My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 43 : Menahan Kesedihan


__ADS_3

Keesokan harinya tepatnya hari Sabtu pagi, Marisa kembali masuk kantor dengan perasaan yang getir. Indra membuktikan ancamannya dengan tidak mentransfer uang gaji pertama Marisa sebagai asisten pribadi. Marisa tidak mendapatkan gajinya yang sesuai kontrak sebesar Rp 3.000.000.


Bukan itu saja, sikap Indra yang seenaknya saja membuat Marisa semakin tertekan. Sikap Indra kembali seperti saat pertama Marisa menolak apartemen yang di tawarkannya. Malahan kini cenderung lebih kasar. Indra dengan terang-terangan berani mengatai Marisa bodoh!


"Dasar gadis bodoh! Kamu ini membuat agenda metting saja memakan waktu yang lama! Makanya jangan sombong! Sudah sombong, bodoh pula!" bentak Indra saat Marisa telat sedikit saja menyelesaikan tugasnya menyusun agenda metting untuk hari Senin. Padahal ini baru hari Sabtu!


Kesalahan sekecil apapun bisa membuat Indra langsung naik pitam dan menghina Marisa. Dunia seolah menjadi terbalik. Dimana seseorang yang bersalah malah semakin menekan korbannya.


Dan anehnya lagi yang lebih menyakitkan Marisa adalah saat menjelang sore, Sofie, tunangan Indra tiba di ruangan itu untuk menjemput Indra.


"Hai, Marisa." sapa Sofie ramah.


"Selamat siang, Bu." balas Marisa.


"Oh ya, bagaimana di Sumedang kemarin? Indra tidak main mata dengan wanita lain, kan?" tanya Sofie seraya melirik nakal pada Indra.


Indra cemberut. "Kenapa kamu bertanya seperti itu pada Marisa?"


"Ya aku khawatir saja, bagaimana Marisa?" Sofie kembali menatap Marisa.


"Tidak, Bu. Pak Indra tidak main mata dengan wanita lain selama di Sumedang. Ibu tidak perlu khawatir." kata Marisa.


"Tuh, kamu dengar sendiri kan, Marisa bilang apa? Memangnya kamu masih ragu sama aku?" tanya Indra.


"Iya sayang, maaf." kata Sofie seraya melirik manja pada Indra.


Sofie segera menghampiri Indra, dan Indra memeluk erat tubuh tunangannya itu. Bahkan Indra sempat menatap Marisa dari balik bahu Sofie dengan tatapan merendahkan.


Indra dan Sofie tampak saling merindukan karena seminggu tidak bertemu. Mereka begitu mesra dan tampak begitu saling mencintai.


Marisa merasakan bagaimana hatinya berdenyut sakit. Terbayang kembali Indra saat melakukan hal yang tidak senonoh pada tubuhnya. Bagaimana Indra mencium, meraba, dan memaksanya...


Dan kini di hadapan Marisa, Indra bersikap seolah-olah dia adalah pria paling sempurna di dunia. Bagaimana dia memandang Sofie, merangkul dan membelai rambutnya...


Marisa merasa tidak sanggup lebih lama lagi berada di sana. Menahan kesedihannya yang entah apa sebabnya. Saat jam pulang kantor tiba, Marisa segera membereskan barang-barangnya dan pamit dari ruangan itu.

__ADS_1


Sampai di parkiran, Gery sudah menunggu Marisa. Wajah Gery tampak berseri-seri. "Akhirnya muncul juga, kamu! Lama banget sih!" kata Gery.


"Aku harus menyusun agenda metting untuk hari Senin dan itu harus selesai hari ini juga!" jawab Marisa.


"Nah, sekarang gimana kalau kita belanja! Kita ngeborong!" kata Gery lagi dengan semangatnya.


Marisa menggeleng. "Aku gak ada uang,"


Kening Gery berkerut. "Gak ada uang? Kan kita hari ini gajian! Aku udah dapat transferan tiga juta!"


"Aku enggak..." jawab Marisa sedih.


"Hah?! Kamu jangan bercanda, Mar!"


"Mana mungkin aku bercanda dengan hal sensitif seperti keuangan!"


Gery memegang bahu Marisa. "Kamu gak dapet gaji pertama kamu?! Padahal seharusnya kamu kan mendapatkan lebih dari aku! Apalagi kamu udah ikut tugas ke luar kota! Itu harus ada bonus!"


"Aku gak dapat apa-apa. Aku ada masalah dengan Pak Indra."


"Masalah apa?"


"Tapi kalau sampai dia tidak memberikan gaji pertama kamu sih keterlaluan! Itu kan hak kamu!"


"Iya... Mana aku udah janji mau beliin mainan buat adikku. Dia minta mobil-mobilan remote control," keluh Marisa


"Ya sudah! Sekarang kita ke mall! Kita beli mainan buat adik kamu!" Gery menarik tangan Marisa.


Marisa menggeleng. "Kita pulang saja,"


"Aku yang beliin! Aku gajian kan?!" kata Gery.


"Enggak, Ger! Itu uang kamu. Pakai untuk keperluan kamu. Kamu juga banyak kebutuhan." tolak Marisa.


"Pokoknya kamu harus ikut aku! Kita beli mainan sekarang! Kalau kamu gak mau, berarti kita bukan teman lagi!" Gery menarik tangan Marisa menuju sepeda motornya dan menghidupkannya.

__ADS_1


"Ayo naik!" kata Gery.


Akhirnya Marisa setuju dan naik ke sepeda motor Gery. "Ya sudah. Aku ikut. Terima kasih banyak ya, Ger..."


"Santuy..."


Bukan hanya mainan, Gery juga membeli banyak makanan dan cemilan untuk Marisa. Marisa sudah menolak tapi Gery tetap membelikan Marisa semua yang kira-kira di perlukan Marisa sebagai anak kos-an.


Marisa tidak bisa menolak lagi. Hatinya sangat terharu akan kebaikan Gery. Uang Gery yang tidak seberapa itu, hasil kerja kerasnya selama satu bulan. Tapi sahabat yang baik tidak akan membiarkan kawan nya kesusahan. Apalagi mereka sama-sama di kota orang.


Sampai di kos-an, Marisa turun dari motor Gery dan hendak segera masuk ke dalam rumah. Marisa mencari kunci rumah di dalam tasnya. Namun gerakannya seketika terhenti saat melihat ada motor Fero di depan kos-an Mbak Niki.


"Ada motor Fero, Ger!" kata Marisa dengan nada terkejut, namun ada rasa senang didalamnya.


"Iya! Mana orangnya, ya?" kata Gery sambil celingukan.


Marisa kemudian menyadari sesuatu, ya! Kalau motor Fero ada di depan rumah Mbak Niki itu artinya Fero ada di dalam rumah janda julid itu!


Marisa memegang bahu Gery dan berbisik, "Ger, apa Fero ada didalam rumah Mbak Niki?"


"Gak tahu..." Gery dan Marisa melangkah ke depan rumah Mbak Niki, dan nafas Marisa seolah tercekik di tenggorokan saat dia melihat sandal Fero yang begitu dikenalnya ada di atas keset di depan rumah Mbak Niki.


Wajah Marisa berubah pucat. Kenapa ada sandal Fero disana?! Apakah Fero ada di dalam rumah Mbak Niki? Untuk apa?! Apakah Fero ada hubungan dengan Mbak Niki?!! Padahal baru dua minggu saja mereka putus!


"Fero memang ada di rumah Mbak Niki, Ger..." kata Marisa sedih.


"Sabar ya, Mar... Mungkin ada perlu. Atau aku umpetin aja sandalnya? Biar dia kelabakan nyariin nanti?" usul Gery.


"Jangan, Ger... Jangan dzalim sama orang..." suara Marisa bertambah perlahan. Menahan kesedihan yang begitu dalam.


"Kamu gak apa-apa, Marisa?" tanya Gery.


"Gak apa-apa, Ger. Aku harus bagaimana lagi? Apakah aku harus mengganggu mereka seperti apa yang selalu Mbak Niki lakukan jika Fero ada di rumahku? Aku bukan cewek seperti itu..." Marisa menyusut sudut matanya yang basah.


"Sabar ya, Marisa. Aku berada di pihakmu!" Gery mengajak Marisa tersenyum dengan senyum lebar layaknya badut.

__ADS_1


Marisa mencoba tersenyum tapi jelas terlihat senyum nya itu terpaksa. "Makasih, Ger..."


"Sekarang kamu masuk aja ke dalam. Mandi, ganti baju, dandan. Kita makan malam bersama di depan rumah kamu. Kan kita tadi udah beli nasi goreng di bungkus."


__ADS_2