan warga sini"


"Ya gak apa-apa. Kan ada Ayah dan Reno"


"Ya Allah... Sudah berapa lama saya tidak shalat..."

__ADS_1


"Jangan terlalu terlena dengan dunia. Kita juga kan punya kewajiban kepada Sang pencipta"


"Iya, saya ingin mulai belajar shalat lagi. Mudah-mudahan saya tidak lupa bacaannya"


"Insya Allah kamu bisa!"


"Terima kasih, Marisa. Saya merasa beruntung sekali bisa bertemu dengan kamu. Kamu adalah cahaya dalam kehidupan saya. Kalau kamu tidak hadir untuk saya, mungkin saya masih saja lupa kepada Allah SWT..."


Hari raya Idul Adha pun tiba. Keluarga Marisa pergi ke mesjid untuk melaksanakan shalat Idul Adha. Marisa pergi beriringan dengan Mama sementara Indra bersama dengan Ayah dan Reno.


Sudah lama Indra tidak pernah melaksanakan kewajiban shalat lima waktu apalagiseperti ini. Perasaan Indra menjadi lebih tenang. Terasa damai dan tentram. Perasaan yang sudah lama sekali tidak dia rasakan. Bahkan dalam hatinya Indra bersyukur karena masih hafal bacaan shalat.


Sepulang dari mesjid, Indra bersalam-salaman dengan semua orang yang di temui nya di sepanjang jalan menuju rumah. Hampir semua orang bertanya kepada Ayah tentang Indra yang baru mereka lihat.


"Insya Allah ini calon suami nya Marisa" begitu jawaban Ayah pada setiap orang yang bertanya kepadanya.


Indra merasa sangat bahagia dan segera mengamini kata-kata Ayah. Baru kali ini juga Indra merasa bahagia ada seseorang yang memperkenalkan dirinya sebagai calon suami Marisa.


Pulang ke rumah, Marisa dan Mama sudah menunggu di depan rumah dan langsung menyambut Indra dan Ayah dengan uluran tangan. Mama mencium tangan Ayah. Sepertinya hal nya Marisa yang juga mencium tangan Indra. Mereka saling bermaaf-maafan.


Indra merasa tidak bisa menahan rasa bahagia sekaligus sedihnya saat Marisa mencium tangan dan mengatakan maaf. Bahagianya karena Indra merasa Marisa bersikap layaknya seorang istri kepada suaminya dengan mencium tangan Indra. Sedihnya karena teringat akan semua kesalahan-kesalahan yang telah dia perbuat kepada Marisa selama ini.


"Saya minta maaf ya, Pak Indra Perdana" kata Marisa seraya tersenyum manis.


"Saya yang harusnya meminta maaf, Marisa. Kamu selama ini tidak pernah melakukan kesalahan-kesalahan apapun kepada saya. Kamu justru adalah cahaya terang dalam hidup saya" kata Indra.


"Ya udah, cepetan halalin dong!" seru Reno.


"Amin..." kata Marisa dan Indra bersamaan.


Kemudian Marisa dan Mama menghidangkan makanan khas hari raya yaitu ketupat dengan opor ayam dan semur daging. Lagi-lagi Indra merasakan kebahagiaan saat makan bersama keluarga Marisa.


Setiap hari raya Indra selalu bangun kesiangan dan mendapati Mama dan Andro sudah pergi ke mesjid. Paling siang harinya Indra ikut ke makam Papa. Tidak ada acara silaturahmi ke tempat lain apalagi merayakan bersama-sama dengan sanak saudara seperti yang di lakukan keluarga Marisa saat ini.


Hati Indra semakin mantap untuk memilih Marisa sebagai pelabuhan terakhir dalam hidupnya. Hanya Marisa seorang wanita yang bisa menghadirkan kebahagiaan dan kedamaian dalam hati dan kehidupan Indra.


Bahkan saat melakukan video call dengan Mama nya, Indra juga menceritakan kalau dia ikut merayakan Idul Adha di rumah Marisa bersama keluarganya.


Mama Renata sangat bahagia mendengar kalau Indra ada di kediaman keluarga Marisa dan ikut berlebaran disana. Tidak hentinya Mama Renata mengucapkan terima kasih kepada Mama dan Ayah Marisa melalui sambungan video call karena sudah menerima Indra dengan baik disana. Mama Renata juga meminta agar keluarga Marisa bisa segera ke Jakarta untuk berkunjung ke kediaman keluarga Perdana.

__ADS_1


__ADS_2