
Indra kembali merasakan hatinya sedih dan matanya mulai hangat lagi. Marisa tidak boleh melihatnya dalam keadaan seperti ini! Indra masih belum bisa untuk jatuh dan luruh di hadapan seorang Marisa! Untuk itu Indra segera menyuruh Marisa agar meninggalkan kamar utama itu. Sebelum air matanya jatuh menetes!
"Sekarang kamu tinggalkan saya sendiri! Saya mau istirahat sejenak! Kalau butuh saya akan panggil kamu! Lagipula bukankah kamu ingin mandi?" kata Indra.
"Iya, Pak Indra. Kamar mana yang bisa saya pakai?" tanya Marisa.
"Kamar tidur yang ada di sebelah kamar ini. Kamu boleh pakai kamar itu. Oh ya, kalau kamu ingin berganti pakaian, ada pakaian Mama saya didalam lemari yang ada di kamar itu"
"Pakaian Mama?"
"Ya, kalau sedang menginap di vila ini, Mama menempati kamar sebelah. Tapi sudah lama juga Mama tidak kesini. Sejak meninggalnya almarhum Papa"
"Tapi apakah saya boleh memakainya?" Marisa ragu-ragu.
"Tentu saja boleh! Saya tahu kamu tidak ada pakaian ganti, besok saya akan belikan kamu pakaian. Malam ini kamu pakai saja pakaian Mama yang ada di lemari itu"
"Apakah benar itu pakaian Mama? Bukan pakaian Bu Sofie?"
"Pertanyaan konyol! Kalau Sofie kesini pasti dia ada di kamar ini dan tidur bersama saya! Mana mungkin dia tidur di kamar sebelah!"
Marisa merasa jadi orang paling bodoh karena barusan bertanya hal itu! "Maaf..." kata Marisa kelu dan segera meninggalkan kamar utama itu.
Sepeninggal Marisa, Indra tidak mampu untuk menahan kesedihannya lagi. Butiran air mata jatuh saat Indra mengedipkan matanya. Baru kali ini Indra menangis setelah sekian lamanya, tepatnya setelah kepergian papa enam tahun yang lalu. Ada rasa sakit yang begitu menghujam relung hatinya.
__ADS_1
"Marisa sudah menyatakan perasaannya. Ternyata dia mempunyai perasaan yang sama dengan saya. Kami saling mencintai. Lalu kenapa saya masih saja tidak bisa untuk menyatakan hal yang sama?! Kenapa saya bisa jatuh cinta kepada Marisa?! Dan kalau sekarang ternyata dia juga mencintai saya, apakah itu artinya kami bisa bersama? Tentu saja bisa! Kalau Marisa mencintai saya, dia tidak boleh bersama Andro!"
*******
Marisa memasuki kamar sebelah dan langsung menangis sedih. Marisa sudah menyatakan perasaan cintanya pada Indra tapi Sang CEO arogan itu malah memintanya untuk meninggalkan nya sendiri.
Marisa juga mendengar sendiri kata-kata Indra kalau pria itu pernah membawa Sofie dan tidur bersama di vila ini. Entah mengapa hati Marisa terasa sakit! Padahal dia bukan siapa-siapa Indra dan bukankah matisa, sudah tahu sejak awal kalau Sofie adalah tunangan Indra?! Marisa seharusnya bisa menyadari kalau pria seperti Indra pasti memiliki hubungan percintaan yang sudah diluar batas wajar.
"Dasar pria arogan! Bisa-bisanya aku jatuh cinta pada pria seperti itu! Yang dengan entengnya berkata kalau dia pernah tidur bersama tunangannya di tempat ini! Lalu kenapa aku jadi sedih! Ya Allah...
Aku bahkan sudah menyatakan bahwa cinta ku kepadanya! Aku seharusnya tidak boleh seperti ini! Tapi aku sudah bertekad untuk mengakuinya kalau dia sudah sadarkan diri. Sekarang bagaimana aku menghadapinya? Dia pasti akan semakin berbuat semena-mena terhadap ku...
Sepertinya keputusan ku untuk ikut kesini adalah keputusan yang salah..."
Marisa membuka lemari besar yang ada di dalam kamar itu dan mendapati bahwa didalam nya memang banyak pakaian yang sepertinya memang milik Mama. Ukurannya besar-besar karena memang Mama Renata bertubuh tinggi besar seperti Indra.
"Kayaknya aku pinjam yang ini aja" gumam Marisa seraya mengambil sehelai daster batik, selain itu Marisa juga mengambil handuk dan mukena yang kebetulan ada di lemari itu. Kemudian Maria pergi mandi dan menunaikan shalat Maghrib.
Setelah itu Marisa kembali ke kamar Indra dengan sudah mengenakan daster batik yang di pinjamnya dari dalam lemari. Indra saat itu tampak sedang duduk di atas ranjang dengan tangan menggenggam HP nya. Indra menoleh saat Marisa muncul dan mata Indra langsung terpana melihat Marisa. Marisa yang tetap tampak cantik walaupun hanya memakai daster batik. Bahkan sesuatu yang ada di balik celananya mendadak jadi tegang!
"Ya ampun! Gadis ini masih saja terlihat cantik dan seksi walaupun hanya memakai daster rumahan! Gila! Bagaimana ini bisa terjadi?! Kenapa saya bisa bernafsu melihatnya?! Sejak kapan saya bisa bergairah dengan hanya melihat seorang wanita berdaster?!" batin Indra.
"Pak Indra, apakah Bapak ingin makan malam sekarang?" tanya Marisa.
__ADS_1
"Saya mau makan kamu" jawab Indra sekenanya.
"Apa?" Marisa tidak mengerti.
"Eh! Maksud saya, saya mau makan bersama kamu"
"Kalau kamu mari saya bantu ke ruang makan" Marisa membantu Indra turun dari ranjang nya, lagi-lagi dengan cara memeluk tubuh Indra agar bisa memapahnya ke kursi roda. Saat itu posisi wajah Marisa berada sejajar dengan dada Indra. Indra bisa mengendus wanginya rambut Marisa yang baru di keramas.
Lagi-lagi Indra merasa bergairah hanyalah karena mengendus wangi rambut Marisa. Tanpa persetujuan Indra malah merundukan wajahnya untuk mencium kening Marisa!
"Eh!" Marisa yang sedang fokus membantu Indra turun dari ranjang menjadi kaget karena Sang CEO tiba-tiba mencium keningnya! Marisa menengadah dan wajahnya kini yang jadi berhadapan langsung dengan wajah Indra!
Tanpa bisa di tahan lagi, Indra merangkul pundak Marisa dan langsung memagut bibir gadis itu dengan lahapnya! Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kejadian sebelumnya dimana Indra mengecupi bibir Marisa dengan lembut, kini justru tidak ada sama sekali kelembutan disana! Indra dengan kasar mengunyah bibir Marisa seolah dia sedang mengunyah sebutir apel merah yang sangat manis!
"Hmph...! Hmph...!" Marisa tidak bisa bersuara karena bibirnya tersumbat oleh bibir Indra!
Marisa sendiri tidak bisa mengelak ataupun menjauh! Marisa justru kembali terhanyut dalam dekapan dan ciuman Indra! Bahkan Marisa dapat merasakan bagaimana darahnya mengalir lebih deras dan sekujur tubuh terasa hangat, rasa yang belum pernah Marisa rasakan sebelumnya. Sensasi gairah yang tercipta oleh dekapan dan ciuman seorang Indra Perdana!
Indra melepaskan ciumannya tapi tidak melepaskan pelukannya. Indra menatapnya wajah Marisa dengan tatapan mata yang seolah ingin menelan gadis itu *****-*****!
"Kamu benar-benar cantik, Marisa Larasati!" desis Indra dan kembali menciumi bibir Marisa dengan membabi buta!
Marisa sendiri kini sudah tidak canggung lagi, kedua lengannya malah terulur dan merangkul leher Indra dengan eratnya. Marisa kemudian membalas ciuman Indra dengan sama kuatnya. Marisa bahkan belum pernah berciuman seintim itu dengan Fero! Ciuman yang begitu panas dan penuh gairah!
__ADS_1