My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 143 : Kehilangan Indra Perdana


__ADS_3

Prosesi pemakaman Sofie pun akhirnya selesai. Papan nisan sudah di tancapkan dan bunga-bunga pun sudah di taburkan di atas tanah yang masih merah itu. Selanjutnya semua orang yang ikut ke pemakaman itu pun mulai berpamitan seraya mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Sofie.


Indra juga tampak berdiri bersama orang tua Sofie di sebelah makam. Indra tampak gagah dengan setelan serba hitam dan juga kaca mata hitamnya. Indra ikut menerima ucapan belasungkawa dari orang-orang yang hadir disana.


Hingga akhirnya tiba giliran Marisa dan Andro yang mengucapkan belasungkawa kepada Indra dan juga keluarga Sofie. Andro yang menjabat tangan Indra lebih dulu sebelum tiba giliran Marisa.


"Saya turut berduka cita atas meninggalnya Sofie, Dra" kata Andro.


"Ya" kata Indra singkat.


"Kamu akan segera mendapatkan gantinya"


"Amin"


Hingga akhirnya Marisa yang berjabat tangan dengan Indra. Saat itu ingin rasanya Indra memeluk kekasihnya yang kemarin dia tinggalkan di depan gerbang rumah Sofie. Indra ingin mengucapkan kata-kata maaf karena merasa sudah menelantarkan Marisa. Tapi Indra tidak bisa melakukan hal itu. Indra melihat bagaimana raut wajah Mama nya yang seolah berkata kalau Indra jangan bicara apa-apa dulu kepada Marisa.


Marisa sendiri merasa sedih. Marisa merasa jadi orang asing di depan Indra. Marisa merasa menjadi seorang kekasih yang tak di anggap. Saat itu status Indra adalah pria yang sedang di tinggal wafat oleh tunangannya, bukan sebagai kekasih Marisa.


"Pak Indra, saya turut berduka cita atas meninggalnya Bu Sofie" kata Marisa.


Indra tidak berkata apa-apa, hanya menganggukkan kepalanya sedikit.


Marisa pun berlalu dan membiarkan orang-orang yang masih mengantri untuk mengucapkan belasungkawa kepada Indra. Marisa kembali kedalam mobil Andro karena dia datang kesana bersama Andro.


"Kita pulang sekarang?" tanya Andro.


"Ya..." jawab Marisa pelan.


"Kamu sedih? Sedih karena Indra tidak bisa mendekati kamu?"


"Tidak, saya tahu posisi saya saat ini. Saya harus menjaga perasaan keluarga Sofie"


"Kamu tenang saja. Sebentar lagi pasti Indra akan segera menemui kamu kalau urusannya dengan keluarga Sofie sudah selesai"

__ADS_1


"Ya"


"Kita cari makan dulu ya? Saya lapar"


"Saya juga lapar"


Andro tersenyum. "Kamu belum berubah, kamu tetap Marisa yang saya kenal. Marisa yang suka makan"


Marisa mau tak mau jadi ikut tersenyum.


Andro terpana melihat bagaimana cantiknya Marisa saat tersenyum seperti itu. Andro hampir lupa diri dan ingin mencubit pipi Marisa. Andro luoa kalau dia sudah bukan lagi siapa-siapa Marisa.


Andro pun mengajak Marisa mampir ke sebuah restoran untuk makan siang bersama. Saat mereka makan, beberapa kali Indra mencoba menelepon Marisa tapi Marisa tidak mau menjawabnya.


"Kenapa tidak di angkat?" tanya Andro.


"Nanti saja" jawab Marisa.


"Nanti Indra marah lho"


"Ya sudah terserah kamu"


Marisa dan Andro pun melanjutkan makan siang mereka. Setelah itu Andro segera mengantarkan Marisa ke kos-annya.


"Ndro, makasih kamu sudah mau mengantarkan saya selama dua hari ini. Saya merasa sangat merepotkan kamu. Setelah ini saya berjanji tidak akan mengganggu kamu lagi" kata Marisa setelah mereka sampai di depan kos-an Marisa.


"Sama-sama, Marisa. Saya tidak merasa kerepotan kok" kata Andro.


"Kamu tidak usah datang lagi kesini. Mulai sekarang saya akan fokus dengan hubungan saya dengan Indra. Maaf..."


"Tidak apa-apa, saya sudah menduga kalau kamu pasti akan bicara seperti itu"


"Saya juga merasa sedih karena Gery dan Mbak Niki terus menerus berkata seperti yang menyindir saya. Padahal Gery adalah sahabat terdekat saya. Jadi saya minta kamu maklum, kalau kamu kesini lagi pasti mereka akan julid lagi kepada saya"

__ADS_1


"Iya, saya mengerti"


"Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam, Marisa"


Marisa turun dari mobil Andro dan tidak menoleh lagi. Marisa meninggalkan Andro yang sebenarnya saat itu merasakan kepedihan yang luar biasa. Andro sadar kalau dia kini telah kehilangan Marisa untuk selamanya. Marisa telah memilih Indra dan berniat fokus dengan hubungannya dengan kakak kandung Andro itu. Bahkan Marisa meminta Andro agar jangan datang lagi ke tempat tinggalnya.


Marisa sendiri langsung merebahkan diri di atas ranjangnya dan melihat HP nya yang sudah penuh dengan panggilan tak terjawab dari Indra. Marisa menghela nafas panjang. Marisa tidak mungkin bisa menerima telepon Indra untuk saat ini. Indra pasti masih bersama keluarga Sofie.


Panggilan telepon dari Indra berdering sekitar lima belas menit yang lalu dan setelah itu tidak ada lagi panggilan telepon dari pria itu. Sampai sore hari Indra masih belum ada menghubungi Marisa bahkan hingga tiba adzan Maghrib.


Marisa mulai merasa tersisihkan. Kenapa Indra tidak ada menelepon lagi?! Padahal ini sudah menjelang malam. Tidak mungkin Indra masih berada di pemakaman. Ataukah dia masih bersama keluarga Sofie?


Akhirnya Marisa mencoba mengirim pesan WA kepada Indra.


P


Ceklis satu. WA Indra tidak aktif. Marisa mulai merasa khawatir dan tidak enak hati. Apakah Indra marah karena siang tadi Marisa tidak mau mengangkat teleponnya? Ataukah Indra menyesali pilihannya atas Marisa dan menganggap bahwa Marisa adalah penyebab utama kematian Sofie?


Hingga tiba waktunya untuk tidur malam, Marisa masih tidak bisa menghubungi Indra. Marisa merasa tersiksa sekali! Belum pernah Marisa merasa hal seperti ini sebelumnya. Merasa tersiksa karena tidak ada kabar dari Indra.


Ingin rasanya Marisa bercerita pada Gery atau Andro, tapi mana mungkin... Yang ada malah Marisa akan di tertawakan. Bersikeras untuk memilih Indra tapi kini Indra mengabaikannya.


"Kemana kamu, Dra? Aku kangen banget sama kamu... Apakah kamu gak kangen sama aku...?" bisik Marisa dalam kesendiriannya.


Marisa benar-benar merasa kehilangan Indra Perdana.


Akhirnya Marisa pun terlelap dengan memeluk guling nya. Beberapa kali Marisa bahkan sampai menyebutkan nama Indra dalam tidurnya.


Malam berganti pagi dan Marisa terbangun masih dalam keadaaan gelap. Masih pukul 5 pagi. Marisa segera mengambil wudhu dan menunaikan ibadah shalat Shubuh. Setelah itu Marisa kembali mengecek HP nya berharap sudah ada pesan dari Indra. Tapi tidak ada satu pesan atau satu panggilan video pun!


Marisa mulai merasa kehilangan sekaligus kesal kepada Indra! Ini sudah berganti hari dan Indra masih belum juga ada kabar! Bahkan WA nya pun masih belum aktif!

__ADS_1


"Keterlaluan kamu, Indra Perdana!" geram Marisa kesal! "Kalau kamu datang kesini, saya tidak akan mau menemui kamu! Saya tidak akan mau melihat wajah kamu! Saya tidak akan mengizinkan kamu untuk mencium saya! Awas kamu!"


__ADS_2