
Hari demi hari pun berlalu. Marisa dan Andro semakin dekat. Setiap Minggu pagi pasti Andro datang ke kos-an Marisa untuk mengajaknya jalan-jalan atau sekedar mengopi bersama Gery di teras.
Di kantor pun sama, kalau Andro sedang ada di kantor dan tidak ada agenda kerja di luar, pasti Andro mendatangi Marisa di ruang CEO dan mengajaknya makan siang. Kadang hanya untuk sekedar mengobrol ringan di meja kerja Marisa.
Marisa sendiri kini sudah tidak lagi berusaha menjaga jarak apalagi menjauhi Andro. Andro begitu baik dan menyenangkan, tampan dan gagah pula. Wanita mana yang akan bisa menolak bila di dekati pria seperti itu. Seorang Andro Perdana itu benar-benar sempurna, baik wajah dan perawakan, maupun tingkah lakunya.
Kalau sudah begini, Indra yang di buat sewot. Beberapa kali Indra murka, baik pada Marisa maupun pada Andro. Tapi sepertinya dua sejoli itu sudah tidak bisa di pisahkan lagi. Indra sendiri tidak mengerti kenapa dia yang jadi panas hati dengan semua ini?! Indra jadi merasa tersaingi dan terkalahkan oleh Andro untuk mendapatkan Marisa.
Hingga akhirnya kekesalan Indra sudah tidak bisa di tahankan lagi. Saat Minggu berikutnya Andro ada acara ke Singapura dalam rangka pekerjaan, Indra meminta Marisa bicara empat mata bersamanya sebelum pulang kantor sore itu.
"Kamu jangan pulang dulu! Saya mau bicara sama kamu!" perintah Indra.
Marisa tahu pasti kalau Indra akan membicarakan tentang hubungan Marisa dan Andro. Maka itu Marisa menyetujui ajakan Indra untuk bicara. "Ya, Pak Indra. Ada apa?"
"Kamu duduk di depan saya! Disini!" Indra menunjuk sofa yang ada di depannya.
Marisa mendekati Indra lalu duduk di sofa yang di tunjuk Indra. "Bapak mau bicara apa?"
"Kamu sudah menjadi kekasih Andro?" tanya Indra.
"Belum, tapi sepertinya akan jadi seperti itu." jawab Marisa berani.
Indra melotot sadis! "Kamu fikir kamu pantas berdampingan dengan Andro?! Dia adik saya! Adik dari Indra Perdana yang terhormat! Kamu siapa?!" bentaknya menggelegar.
"Saya tahu saya bukan siapa-siapa. Tapi Pak Andro mencintai saya. Dia sudah menyatakan perasaannya pada saya!"
"Kamu belum menerima Andro?!"
"Belum,"
__ADS_1
"Kenapa?! Kamu sengaja menggantung adik saya?!"
"Bukan begitu! Saya hanya ingin Pak Andro menjadi kekasih saya kalau Mama nya sudah setuju."
"Itu Mama saya juga!" ralat Indra.
"Maka dari itu, kalau nanti Pak Andro sudah pulang dari Singapore, dia akan mengajak saya makan malam bersama di rumahnya, eh, maksud saya di rumah kalian."
"Kamu tidak akan bisa menginjakkan kaki di rumah saya, walaupun hanya di depan gerbang!"
Marisa hanya tersenyum kalem. "Ya kita lihat saja nanti, Pak Indra yang terhormat. Kalau memang misalnya Mama Pak Andro yang juga adalah Mama Anda ternyata menyukai saya, maka tidak ada lagi alasan untuk saya mengulur-ulur waktu untuk menerima cinta Pak Andro!"
Indra benar-benar berang! "Keterlaluan kamu Marisa! Kamu memikat adik saya hingga sejauh ini! Kamu tidak tahu malu! Ngaca dulu kamu! Ngaca!" Indra meraih lengan Marisa dan mencengkeramnya!
"Aduh!" Marisa mengaduh kesakitan karena cengkraman Indra yang keras. "Sakit, Pak Indra! Lepaskan saya! Atau saya akan berteriak agar semua orang di kantor ini datang ke ruangan ini?!"
"Saya tidak perduli! Ini kawasan kekuasaan saya! Kamu tidak akan di anggap disini!"
"Kamu mengancam saya! Sofie tidak akan percaya pada kamu!" Indra tidak mau melepaskan cengkeramannya.
"Seorang wanita pasti akan lebih percaya pada sesamanya dari pada kekasihnya! Apalagi saya masih menyimpan baju tidur saya yang sobek karena renggutan tangan Bapak! Saya akan memperlihatkannya pada Bu Sofie!"
"Dasar wanita licik! Saya mau tahu sampai dimana keberanian kamu!"
"Saya akan buktikan!"
Akhirnya dengan kesal Indra melepaskan cengkeramannya pada lengan Marisa dengan keras. Khawatir juga Indra kalau Marisa akan menceritakan perbuatannya pada Sofie! "Kali ini kamu selamat! Awas kalau kamu berani bicara sepatah kata pun tentang saya pada Sofie!"
"Takut juga Anda ternyata kalau Bu Sofie tahu perbuatan bejad Anda! Kalau begitu, jangan pernah ganggu hubungan saya lagi dengan Pak Andro!"
__ADS_1
"Kita lihat saja! Mama saya tidak akan menyukai kamu! Kamu gadis kampung dan tidak punya apa-apa!"
"Saya memiliki hati Pak Andro! Putra bungsu keluarga perdana!"
"Kamu mengincar harta keluarga kami?!"
"Saya tidak serendah itu, Pak Indra! Saya masih bisa mencari uang sendiri! Tapi asal Anda tahu! Saya tidak bisa membuat Pak Andro menjauhi saya! Kalau Anda bisa, silahkan saja!"
Indra kehabisan kata-kata. Di tinjunya tembok ruangan dengan kesal! "Pergi kamu dari ruangan saya sekarang juga! Atau saya akan memukul kamu seperti yang saya lakukan pada tembok itu!" bentaknya.
Hati Marisa bergetar juga, takut kalau Indra semakin emosi dan menjatuhkan tangan kasar. Maka Marisa segera berdiri dari duduknya dan berpamitan. "Saya pamit pulang dulu, Pak Indra. Selamat sore."
Indra tidak menjawab apa-apa.
Marisa tidak menunggu lebih lama lagi, dia segera meninggalkan ruangan itu dengan langkah yang cepat.
"Sudah cukup selama ini Pak Indra menghinaku! Aku akan buktikan kalau Mama nya bisa menyukaiku dan menerimaku sebagai pasangan Pak Andro! Sepertinya aku memang harus menerima cinta Pak Andro. Aku tidak ada alasan lagi untuk menggantungnya..." batin Marisa.
"Tapi apakah aku sudah merasa mencintai Pak Andro? Atau ini hanya bentuk dari pembuktian dan rasa benciku pada Pak Indra saja? Tidak baik kalau aku menerima cinta Pak Andro hanya karena aku ingin membalas dendam pada Pak Indra. Ini tidak adil untuk Pak Andro. Tapi aku memang belum bisa mencintai Pak Andro..."
*******
Sementara Indra yang kini tinggal sendiri merasa kalah oleh Marisa. Bukannya berhasil memisahkan Marisa dan Andro, yang ada sekarang Indra yang terancam oleh Marisa!
"Kenapa aku jadi khawatir kalau Marisa bersama Andro?! Aku merasa kalah oleh adikku sendiri! Bagaimana ini?! Aku ingin dia pergi dari fikiran ku! Tapi dia tidak pernah pergi! Kenapa aku bisa setakut ini?! Kenapa aku tidak bisa merelakan Marisa bersatu dengan Andro?! Bukan! Bukan karena Marisa tidak pantas berdampingan dengan Andro, tapi karena aku tidak bisa memilikinya walau satu malam saja! Apakah aku begitu menginginkannya?!" batin Indra berkecamuk.
"Apa aku relakan saja Marisa bersama Andro? Andro tidak pernah serius pada seorang wanita seperti saat ini. Tapi bagaimana dengan perasaan ku sendiri? Aku masih menginginkan Marisa..."
i want let you go
__ADS_1
never let you go