
Marisa melenggak kaget. Sosok berpenutup kepala itu bahkan tahu kalau Fero adalah mantan kekasihnya! Siapa dia?! Tapi untuk saat ini Marisa tidak bisa berpikir lebih jauh. Saat ini adalah saatnya untuk menolong Indra agar bisa segera mendapatkan perawatan!
"Aku tidak tahu kamu ini siapa dan apa yang membuat kamu menjadi begitu kejamnya pada Pak Indra! Tapi untuk saat ini aku minta kamu pergi! Jangan sakiti lagi Pak Indra! Pergi!" teriak Marisa.
Sosok itu malah tertawa terbahak-bahak. "Jangan sakiti Pak Indra?! Lalu apakah perbuatannya selama ini yang selalu menyakiti orang lain bisa di benarkan?! Bahkan meminta maaf pun dia tidak pernah atas semua perbuatan jahat yang telah dia lakukan!"
"Mungkin Pak Indra pernah menyakiti kamu, tapi untuk saat ini Pak Indra membutuhkan pertolongan! Kalau tidak dia bisa mati!"
"Biarkan dia mati sekarang juga di tanganku!" sosok itu menerjang ke arah Indra dan hendak menyiksanya Indra kembali, tapi Fero segera mencegatnya dan menahan serangan yang hendak di lancarkan pada Indra. Akhirnya baku hantam Oun tidak bisa terelakkan! Fero berduel dengan sosok itu!
Indra mungkin sedang mabuk, tapi Fero tidak! Fero bisa meladeni sosok itu satu lawan satu! Pukulan dan tangkisan saling beradu menimbulkan suara keras saat dua lengan saling beradu! Dan pada satu saat tendangan keras Fero berhasil bersarang di dada sosok itu hingga membuatnya jatuh terjengkang! Sayangnya saat Fero hendak kembali menendang, sosok itu berhasil menarik ujung kaki Fero dan membuat Fero ikut terjerembab! Perkelahian pun berlanjut dengan posisi saling berbaring dan bergulat di atas tanah!
Marisa yang merasa ngeri segera meminta bantuan dengan berteriak-teriak. "Tolong!!! Tolong!!!" Tapi tidak ada orang di sekitar situ karena para pengunjung bar masih sibuk didalam bar dengan kesenangan masing-masing.
Sosok berpenutup kepala segera mundur beberapa langkah dan merasa tidak aman kalau terus berkelahi dengan Fero. Bagaimana jika banyak orang datang dan menangkapnya?! Lalu dia akan masuk penjara atas tuduhan penganiyaan! Sekarang sebaiknya pergi saja daripada urusan jadi runyam! Yang penting dia sudah menyiksa Indra sampai setengah mati!
"Kenapa mundur?! Ayo maju sini! Lawan gua kalo berani! Atau Lo beraninya cuma sama orang mabok?!" tantang Fero.
"Hahahaha! Dasar bodoh! Kamu membela orang yang sudah memisahkan kamu dengan Marisa?!" kata sosok itu.
"Apa maksud Lo?!" bentak Fero.
__ADS_1
"Aku beritahu agar kamu tidak penasaran! Indra Perdana, orang yang saat ini kamu bela adalah orang yang telah memisahkan kamu dengan Marisa! Kamu masih ingat Herman?! Orang kepercayaan Indra yang mengatakan bahwa Marisa ada hubungan gelap dengan Indra?! Itu semua hanyalah akal-akalan Indra! Karena dia terobsesi ingin memiliki Marisa sebagai simpanannya! Jadi dia menyuruh Herman agar membuat fitnah untuk Marisa! Agar kamu dan Marisa berpisah dan dia bisa dengan leluasa mendekati Marisa!"
Bukan hanya kagetnya Fero dan Marisa. Keduanya saling berpandangan dan merasa kalau kata-kata sosok itu ada benarnya juga! Jauh di lubuk hati Fero dan Marisa kini kembali merasakan sakitnya saat mereka harus terpisahkan dulu! Dan semua itu adalah akal-akalan Indra!
"Kamu bilang apa?! Kamu tidak bohong?!" bentak Marisa!
"Buat apa aku bohong!" geram sosok itu.
"Kalau begitu pastinya kamu adalah Herman! Orang kepercayaan Pak Indra! Iya kan?!"
"Tidak! Herman sudah tidak ada! Yang ada hanyalah dendam membara dari seseorang yang sudah kehilangan masa depan!" sosok itu membuka penutup kepalanya dan kini terlihatlah wajah menyeramkan seorang pria yang rusak! Bisa di bilang kalau wajah itu sangat mengerikan! Rusak dan penuh dengan bekas luka! Bahkan ada satu codet memanjang yang melewati matanya hingga membuat sebelah mata nya itu membrojol keluar dengan sangat menyeramkan!
"Lihat ini! Ini adalah akibat dari perbuatan biadab Indra Perdana! Manusia tidak berperikemanusiaan! Sekarang apa yang bisa aku perbuat dengan wajah yang cacat seperti ini! Jangankan untuk mencari pekerjaan! Melihat wajahku saja orang-orang akan memekik ketakutan!" kata sosok yang memang bukan lain adalah Herman!
"Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi dengan kamu. Tapi sekarang masalah tidak akan selesai dengan kamu menyiksa Indra! Sekarang kamu pergi! Atau kami akan menghubungi pihak kepolisian!" kata Fero.
"Ya, aku memang akan pergi dari sini! Silahkan tolong Indra Perdana kalau kamu memang tidak punya perasaan sakit hati terhadapnya! Dia yang sudah menyuruh aku untuk membuat fitnah tentang Marisa! Dan akhirnya terbukti bukan?! Kamu kehilangan gadis yang sangat kamu cintai!" kata Herman.
Saat itulah HP Herman berbunyi dan Herman segera mengangkatnya. "Halo!"
"Tinggalkan tempat ini sekarang juga! Aku tunggu di mobil!" kata si penelepon.
__ADS_1
"Baik Bos! Saya kesana sekarang juga!" Herman menutup teleponnya dan menatap Fero. "Saya titip Marisa! Kalau bisa kamu dan Marisa kembali bersama dan melupakan semua kesalahan pahaman. Saya minta maaf atas fitnah yang pernah saya buat untuk Marisa. Saya selama ini memang telah mengabdi kepada orang yang salah! Jangan biarkan Marisa jatuh ke tangan Indra perdana! Jangan juga biarkan Marisa bersatu dengan Pak Andro! Karena selama Indra ada di dekat Marisa, dia tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Marisa! Dan setelah mendapatkan Marisa, Indra juga pasti akan mencampakkan nya seperti apa yang dia lakukan pada Sofie! Habis manis sepah di buang!"
Selesai berkata, Herman segera menghampiri mobil yang terparkir di ujung sebelah kiri. Herman pun memasuki mobil itu. Mobil tersebut langsung hidup dan melaju pelan melewati Marisa dan Fero. Kaca mobil itu bergerak turun dan Marisa bisa melihat ada seorang pria tampan yang melemparkan satu senyuman kepadanya!
Marisa tercekat! Dia mengenali siapa orang yang saat itu mengemudikan mobil dan membawa Herman pergi. Henry Adiputra! Astaga! Bagaimana bisa?!
Henry Adiputra, orang yang juga pernah tersakiti oleh Indra. Yang harus kehilangan pekerjaannya karena Indra! Apakah sekarang Henry bergabung dengan Herman? Karena mereka sama-sama mempunyai dendam membara pada Indra?!
"Marisa, hey! Kenapa kamu bengong?!" tegur Fero saat melihat Marisa mematung sambil menatapi mobil yang melaju perlahan meninggalkan pelataran parkir dan membawa Herman pergi.
"Eh! Maaf" Marisa mencoba mengembalikan konsentrasi nya. Sementara Indra saat itu sudah tidak bergerak sama sekali dengan wajah yang berlumuran darah. "Apa yang harus kita lakukan sekarang, Fero?"
"Kita bawa Indra ke rumah sakit!" kata Fero.
"Setelah apa yang Indra lakukan pada kita?"
"Sudahlah, Mar. Yang sudah berlalu tidak mungkin bisa kembali lagi. Kita juga tidak mungkin membiarkan Indra mati disini, bukan?!"
Marisa merasa terharu akan kebesaran hati yang Fero miliki. Maka tanpa sadar Marisa bergerak memeluk Fero dan meneteskan air mata di dada pria yang pernah menjadi pujaan hatinya itu.
"Makasih, Fero! Kamu baik sekali!" bisik Marisa.
__ADS_1