
Indra tidak perduli walaupun hari itu Sofie terus mencoba untuk menghubunginya. Malahan Indra sengaja mematikan HP nya dan pulang ke rumahnya. Indra bahkan tidak turunkan ke lantai bawah untuk makan malam bersama Mama hingga makan malam nya di antar ke kamar tidur oleh Mama.
Indra tampak pucat, tidak bersemangat, tidak mandi dan bahkan tidak mengganti pakaian kantornya. Indra tertidur dengan posisi tengkurap di atas ranjang dengan masih mengenakan sepatu kantornya.
Mama merasa sangat sedih sekali. Tidak biasanya Indra seperti ini. Si putra sulung kebanggaan keluarga Perdana. Yang selalu bisa di andalkan sebagai tulang punggung dan juga sosok pelindung untuk Mama dan adiknya. Sosok yang pantang menyerah dan selalu optimis dalam menghadapi situasi apapun.
Dan kini Indra terbaring telungkup tidak berdaya seolah tidak punya lagi semangat hidup. Padahal ini malam Minggu, malam dimana biasanya selalu Indra lewati dengan semangat bahkan sejak masih remaja dulu.
Indra selalu mandi lebih awal, berpakaian rapi dan selalu berpenampilan modis di malam Minggu walaupun dia hanya sekedar melewatinya dengan teman-teman satu tongkrongan. Indra yang selalu marah jika Andro tidak mau mandi dan bermalas-malasan di atas ranjang dalam keadaan masih memakai pakaian dinas.
Tapi kini, Indra seolah berubah menjadi sosok tidak berdaya, tidak bergairah dan tidak punya semangat hidup. Mau di bawa kemana keluarga Perdana ini jika sang pemimpin tumbang seperti itu?!
Mama membelai lembut pipi Indra dan merasakan kalau pipi putra sulung nya itu panas. "Dra... Kamu demam? Kamu sakit, Sayang?" tanya Mama.
"Marisa... Marisa..." Indra malah menyebut nama Marisa.
Mama menghela nafas panjang.
"Indra, sejauh itu kamu memikirkan Marisa? Sedalam itu kamu mencintai dia? Sampai dalam keadaan tidak sadarkan diri pun kamu tetap menyebut nama Marisa? Kasihan sekali kamu, sayang. Apakah Mama harus bicara pada Andro? Mungkin dia mau mengerti..." batin Mama sedih.
"Kamu adalah seorang pria yang kuat, Dra! Kamu adalah harapan dan kebanggaan keluarga kita! Mama dan Andro tidak akan bisa seperti ini tanpa adanya kamu. Bahkan saat Papa meninggalkan kita semua pun, kamu adalah orang yang lebih dahulu bangkit dari kesedihan dan mengambil alih kepemimpinan dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga"
"Mama tidak sanggup melihat kamu seperti ini, Dra! Bagaimana jadinya jika kamu rapuh seperti ini? Siapa yang akan menjaga Mama dan juga Andro? Semua akan baik-baik saja kalau kamu ada. Semua akan aman kalau kamu kuat. Karena kamu adalah penopang utama keluarga kita!"
*******
__ADS_1
Sofie tersadar dan mendapati dirinya sudah berada di pembaringan sebuah klinik. Sofie lalu ingat kalau tadi dia pingsan saat Indra meninggalkannya. Indra tidak mau menoleh apalagi menghampirinya. Indra pergi begitu saja dan sama sekali tidak perduli padanya.
"Bu, Anda sudah sadar?" tanya seorang perawat yang saat itu berjaga di klinik tersebut.
"Saya dimana?" Sofie balik bertanya.
"Ibu berada di klinik lantai bawah gedung apartemen. Tadi ada dua orang room boy yang mendapati Ibu pingsan di koridor. Apakah Ibu salah seorang dari penghuni apartemen ini?"
"Bukan, saya hanya tamu disini"
"Ada keluarga yang bisa di hubungi?"
"Tidak apa-apa. Saya mau pulang saja. Saya baik-baik saja" Sofie berusaha turun dari ranjang perawatan tapi kepalanya berdenyut sakit dan tubuhnya kembali jatuh terbaring ke atas ranjang perawatan.
"Ibu tidak bisa pulang sendiri. Kondisi Ibu sangat lemah. Lebih baik Ibu menelepon pihak keluarga untuk membawa Ibu ke rumah sakit terdekat untuk observasi lebih jauh. Karena disini hanya klinik kecil. Kami hanya memberikan pertolongan pertama saja"
"Halo, Bu Sofie? Ibu masih ada di apartemen? Saya menunggu lama sekali!" terdengar suara Herman.
"Maaf Herman, saya tadi pingsan di koridor dan sekarang saya ada di klinik" kata Sofie.
"Lho, Pak Indra kemana?"
"Saya tidak tahu dimana Indra. Saya mau minta tolong pada kamu. Tolong sekarang kamu kesini. Saya ada di klinik di lantai bawah. Tolong bawa saya pergi dari sini. Saya harus ke rumah sakit"
"Oh, baik Bu. Saya segera kesana!"
__ADS_1
Herman segera menemui Sofie dan membawa Sofie ke rumah sakit terdekat. Sofie merasa tidak enak juga karena tadi sempat menyebut nama Herman di hadapan Indra. Indra pasti sekarang marah besar pada Herman.
"Sebenarnya apakah yang telah terjadi, Bu? Kemana Pak Indra? Apakah Ibu berhasil menemui Pak Indra bersama Kayla?" tanya Herman saat dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Saya belum bisa cerita banyak, Herman. Saat ini kepala saya sakit sekali!" kata Sofie.
Sebenarnya banyak yang ingin Sofie ceritakan pada Herman, tapi saat ini Sofie tidak bisa bicara banyak. Kepalanya terasa sangat sakit seperti di tusuk-tusuk. Beberapa bulan terakhir ini Sofie memang kerap di serang sakit kepala yang hebat. Tapi Sofie selalu memilih minum obat pereda nyeri dan beristirahat jika rasa sakit itu menyerangnya.
Dan saat ini kepala Sofie sudah sangat sakit sekali. Mau tak mau Sofie harus memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Maka itu Sofie meminta Herman mengantarkan dirinya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Sofie langsung masuk ke ruang IGD dan mendapatkan penanganan serius, keadaannya di observasi secara mendalam dan menyeluruh.
Sementara Herman memilih pulang karena hari juga sudah malam. Sofie mengizinkan Herman untuk pulang karena tidak enak juga kalau terus-menerus merepotkan Herman. Sofie belum menghubungi Papa Mama nya dan memilih menjalani pemeriksaan intensif sendirian.
Lama Sofie menunggu hingga akhirnya dia di minta untuk menemui dokter di ruangannya. Dengan keadaan masih lemah, Sofie menemui dokter untuk mengetahui hasil pemeriksaannya.
Dan hasil pemeriksaan dokter itu benar-benar membuat Sofie kaget dan tidak percaya.
""Bu Sofie, setelah observasi yang telah kami lakukan secara menyeluruh terhadap Anda. Kami menemukan adanya sel-sel kanker yang telah tumbuh di kepala Anda. Menurut hasil pemeriksaan, kanker tersebut sudah sampai pada stadium empat. Kami sarankan Anda segera menjalani pengobatan dan kemoterapi. Semua aktifitas Anda sebaiknya di hentikan untuk sementara waktu. Anda harus fokus dalam menjalani pengobatan. Karena kalau tidak bisa berakibat fatal"
Sofie menggeleng lemah karena syok dan tidak percaya pada pendengarannya. Kanker?! Sudah stadium empat?! Dan saat Indra telah meninggalkannya?! Ya Tuhan...! Sofie tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana menghadapi masalah ini.
"Bagaimana, Bu?" tanya sang dokter.
"Saya harus berkonsultasi dengan keluarga saya dulu mengenai langkah apa yang akan saya ambil, dokter" kata Sofie.
__ADS_1
"Ya, saya mengerti. Kalau begitu segera bicarakan hal ini dengan keluarga Ibu agar bisa mendapatkan penanganan secepatnya!"