My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 20 : Kamu Mau Jadi Pacar Saya?


__ADS_3

Dua minggu menjadi asisten pribadi seorang CEO tampan bernama Indra Perdana bukannya membuat Marisa bahagia tapi malah membuatnya susah! Susah hati, susah pikiran, juga susah bekerja!


Bagaimana tidak? Selama dua Minggu ini Indra terus saja membuat Marisa kesal dan kesusahan! Menangis? Oh tidak! Marisa sudah bertekad tidak akan menangis lagi hanya karena penindasan yang dilakukan oleh Indra Perdana! Walaupun sebenarnya Marisa ingin sekali menjerit histeris sejadinya karena beban hati yang kadang tidak sanggup dia tahan lagi!


Yang anehnya, Gery juga mendapatkan perlakuan yang sama! Kadang mendapatkan perlakuan kasar dari Herman yang adalah orang kepercayaan Indra, kadang juga mendapat tugas yang tidak masuk akal!


Marisa pernah berpikir untuk berhenti menjalani PKL di Perdana Enterprise tapi Gery menghibur dan menyemangatinya. "Kamu harus kuat, Mar! Kita tinggal selangkah lagi menuju kelulusan! Kalau tidak saat ini lalu kapan lagi? Kita juga mau kan, bikin bangga orang tua kita dengan menjadi sarjana dan segera bisa kerja? Kita nanti bisa jadi tulang punggung keluarga! Kita balas berkali lipat semua usaha orang tua yang sudah susah payah menyekolahkan kita sampai sarjana!"


Mendengar kata-kata Gery membuat Marisa kembali bersemangat dan bertekad menjalani masa PKL nya sampai selesai. "Kamu benar, Ger! Masak hanya karena seorang Indra Perdana, aku tidak bisa lulus kuliah tahun ini! Oke! Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjalani masa PKL ini dengan sebaik-baiknya!"


Marisa memilih bersikap seperlunya dengan Indra. Menyelesaikan tugas sebaik mungkin dan meminimalisir kata-kata saat berhadapan dengan Indra. Marisa layaknya sebuah robot yang tidak ada emosi dan perasaan jika ada di dekat Indra. Tubuhnya seolah sudah di program untuk bekerja dan tidak melakukan hal-hal yang diluar pekerjaan jika berhadapan dengan Indra.


Hingga suatu hari di minggu ketiga Marisa bekerja di Perdana Enterprise, selasa pagi itu Marisa sedang berkutat menyelesaikan design hunian yang pernah ditugaskan Indra padanya. Sementara Indra belum muncul di kantor karena ada jadwal fitnes.


Pagi itu justru Andro yang muncul di ruangan CEO dan bertemu dengan Marisa. Andro muncul dengan seikat bunga dan sekotak coklat untuk Marisa. Senyumnya yang manis membuat ketampanannya semakin sempurna saat dia menyapa Marisa. "Hai, selamat pagi, Marisa!"


"Selamat pagi, Pak Andro!" Marisa balas menyapa.


"Ini untuk kamu, maaf baru bisa ke kantor sekarang. Aku ada urusan bisnis keluar negeri beberapa hari ini." Andro menyerahkan seikat bunga dan sekotak coklat yang dibawanya pada Marisa.


"Ini buat saya?" tanya Marisa.


"Iya, ini coklat dari Swiss."


"Wah! Terima kasih banyak Pak! Jadi merepotkan saja!"


"Tidak kok! Itu oleh-oleh khusus untuk kamu."


"Katanya coklat Swiss itu istimewa, ya?" Marisa menaruh pemberian Andro di meja kerjanya.


"Ya, seistimewa kamu!" goda Andro sambil memandang lekat pada Marisa.

__ADS_1


"Bapak bisa saja!" wajah Marisa pun memerah.


"Haha! By the way, kamu lagi sibuk? Indra belum muncul di kantor?"


"Pak Indra ada jadwal fitnes hari ini."


"Itu kamu lagi buat apa?"


"Iseng aja Pak."


Andro memutar posisi laptop Marisa agar bisa melihat apa yang sedang di kerjakan Marisa. "Wow! Ini design buat perumahan yang lagi dibangun Indra di luar kota, ya?"


"Iya, saya di minta Pak Indra membuat denahnya. Tapi sepertinya ini tidak bagus! Saya juga bukan mahasiswa yang kuliah di bagian arsitektur." ucap Marisa pesimis.


"Ini sih keren banget, Marisa! Ini minimalis tapi gak norak! Lahan yang kecil itu bisa kamu bikin multifungsi seperti ini! Gak sangka kamu punya bakat terpendam, ya?" Andro malah memuji hasil pekerjaan Marisa. Mata Andro memandang takjub pada layar laptop Marisa.


"Masak sih bagus, Pak?" tanya Marisa. Dalam hatinya ia merasa sangat senang karena hasil karya dadakannya dipuji oleh Andro.


"Mungkin saja, Pak! Kalau dia ingin mengerjai orang itu!" umpat Marisa dalam hatinya.


"Lihat saja nanti kalau Indra datang, saya yakin dia akan langsung menyetujui ide design buatan kamu! Ini proyek besar, Mar! Indra serius banget mengurus proyek yang satu ini!"


"Pak Indra punya banyak bisnis ya, Pak Andro?" tanya Marisa.


"Iya, awalnya Perdana Enterprise ini adalah peninggalan almarhum Papa kami yang hanya bergerak di bidang expor-impor. Tapi sejak beberapa tahun dipimpin oleh Indra, Perdana Enterprise berkembang pesat dan menggurita! Indra seorang pekerja keras dan ambisius! Selain expor-impor, Perdana Enterprise juga punya kafe, clothing, dan yang terbaru ini adalah proyek perumahan yang kamu buat denahnya itu!"


Marisa pun takjub dan bertepuk tangan. "Untung gak sampe botak kepala Pak Indra mikirin bisnis yang sebanyak itu!" celoteh Marisa membuat Andro tertawa renyah.


"Kamu lucu, Marisa!" celetuk Andro.


Marisa tersadar kalau dia sudah kelepasan berceloteh. "Maaf, Pak Andro..."

__ADS_1


"Indra gak akan botak! Kalau saya, mungkin saya yang akan botak! Makanya saya lebih suka bekerja di luar ruangan, out door! Lebih nyaman dan tidak terikat jadwal! Bisa traveling juga! Saya juga sadar, saya tidak secerdas Indra!" kata Andro.


"Kalau Mama masih ada Pak?" tanya Marisa, tiba-tiba kepo dengan kehidupan pribadi Indra dan Andro.


"Alhamdulillah Mama masih ada! Beliau juga sehat! Indra dan saya sangat sayang sekali pada Mama! Kami akan berjuang keras untuk membahagiakan Mama!"


"Dengan semua bisnis yang Pak Indra miliki, Mama pasti bangga dan bahagia!"


"Bangga pastinya, Mar! Tapi Mama punya satu keinginan yang belum bisa saya ataupun Indra wujudkan!"


"Apa itu, Pak?"


"Mama ingin sekali Indra dan saya segera menikah. Memiliki istri dan anak-anak. Mama suka sekali pada anak-anak! Mama menjadi donatur utama di beberapa panti asuhan. Mama juga rutin menengok anak-anak asuhnya di panti. Katanya Mama ingin cepat punya cucu sendiri!"


"Lalu kenapa Pak Indra belum juga menikah? Dia sudah bertunangan dengan Bu Sofie, kan?"


"Gak tahu tuh! Kayaknya Indra terlalu sibuk dengan semua bisnisnya! Gak ada pikiran buat nikah! Padahal tunangan sama Sofie udah lama juga!"


"Iya, ya? Padahal Pak Indra udah tiga puluh tiga tahun! Harusnya udah punya anak dua!"


"Kalau saya gimana? Saya udah cocok punya anak?" goda Andro.


"Cocok juga sih, Pak. Mungkin udah cocok punya bayi!" kata Marisa polos.


"Punya bayi? Pacar aja gak punya!" keluh Andro.


"Masak, sih?" tanya Marisa tidak percaya.


"Serius! Tapi setelah melihat kamu pertama kalinya, saya jadi ingin punya pacar!"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena kamu cantik, kamu juga baik! Saya suka kamu, Marisa! Kamu mau jadi pacar saya?" Andro tiba-tiba menanyakan satu hal yang membuat Marisa sangat terkejut!


__ADS_2