
Sementara itu di kediaman keluarga Perdana.
Mama Renata yang baru pulang dari rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya, merasa ganjil karena tidak melihat Marisa maupun Syailendra di ruang makan siang itu.
Mama kemudian ingat kalau tadi pagi Marisa juga tidak sarapan bersama dengan Indra. Ketika Mama menanyakan kepada Indra kenapa Marisa tidak ikut sarapan, Indra menjawab kalau Marisa sedang tidak enak badan.
Lalu apakah sekarang juga Marisa masih tidak enak badan? Mama Renata akhirnya makan siang seorang diri saja. Setelah selesai makan Mama segera meminta salah satu asisten rumah tangga untuk memanggil Lilis. Tak lama kemudian Lilis datang ke ruang makan.
"Nyonya memanggil saya?" tanya Lilis. Saat ini Lilis berusaha untuk terlihat tenang walaupun sebenarnya dalam hatinya sangat merasa ketakutan.
"Mana Syailendra? Apakah dia sudah makan siang? Lalu bagaimana keadaan Marisa sekarang? Katanya dia sedang tidak enak badan?" tanya Mama Renata.
"Bu Marisa dan Syailendra pergi ke Bogor, Nyonya" jawab Lilis.
"Apa?!" Mama Renata tampak kaget saat mendengar jawaban Lilis. "Marisa ke Bogor bersama Syailendra?!"
"Iya, Nyonya. Tadi pagi Bu Marisa meminta saya untuk memandikan Syailendra karena akan pergi ke Bogor"
"Bukankah dia sedang tidak enak badan?!"
"Saya kurang tahu masalah itu"
"Marisa pergi dengan siapa? Dengan Pak Mukti?"
Lilis menggeleng. "Tidak, Nyonya. Bu Marisa naik taksi online"
Mama Renata langsung merasa curiga dengan perkataan Lilis! "Bagaimana mungkin Marisa pergi ke Bogor dengan tidak meminta izin kepada saya?! Dia juga naik taksi online?! Kenapa dia tidak pergi bersama Indra atau Pak Mukti?!"
"Saya gak tahu, Nyonya. Bu Marisa tidak bilang apa-apa sama saya..."
"Aneh... Ini aneh..."
Mama Renata segera meraih HP nya untuk menelepon Indra. Telepon pun langsung tersambung.
__ADS_1
"Halo, Mam" terdengar suara Indra lewat sambungan telepon.
"Indra, apakah Marisa sudah meminta izin kepada kamu kalau dia hari ini akan pergi ke Bogor bersama Syailendra?!" Mama langsung menanyakan tentang Marisa pada Indra.
"Apa?! Marisa pergi ke Bogor?! Saya tidak tahu, Mam" jawab Indra.
"Jadi dia tidak minta izin kepada kamu?!"
"Saya benar-benar tidak tahu soal keberangkatan Marisa ke Bogor. Memangnya dia pergi dengan di antar siapa?! Pak Mukti?!"
"Tidak, Indra! Marisa pergi naik taksi online!"
"Apa?!" suara Indra terdengar kaget sekali!
"Mama curiga, Indra! Marisa tadi pagi tidak hadir di meja makan karena katanya sedang tidak enak badan, tapi dia bisa pergi bersama Syailendra! Sekarang kamu segera telepon istri kamu itu! Mama akan bicara dengan Pak Mukti!"
"Baik, Mam!"
"Mana mungkin?! Marisa tidak ada komunikasi dengan Andro selama Andro meninggalkan rumah"
"Tapi Mama curiga ke arah sana! Marisa dan Andro selama ini selalu akrab! Bahkan Mama tahu kalau sebenarnya Andro masih mencintai Marisa! Marisa juga sama saja! Dia merasa kalau dia istimewa di hati Andro sehingga dia kerap memanfaatkan Andro! Waktu Syailendra sakit saja, Marisa malah meminta Andro pulang padahal Andro sedang berada di Italia!"
"Tapi Mam... Rasanya tidak kalau Marisa melarikan diri bersama Andro"
"Mama juga tidak tahu, tapi ada rasa curiga saja! Sudahlah, yang penting sekarang kamu hubungi Marisa dan susul dia! Marisa pergi membawa Syailendra dan dia tidak minta izin Mama ataupun kamu! Mama tidak mau kehilangan Syailendra! Syailendra adalah satu-satunya penerus keluarga Perdana!"
"Iya, Mam. Saya akan segera menelepon Marisa"
Indra segera menelepon Marisa dan ternyata HP Marisa sudah tidak aktif, beberapa kali Indra mencoba tapi Marisa tetap tidak bisa di hubungi!
Indra mulai merasa khawatir karena kepergian Marisa bertepatan dengan pertengkaran mereka semalam dimana Marisa ternyata sudah mengetahui tentang perselingkuhan antara Indra dengan Melati.
"Gawat! Jangan-jangan Marisa pergi untuk meninggalkan saya! Dia bilang akan selalu memaafkan semua kesalahan yang saya lakukan selain perselingkuhan! Mama tidak tahu tentang kekecewaan Marisa terhadap saya, makanya Mama menyangka kalau Marisa pergi menyusul Andro. Tapi sepertinya tidak mungkin Marisa menyusul Andro! Sebaiknya saya segera pulang dan bersiap untuk mencari Marisa ke Bogor. Marisa pasti pulang ke rumah Ayah dan Mamanya"
__ADS_1
Indra segera membereskan barang-barangnya dan pulang dari kantor lebih awal.
Sementara itu dibkwdi, keluarga Perdana, Mama Renata sudah memanggil Pak Mukti ke ruang keluarga dan menanyakan kenapa supir pribadi Marisa itu tidak ikut mengantarkan Marisa ke Bogor.
"Maaf, Nyonya. Saya sudah menawarkan diri untuk mengantarkan Bu Marisa ke Bogor, tapi katanya dia sudah pesan taksi online" kata Pak Mukti.
"Tapi dia tidak minta izin kepada Indra!"
"Bu Marisa bilang kepada saya kalau dia sudah minta izin pada Pak Indra"
"Jangan-jangan Marisa kabur!" Mama Renata tercekat saat mendapat satu kemungkinan besar. Kini matanya di arahkan pada Lilis yang juga masih berada disana. "Bu Marisa bilang apa sama kamu?! Kalian dekat sekali, bukan?! Tidak mungkin Marisa tidak bilang apa-apa tentang kepergiannya!" Mama Renata bertanya kepada Lilis.
Lilis menggeleng. "Saya tidak tahu apa-apa, Nyonya. Obrolan antara saya dengan Bu Marisa hanya seputar Syailendra saja" Lilis terpaksa berbohong karena tidak berani untuk bicara kepada Mama Renata tentang Marisa yang bercerita soal perselingkuhan Indra dengan Melati.
Tidak lama kemudian Indra hadir di ruang keluarga dan segera mengatakan pada Mama Renata kalau HP Marisa tidak bisa dihubungi lagi.
"Apa?! Jadi kemana Marisa sebenarnya?! Apakah Marisa benar-benar pergi ke Bogor?!" Mama berang sekali!
"Saya tidak segera berangkat ke Bogor sekarang!" kata Indra.
"Kalau Marisa ada disana, kamu harus memberikan istri kamu itu sebuah pelajaran berharga, Indra! Kalau perlu kamu tampar dia sesekali! Kamu selama ini terlalu memanjakannya! Berani sekali dia membawa Syailendra tanpa sepengetahuan kita!"
Indra tidak bicara apa-apa, tapi dalam hati merasa bersalah karena dialah sebenarnya yang bersalah atas kepergian Marisa. Indra yakin Marisa pergi karena merasa sakit hati atas pengkhianatan yang telah dia lakukan"
"Maaf sebelumnya, tapi saya sempat melihat flat nomor mobil taksi online yang membawa Bu Marisa" kata Pak Mukti tiba-tiba.
"Apa, Mukti?! Kamu ingat nomor flat mobilnya?!" tanya Indra.
"Iya Pak" Pak Mukti lalu menyebutkan nomor flat mobil taksi online yang di tumpangi Marisa tadi siang.
Indra segera mencatatnya di HP. "Saya akan segera meminta orang untuk menyelidiki kemana mobil itu membawa Marisa dan Syailendra" kata Indra.
Sementara Lilis dalam hatinya berniat untuk segera memberitahu Marisa kalau saat ini di kediaman keluarga Perdana sedang heboh karena kepergiannya.
__ADS_1