
Indra Perdana menatap tajam pada Marisa. "Saya tidak mau tahu! Kamu selesaikan design itu sekarang! Kalau kamu bisa lebih cepat bekerja dan tidak banyak bicara, maka kamu akan bisa lebih cepat bertemu dengan pacarmu, si Fero itu!"
Marisa menghela nafas panjang. Tersadar kalau seorang Indra Perdana tidak bisa dibantah ataupun sekedar di ajak berkompromi. Marisa mengambil laptopnya dari meja Indra lalu mulai melaksanakan pekerjaannya dengan merubah denah rumah di bagian kamar tidur anak yang menurut Indra masih kurang pencahayaan.
"Aku harus bekerja cepat! Agar aku bisa segera bertemu dengan Fero! Mudah-mudahan dia juga belum sampai kesini!" batin Marisa.
Sementara itu, Indra dengan senyum liciknya diam-diam mengirim pesan pada Herman.
Her, saya tidak mau tahu! Kamu harus bisa membuat pacar Marisa pergi dari kantor ini! Saya tidak mau mereka bertemu hari ini!
Herman yang langsung membaca pesan dari atasannya itu segera membalas.
*T*enang, Pak Indra! Saya akan membuat laki-laki itu pergi dari kantor ini. Bahkan pergi dari kehidupan Marisa.
Indra tersenyum puas. "Membuat Fero pergi dari kehidupan Marisa?! Luar biasa! Herman memang bisa diandalkan!" batinnya.
Indra melirik Marisa yang tampak serius mengerjakan tugas darinya. "Bekerjalah yang tenang, Marisa! Cepat ataupun lambat pekerjaan kamu, itu tidak akan merubah apapun! Kamu tetap tidak akan bisa bertemu Fero untuk merayakan hari ulang tahunnya!"
Sekilas terpikirkan oleh Indra kenapa dia tidak suka kalau Marisa bertemu dengan Fero? Apakah karena dia pikir Marisa adalah asisten pribadi yang hanya bekerja untuknya, sehingga berpacaran hanya akan merusak fokus kerjanya, ataukah ada hal yang lain?!
"Apa aku menyukai Marisa?!" fikir Indra sekilas, lalu ia merasa takut sendiri! "Mana mungkin aku menyukai Marisa! Gadis itu sama sekali tidak selevel denganku! Jangankan untuk aku sukai! Untuk Andro sukai pun itu sudah tidak pantas!
"Tapi harus aku akui kalau dia sangat cantik! Wajahnya sempurna. Tubuhnya proposional. Kulitnya mulus. Tapi tetap saja dia tidak pantas untuk aku sukai! Hanya Sofie wanita yang aku sukai! Tidak ada yang lain!"
"Pak Indra," Marisa tiba-tiba memanggil.
"Ada apa?!" bentak Indra gusar.
"Saya khawatir Fero sudah ada di bawah! Saya boleh kirim WA? Saya mau minta dia untuk menunggu saya sebentar." kata Marisa.
Indra terdiam sejenak. Hatinya tidak rela kalau Marisa mengabari Fero yang berarti mereka akan baik-baik saja! Tapi sedetik setelah itu, Herman mengiriminya pesan. Indra pun segera membacanya.
*B*eres Pak! Laki-laki itu pasti akan pergi selamanya dan meninggalkan Marisa!
"Hm!" Indra tersenyum licik setelah membaca pesan dari Herman lalu menatap Marisa. "Kamu ingin mengabari Fero?"
"Iya, Pak." wajah Marisa sesaat berseri.
"Silahkan!"
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Pak!" Marisa segera mengambil HP nya dan menelepon Fero via WhatsApp call. Tapi tidak ada sambungan. "Kok gak aktif, ya?" keluh Marisa.
"Mungkin gak ada kuota!" kata Indra mengomentari.
"Coba saya kirim WA." kata Marisa lalu mengirim WA pada Fero.
*S*ayang, kamu dimana?
Tapi pesan WA Marisa tidak sampai ke Fero, alias ceklis satu.
"Gimana?" tanya Indra.
"Ceklis satu, Pak." jawab Marisa.
"Ya berarti gak ada kuota!"
"Masa sih? Fero selalu isi kuota bulanan, Pak. Kalau ada pemotretan mendadak di lokasi kerjanya kan ribet kalau gak ada kuota."
"Atau sinyalnya jelek! Coba kamu pakai telpon biasa."
"Iya, Pak" Marisa kini coba menelepon Fero dengan menggunakan telepon biasa, tapi tidak di angkat. "Gak di angkat," keluh Marisa.
"Ya sudah! Kamu kerjakan lagi tugas kamu! Jangan bikin saya kesal!" hardik Indra.
Sementara itu, Indra malah senang melihat wajah Marisa yang tampak kebingungan. "Rasain kamu, Marisa! Makanya jangan pacaran terus!"
Setengah jam kemudian barulah Marisa menyelesaikan pekerjaannya dan menyerahkannya pada Indra. Indra memeriksanya dengan teliti. Sebenarnya hasil pekerjaan Marisa yang pertama sudah bagus, tapi kali ini Indra merasa lebih sempurna.
"Bagus, Marisa! Saya tidak salah memilih kamu untuk ikut bergabung dalam proyek ini. Senin depan kalau tidak ada halangan, kita akan berangkat ke Sumedang untuk memulai pembangunan proyek ini. Kamu ikut dengan saya kesana!" kata Indra.
Marisa merasa senang karena hasil pekerjaannya dikatakan bagus oleh Indra. Sejenak rasa khawatir karena Fero yang tidak bisa dihubungi terasa berkurang. "Baik,
Pak! Saya akan ikut Bapak kesana."
"Kalau begitu, kamu boleh pulang."
"Saya boleh meninggalkan ruangan lebih dulu, Pak?"
"Silahkan!"
__ADS_1
"Selamat sore, Pak Indra."
"Hm!"
*******
Marisa sampai di gerbang gedung perkantorannya. Dia celingukan ke tempat parkir motor mencari sosok Fero yang biasanya menunggu disana saat jam pulang kantor. Tapi Marisa tidak menemukan Fero disana.
"Fero mana, ya? Apa dia belum kesini? Mana mungkin! Ini udah jam 5!" gumam Marisa lalu mencoba menelpon Fero. Masih belum bisa tersambung! Malahan kini HP Fero juga tidak aktif. Marisa merasa tidak enak hati. Khawatir terjadi sesuatu pada Fero!
"Coba aku telpon Gery!" gumam Marisa lalu menelpon sahabatnya itu. Tak menunggu lama, langsung tersambung.
"Halo, Mar?"
"Ger, kamu dimana?"
"Baru nyampe kos-an. Kamu dimana Mar? Udah di restoran seafood?"
"Aku masih di kantor, Ger!"
"Lho? Kok masih di kantor? Udah sore lho, ini!" nada suara Gery terdengar khawatir.
"Aku ada tugas tambahan dari Pak Indra. Ini aku baru keluar kantor. Tapi gak ada Fero disini. Padahal kan kita udah janji mau ketemu."
"Kemana ya, Fero?!"
"Gak tahu, Ger. HP nya juga gak aktif."
"Gimana kalau sekarang aku jemput kamu kesana?"
"Jangan Ger! Kamu kan baru sampai kos-an! Masa sekarang balik lagi kesini! Biarin aku naik taksi online aja."
"Maaf ya, Mar, aku kira kamu udah bareng Fero."
"Iya, Ger. Gak papa!"
Marisa menutup teleponnya dan memesan taksi online untuk pulang ke kos-an. Marisa masih bingung kenapa Fero tiba-tiba tidak bisa di hubungi. Marisa takut terjadi sesuatu pada Fero. Padahal ini hari ulang tahun Fero. Harusnya mereka merayakannya berdua. Tapi kenyataannya...
Sementara itu, Indra tengah memperhatikan Marisa dari jendela ruangannya. Indra melihat bagaimana akhirnya Marisa pulang dengan menaiki taksi online.
__ADS_1
"Ya Tuhan, semoga Fero baik-baik saja... Gak biasanya Fero susah untuk dihubungi seperti ini!" batin Marisa.
Indra tersenyum puas. "Marisa tidak jadi bertemu dengan pacarnya! Herman benar-benar hebat! Aku harus tahu apa yang Herman perbuat sehingga Fero menghilang begitu saja dan tidak bisa di hubungi!" gumam Indra.