
Keesokan harinya Marisa pergi ke SMP Al-Hikmah tempat dimana Herman dan Ina bekerja sebagai penjaga sekolah dan ibu kantin. Herman mengantarkan Marisa untuk bertemu dengan Pak kepala sekolah di SMP tersebut untuk melamar pekerjaan sebagai staf TU.
Jarak dari rumah Marisa ke SMP Al-Hikmah lumayan jauh sekitar tiga kilometer. Marisa naik ojeg ke SMP itu karena disana belum ada tranportasi umum.
"Kebetulan sekali saya memang sedang mencari seseorang yang bisa mengisi posisi tersebut. Maklumlah Bu, susah sekali mencari lulusan sarjana di kampung ini" kata Pak kepala sekolah.
"Alhamdulillah, kalau begitu saya di terima, Pak?"
"Tentu saja, Bu Marisa. Hanya saja kami tidak bisa memberikan gaji sebesar yang Ibu terima saat bekerja di ibu kota"
"Tidak apa-apa, Pak. Saya memang sedang berada di desa ini untuk tinggal dan mencari ketenangan. Saya bosan hidup di kota besar"
"Alhamdulillah kalau begitu. Jadi kapan Bu Marisa bisa mulai bekerja di sekolah ini?"
"Saya minta waktu sekitar dua atau tiga hari ya, Pak. Karena anak saya belum mendapatkan pengasuh bayi"
"Oh iya, Bu. Tidak apa-apa. Selamat bergabung dengan SMP Al-Hikmah"
"Terima kasih banyak, Pak"
Marisa keluar dari ruangan kepala sekolah dan segera bergegas menuju kantin karena dia tadi menitipkan Syailendra pada Ina. Tapi di koridor Marisa malah bertemu dengan Aji.
Keduanya berpapasan dan untuk sesaat jadi saling bertatapan dengan mengagumi sosok masing-masing.
"Mas Aji" akhirnya Marisa menyapa terlebih dahulu.
"Neng Marisa" balas Aji.
"Mas ada di SMP ini?"
"Iya, saya guru matematika di SMP ini"
"Oh... Jadi kita bukan hanya bertetangga tapi juga akan jadi rekan kerja di sekolah ini?"
"Oh ya?! Memangnya Neng Marisa akan bekerja disini?"
"Saya akan bekerja sebagai staf TU disini"
"Oh begitu?! Alhamdulillah... Jadi kita bisa sering ketemu ya?!"
"Hah?!" Marisa tampak kaget dan membelalakkan matanya.
Aji pun menyadari kesalahan dalam kata-katanya dan tampak salah tingkah. "Maaf, Neng Marisa. Saya kok jadi seneng ya mendengar kabar kalau Neng akan bekerja disini" pria tampan itu tampak gugup seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Ya" Marisa tersenyum sambil mengangguk.
"Kalau begitu saya tidak akan memanggil dengan panggilan Neng Marisa, tapi Bu Marisa"
"Boleh saja. Tapi ada baiknya panggilan itu kalau kita sedang berada di sekolah saja. Kalau sedang berada di rumah sebagai tetangga sebaiknya Mas Aji memanggil saya dengan panggilan Marisa saja"
Aji menatap Marisa dengan tatapan yang berbinar. "Tapi saya lebih senang kalau bisa tetap memanggil kamu dengan panggilan Neng Marisa"
"Ya terserah Mas Aji saja. Eh! Pak Aji maksud saya! Kita kan sekarang sedang berada di sekolah!"
Keduanya pun sama-sama tertawa.
"Oh ya, mana Dede Syailendra?" tanya Aji saat menyadari kalau Marisa tidak bersama anaknya itu.
"Di kantin sama Ina. Tadi saya titipkan karena saya hendak bicara dengan Pak kepala sekolah" jawab Marisa.
"Oh... Bagaimana nanti Bu Marisa bekerja? Kasihan Dede Syailendra kalau di titip di kantin terus"
"Insya Allah beberapa hari lagi pengasuh Syailendra akan segera tiba disini"
"Oh, Alhamdulillah kalau begitu"
"Saya sekarang mau ke kantin dulu untuk mengambil Syailendra ya, Pak Aji"
Marisa tersenyum sambil melangkah meninggalkan Aku dan guru muda itu seketika langsung terpana melihat bagaimana cantiknya Marisa saat sedang tersenyum. Bahkan Aji tidak sedikit melepaskan pandangannya dari Marisa hingga wanita itu menghilang di belokan.
"Masya Allah... Cantiknya..." gumam Aji tapi kemudian pria muda itu menyadari kesalahannya. "Marisa kan sudah punya seorang anak, itu artinya dia sudah punya suami! Ya Allah... Kenapa aku begitu mengagumi kecantikannya! Astaghfirullah...!"
Sementara itu Marisa tiba di kantin dan segera menghampiri Ina yang sedang menggendong Syailendra sambil melayani siswa siswi yang sedang jajan. Herman juga ada disana membantu istrinya melayani pembeli.
"Sini, Sayang. Anak Mama ditinggal dari tadi ya?!" seru Marisa pada Syailendra seraya menggendong dan menciumi anak itu.
"Mama...! Mama...!" Syailendra senang sekali melihat kedatangan Mamanya.
"Maaf ya, Ina. Saya lama ninggalin Syailendra" kata Marisa pada Ina.
"Enggak apa-apa kok, Bu! Dede Syailendra-nya juga anteng" kata Ina.
"Jadi bagaimana, Bu? Ibu sudah bertemu dengan Pak kepala sekolah dan bicara langsung dengannya?" tanya Herman.
"Iya, Her. Alhamdulillah saya bisa secepatnya bekerja disini setelah pengasuh Syailendra datang" jawab Marisa.
"Oh, Alhamdulillah kalau begitu"
__ADS_1
"Tapi tadi saya ketemu sama Mas Aji. Katanya dia guru matematika disini?" tanya Marisa.
"Oh iya, Bu. Pak Aji memang guru matematika d SMP ini" jawab Herman.
"Sudah lama dia bekerja disini?"
"Sudah lama juga. Sekitar Lima tahun" kata Ina.
"Oh... Keliatannya dia masih muda ya?"
"Iya, Bu. Pak Aji itu langsung mendapat kesempatan bekerja disini begitu dia baru lulus dari pendidikannya"
"Oh... Kalau begitu saya bersama Syailendra pulang dulu ya?" Marisa pamitan.
"Saya akan carikan ojeg, Bu" kata Herman dan segera mencarikan ojeg untuk Marisa pulang.
Marisa pun kembali ke rumahnya bersama Syailendra dan segera menelepon Gery untuk meminta Gery mengabari Lilis kalau Marisa ingin Lilis segera menyusulnya ke Cirebon.
"Kalau bisa secepatnya, Ger. Aku diberi kesempatan dua tiga hari untuk mencari pengasuh Syailendra" kata Marisa.
"Oke, siap Mar! Aku akan segera meminta Lilis untuk berhenti bekerja di kediaman keluarga Perdana dan aku juga akan segera mengantarkan dia kesana!" kata Gery.
"Makasih ya, Ger"
"Sama-sama, Mar"
Gery segera menelepon Lilis untuk memintanya berhenti bekerja di kediaman keluarga Perdana dan menyusul Marisa ke Cirebon.
Lilis gembira sekali mendengar kabar kalau dia akan segera menyusul Marisa dan Syailendra ke Cirebon. Sudah satu minggu sejak kepergian Marisa dari rumah, Lilis seolah tidak ada semangat bekerja walaupun Indra memintanya untuk membantu bersih-bersih rumah.
"Baik, Pak Gery! Saya akan segera meminta izin pada Pak Indra untuk berhenti bekerja disini" kata Lilis semangat!
"Kamu bilang saja kalau kamu mau pulang ke kampung halaman kamu, Lis!" kata Gery.
"Siap, Pak!"
"Ingat! Jangan sampai kamu terpancing dengan pertanyaan yang mungkin akan Indra ajukan kepada kamu! Kamu harus bisa menjaga rahasia keberadaan Marisa saat ini!"
"Iya, Pak! Saya janji akan menjaga rahasia ini!"
"Kalau begitu kamu segera saja menuju ke rumah saya begitu kamu keluar dari rumah keluarga Perdana! Saya akan segera membawa kamu kepada Marisa!"
"Alhamdulillah... Ya Allah... Akhirnya saya bisa ketemu lagi dengan Bu Marisa dan Dede Syailendra..."
__ADS_1