My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 152 : Malam Takbir yang Damai


__ADS_3

Indra terdiam sejenak, kali ini Indra harus berhasil mendapatkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Reno. Apalagi saat ini juga ada Mama dan Ayah yang ikut menunggu Jawa Indra.


"Masalah itu, jadi tunangan saya sudah meninggal dunia" kata Indra.


"Inalilahi wainalilahi roziun" kata Mama dan Ayah berbarengan.


"Oh, jadi begitu. Cepat sekali ya Kak Indra move-on nya" kata Reno.


"Reno!" kata Marisa sedikit melotot ke arah Reno.


"Tidak apa-apa, Marisa. Saya tahu Reno hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Reno bilang dia akan menerima saya asalkan saya bisa membahagiakan kamu" kata Indra.


Marisa tersenyum pada Reno. "Oh, jadi kamu bilang begitu sama Kak Indra?"


"Iya, Kak. Aku cuma gak mau Kakak salah pilih"


"Tidak, Reno! Saya berjanji akan selalu mencoba untuk membahagiakan Kakak kamu! Kami tidak usah khawatir" kata Indra.


"Nah! Awas ya kalau Kak Indra ingkar janji! Laki-laki itu harus bisa di pegang janjinya! Itu kata Kak Andro!" kata Reno yang lagi-lagi membawa-bawa nama Andro.


"Ya, saya berjanji! Saya sangat mencintai Kakak kamu" kata Indra tegas.


Saat itu mulai terdengar suara takbir dari mesjid yang menandakan bahwa esok adalah hari raya Idul Adha. Ada rasa tenang yang Indra rasakan saat mendengar suara gema takbir di kediaman Marisa yang asri.


"Asyik! Besok lebaran Idul Adha!" seru Reno. "Mudah-mudahan banyak orang yang kurban!"


"Kenapa memangnya kalau banyak orang yang kurban?" tanya Indra.


"Ya akan banyak daging yang di bagikan! Apalagi kalau itu daging sapi!" jawab Reno semangat.


"Kamu mau daging sapi kurban?"


"Mau dong!"


"Apakah kamu juga mau berkurban?"


"Kak Indra ini ada-ada saja! Semua orang muslim pasti ingin berkurban kalau ada rezekinya!"


"Kalau begitu kita ke tempat penjualan hewan kurban! Kita beli sapi untuk kurban besok! Kamu mau?"


Reno bengong. "Kurban? Maksudnya kita beli sapi untuk kurban?" tanyanya seolah tak percaya.


Indra mengangguk. "Iya!"


"Asyik! Saya mau! Saya mau!" seru Reno kegirangan!

__ADS_1


"Tidak usah, Nak Indra! Jangan!" tolak Ayah.


"Tidak apa-apa, Ayah. Kan mumpung saya kesini dan ada rezekinya" kata Indra.


"Tapi sapi mahal sekali!"


"Tidak ada yang mahal kalau untuk ibadah"


"Jangan, Dra! Saya tidak mau merepotkan kamu!" Marisa juga menolak Indra.


"Iya, jangan sampai sejauh itu. Lagipula kan Nak Indra baru dekat dengan Marisa" kata Mama.


"Ayah, Mama! Rezeki jangan di tolak!" kata Reno yang kini tampaknya sudah berpihak kepada Indra.


"Iya, kata Reno betul! Saya ikhlas membeli sapi untuk kurban Ayah besok" kata Indra. "Tolong jangan tolak pemberian ini. Anggap saja ini sebagai tanda terimakasih saya atas restu yang sudah Ayah dan Mama berikan kepada saya dan Marisa"


Mama dan Ayah saling pandang dan akhirnya mengangguk. "Ya sudah. Kalau begitu Ayah dan Mama menerima" kata Ayah akhirnya.


Indra tersenyum dan melirik penuh kemenangan pada Marisa yang juga tampak tersenyum manis.


"Hore!!!" seru Reno.


"Kalau begitu kita berangkat sekarang" kata Indra.


"Naik mobil Kak Indra?"


"Asyik!"


"Ayahnya juga ikut. Sapi itu kan untuk Ayah. Jadi Ayah yang pilih sapi nya. Saya juga kan tidak tahu dimana tempat penjualan sapi yang bagus di daerah sini" kata Indra.


"Baiklah, Nak Indra. Ayah akan ikut. Sebelumnya Ayah ucapkan terima kasih" kata Ayah yang merasa amat bahagia karena tidak menyangka kalau akan bisa berkurban tahun ini, Sapi lagi!


"Iya Ayah" kata Indra.


"Iya, Nak Indra. Mama juga ucapkan terima kasih. Mama jadi terharu. Nak Indra baik sekali! Sama seperti Nak Andro" kata Mama.


"Sama-sama, Mama. Saya juga senang bisa di terima dengan baik di keluarga Marisa" kata Indra.


Selanjutnya Indra pun pergi bersama Ayah dan Reno untuk mencari sapi kurban. Sementara Marisa tetap tinggal di rumah untuk membantu ibu memasak sajian untuk hari raya Idul Adha besok. Saat memasak bersama itulah, Mama sempat mengajak Marisa bicara empat mata tentang Indra.


"Kamu yakin dengan pilihan kamu itu, Mar? Apakah kamu sungguh-sungguh Indra?" tanya Mama yang sedang mengulek bumbu halus untuk hidangan opor ayam.


Marisa yang sedang mengupasi kentang mengangguk. "Iya, Ma. Aku yakin dengan Indra. Aku juga sungguh mencintainya"


"Apa tidak sebaiknya kamu sama Andro saja?"

__ADS_1


"Memangnya kenapa dengan Indra?"


"Sepertinya Andro lebih baik"


"Indra juga baik kok, Ma"


"Gak tahu kenapa Mama kok merasa Indra tidak tulus dan sikapnya seperti yang di buat-buat. Mama khawatir Indra cuma mau main-main sama kamu"


"Makanya aku juga gak mau terlalu cepat untuk memutuskan bertunangan apalagi menikah dengan Indra. Aku mau lihat dulu bagaimana hubungan kami selama beberapa bulan kedepan"


"Kamu beralih dari Andro kepada Indra bukan karena Indra yang jadi CEO utama di kantor tempat kamu PKL, kan?!"


"Ya enggak lah, Ma! Aku memang benar-benar mencintai Indra. Aku sudah berusaha keras untuk memantapkan hati aku memilih Andro, tapi aku gak bisa... Indra yang aku cintai. Bukan Andro"


"Ya sudah lah. Terserah kamu saja. Mama cuma bisa mendoakan kamu agar bisa mendapatkan calon suami yang baik dan sayang sama kamu"


"Amin, Mama. Terima kasih"


Sekitar dua jam kemudian, Indra, Ayah dan Reno kembali ke rumah. Reno segera berlari ke dapur untuk mencari Mama dan kakaknya untuk menceritakan tentang sapi yang barusan dia beli bersama Indra.


"Mama, Kak Marisa. Aku sudah beli sapi yang gemuk dan sehat untuk kurban keluarga kita besok!" seru Reno.


"Oh ya? Mana sekarang sapi nya?" tanya Mama.


"Sudah di titipkan di masjid sama Pak ustadz"


"Alhamdulillah ya kita bisa berkurban tahun ini"


"Iya, Ma. Ini semua berkat bantuan Kak Indra!"


Marisa tersenyum. "Hm... Sepertinya Indra sudah berhasil mendapatkan hatinya Reno!" batin Marisa.


"Ya sudah sekarang kamu mandi dan pergi ke masjid! Ikutan takbiran sana!" kata Mama.


"Iya, Mama. Aku gak sabar untuk bercerita sama teman-teman kalau aku besok akan kurban sapi!"


Malam takbir di tempat tinggal Marisa sangat semarak dan damai. Semua rumah tampak ramai menyambut hari raya Idul Adha besok seolah-olah para penghuninya rela bergadang karena tidak sabar menunggu pagi. Tidak ada yang ingin melewatkan malam takbir yang damai ini.


Ayah dan Reno pergi ke masjid. Selepas Isya Mama juga menyusul ke masjid membawakan makanan ringan untuk para bapak-bapak yang takbiran disana.


Tinggalah Marisa dan Indra yang berdua di rumah. Mereka duduk bersisian di sofa ruang tamu dengan di temani kopi hitam panas kesukaan Indra dan cemilan khas hari raya disana.


Indra baru kali ini melewati malam takbir yang khidmat. Sudah beberapa tahun sejak menginjak usia 18 tahun. Indra sudah tidak pernah lagi merasakan bagaimana arti malam takbir.


Pada masa kuliah, malam takbir selalu dia isi dengan mabuk-mabukan di bar bersama kawan-kawan satu tongkrongan. Setelah lulus kuliah dan menjadi CEO muda, malam takbir selalu Indra isi dengan menghabiskan malam panjang bersama kekasihnya.

__ADS_1


Baru kali ini Indra kembali merasakan bagaimana indahnya gema takbir di masjid dan juga dengan di temani oleh Marisa. Gadis cantik yang sudah seratus delapan puluh derajat merubah kehidupannya.


__ADS_2