My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 109 : Pengakuan Marisa


__ADS_3

Fero memapah tubuh Indra yang tinggi besar masuk kedalam mobil milik Indra yang terparkir disana. Awalnya Fero menawarkan untuk membawa Indra menggunakan mobil yang dibawa nya. Tapi Marisa tidak setuju karena takut mengotori mobil tersebut. Keadaan Indra saat itu sangat parah dan penuh darah dimana-mana. Tak enak juga kalau harus mengotori mobil Fero apalagi mobil itu milik bos nya.


Marisa sendiri memilih untuk duduk di bangku belakang dan memangku kepala Indra di pangkuannya. Bahkan Marisa mencoba membersihkan sedikit demi sedikit darah di wajah Indra dengan tisu basah yang dibawanya didalam tas. Marisa juga tidak perduli kalau saat itu darah Indra membasahi baju dan celananya.


"Ya Allah... Luka-luka Pak Indra parah sekali! Darah tidak berhenti keluar dari mulut dan hidungnya! Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada Pak Indra!" kata Marisa penuh kesedihan.


Fero yang sedang menyetir mobil jadi merasa cemburu dengan begitu besarnya perhatian yang di berikan Marisa pada Indra.


"Jelas bagiku kalau Marisa ada perhatian pada Indra! Mungkin juga dia mencintai pria itu! Pria arogan yang telah berhasil memisahkan aku dan Marisa! Kenapa Marisa tidak mau membuka matanya?! Tidak sakit kah hatinya setelah mengetahui bahwa Indra yang menyebabkan perpisahan kami?! Marisa bersikap seolah itu semua tidak pernah terjadi! Bahkan dia seolah tidak mendengar kata-kata Herman yang menyarankan agar dia sebaiknya kembali bersatu dengan ku..." batin Fero sedih...


Di belakang, Marisa masih terus meratapi keadaan Indra. Bahkan air mata menetes berjatuhan dari mata Marisa. Bisikan nya di telinga Indra terdengar penuh perasaan.


"Pak Indra, bertahanlah... Bapak harus kuat! Saya percaya Bapak pasti bisa melewati semua ini! Saya akan selalu ada di samping Bapak! Ayo, Pak Indra! Yang kuat...! Saya ada disini! Saya akan selalu ada disini untuk Pak Indra! Saya tidak akan meninggalkan Bapak sendirian!"


Akhirnya mobil itu sampai di sebuah rumah sakit terdekat di daerah situ dan Fero segera membawanya Indra ke unit gawat darurat. "Tolong, suster! Ada korban penganiayaan!" seru Fero.


Para suster dan perawat pun segera menangani Indra. Indra di bawa masuk kedalam ruang tindakan. Seorang suster segera memanggil dokter jaga dan seorang lagi meminta Marisa untuk menceritakan kronologis kejadian sampaikan Indra bisa seperti itu. Sementara Fero di minta menyelesaikan uang muka di bagian administrasi.


Marisa tidak bisa bercerita banyak. Marisa hanya bisa menceritakan kalau dia menemukan Indra sudah dalam keadaan seperti itu. Selesai menceritakan kronologis kejadian pada suster, Marisa diminta untuk menunggu di depan ruang tindakan.


Marisa hanya bisa menangis dan memanjatkan doa untuk keselamatan Indra. Bahkan Marisa lupa untuk mengabari Mama tentang keadaan Indra dan saat itupun HP dan tas Marisa tertinggal di dalam mobil Indra.


Tak lama kemudian Fero muncul dan ikut duduk di samping Marisa yang masih menangis. Di rangkul nya bahu Marisa. "Sabar, Mar. Indra pasti selamat"


"Aku gak kuat melihat keadaan Pak Indra yang seperti itu, Fer..." ratap Marisa.


"Kamu harus kuat! Demi Indra! Bukankah kamu bilang kalau kamu akan selalu ada untuk Indra?!"

__ADS_1


"Kamu dengar semua?"


"Ya, aku dengar bagaimana kamu bicara pada Indra didalam mobil tadi. Kamu sangat memperhatikan Indra. Apakah kamu mencintai Indra?"


Marisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Rasanya tidak ada gunanya lagi untuk menutupi perasaannya kepada Indra di hadapan Fero.


"Iya, Fero... Aku mencintai Pak Indra... Aku sangat mencintainya"


"Sejak kapan? Apakah sejak pertama kamu bertemu dengannya? Dengan kata lain saat kamu masih bersamaku?"


Marisa menggeleng. "Entahlah, yang jelas rasa itu perlahan-lahan muncul dan semakin bertambah dalam tanpa aku menyadarinya. Yang jelas saat ini aku merasa begitu takut akan kehilangan Pak Indra..."


"Bagaimana dengan adiknya? Andro?"


"Aku tidak pernah mencintai Andro. Aku semata-mata mendekatkan diri dengan Andro agar aku bisa melupakan Indra. Tapi bukannya aku bisa lupa! Yang ada malah perasaan ini bertambah dalam!"


"Andro yang malang..." batin Fero prihatin. Setidaknya Fero masih merasakan saat-saat di cintai oleh Marisa. Sementara Andro hanya menjadi pelarian saja.


"Kalau begitu, aku harus pergi. Aku besok pagi-pagi sekali harus ke Bandung untuk mengantarkan mobil bos ku. Apalagi mobil itu sekarang masih berada di Alexandre bar" kata Fero.


"Iya, aku paham. Kamu pergi saja" kata Marisa.


"Kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal sendiri? Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa menemani kamu lebih lama lagi"


"Iya, aku tidak apa-apa"


"Apa mau aku telepon Gery? Atau Niki mungkin?"

__ADS_1


"Jangan! Aku gak mau merepotkan lagi orang lain. Hari ini cukup kamu sudah yang aku repotkan. Makasih banyak ya, Fero. Aku gak tahu harus gimana membalas kebaikan kamu..."


Fero menggenggam tangan Marisa. "Aku gak kerepotan kok! Sudah menjadi kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling tolong menolong"


"Sekali lagi, makasih"


"Sama-sama, Marisa. Aku doakan semoga Indra bisa segera pulih. Dan aku doakan juga yang terbaik untuk hubungan kamu dan Indra"


Marisa kembali meneteskan air mata. "Makasih... Fero..."


"Masalah pemukulan terhadap Indra, apakah kamu butuh bantuan aku untuk menghubungi pihak kepolisian?"


"Jangan dulu. Aku gak mau gegabah dan membawa hal ini ke ranah hukum tanpa persetujuan dari Pak Indra"


"Ya sudah. Kalau begitu aku pamit dulu. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam"


Fero meremas tangan Marisa dan menepuk pundaknya kemudian melangkah pergi. Berat sebenarnya hati Fero untuk meninggalkan Marisa disana sendirian dengan keadaan seperti itu.


Tinggalah Marisa sendirian di depan ruang tindakan yang sepi. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari dan Marisa belum tahu bagaimana keadaan Indra didalam ruang tindakan.


"Ya Allah... Selamatkan Pak Indra... Aku tidak sanggup kalau harus kehilangan dia... Aku sangat mencintainya, Ya Allah... Seperti apapun sikap dan perlakuannya terhadap ku... Tidak pernah bisa menghapuskan perasaan ini dalam hatiku..." batin Marisa.


Tapi untuk apa juga Fero berada di sisi Marisa kalau hati Marisa tidak berada di tempatnya lagi melainkan sudah di berikan kepada Indra. Hati yang dulu pernah Fero miliki...


Fero kembali ke Alexandre bar dan mengambil mobil bos nya. Keadaan disana tampak ramai karena beberapa orang heboh melihat ada bekas-bekas darah Indra di pelataran parkir. Fero pun pura-pura tidak mendengar dan segera meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2