
Indra menatap tajam kearah Herman. "Kamu tidak merasa kalau kamu sudah berbuat salah?! Mengkhianati saya dengan membocorkan tentang keberadaan saya pada Sofie sehingga dia datang ke apartemen dan membuat kekacauan disana?!" hardiknya!
Herman kaget sekali mendengar kata-kata Indra. "Jadi karena ini Pak Indra memecat ku?! Karena Bu Sofie membawa-bawa nama ku dalam masalahnya bersama Pak Indra?! Dasar Bu Sofie tidak bisa di percaya! Padahal dia sudah berjanji untuk tidak menyebutkan kalau aku yang telah memberikan informasi mengenai keberadaan Pak Indra!" batin Herman.
"Saya tidak membutuhkan seorang pengkhianat seperti kamu! Yang bisa dengan mudah membocorkan rahasia saya pada orang yang sudi membayar kamu! Berapa banyak jumlah uang yang Sofie berikan pada kamu sehingga kamu berani mengkhianati saya!" Indra kembali menghardik Herman.
"Maafkan saya, Pak Indra. Tapi saat itu saya tidak bisa menolaknya! Bu Sofie tampak sangat sedih dan mendesak saya untuk memberitahukan keberadaan Anda! Kalau tidak percaya, silahkan Anda tanyakan pada Bella! Betapa ngototnya Bu Sofie saat itu!" kata Herman seraya melirik kearah Bella. "Iya kan, Bella?"
"Iya betul, Bu Sofie sangat ngotot waktu itu. Lagipula Bu Sofie juga menuduh Marisa yang ada hubungan gelap dengan Pak Indra! Bahkan Bu Sofie menampar Marisa! Jadi saya dan Herman tidak tega juga melihat bagaimana Bu Sofie menekan Marisa!" kata Bella.
Indra mendengus kesal! "Saya tidak perduli pada alasan kalian! Sebuah pengkhianatan tetaplah pengkhianatan walaupun apapun yang mendasarinya!"
"Tapi, Pak Indra! Saya sudah lama bekerja pada Anda! Anda tidak bisa menyingkirkan saya begitu saja!"
"Saya tidak akan berubah pikiran! Kamu tinggalkan ruangan saya dan Perdana Enterprise sekarang juga dan jangan pernah menginjakkan kaki disini lagi! Atau saya akan panggil security untuk menyeret kamu keluar dari sini?!"
"Anda keterlaluan, Pak Indra! Saya tidak akan melupakan semua penghinaan Anda pada saya hari ini!"
"Banyak omong! Rafi! Bawa security sekarang juga untuk menyeret orang ini dari ruangan saya sekarang juga!" Indra habis kesabaran dan menyuruh Pak Rafi untuk membawa security untuk mengusir Herman!
"Baiklah, Pak!" kata Pak Rafi dan segera hendak memanggil security.
"Cukup! Tidak usah memanggil security segala! Saya bisa keluar sendiri dari ruangan ini!" kata Herman seraya menatap marah pada Indra!
"Bagus! Keluar sekarang juga!" bentak Indra!
..."Anda sangat sombong, Pak Indra! Saya menyesal selama ini telah mengabdi begitu setia pada anda! Saya hanya melakukan kesalahan kecil! Itupun karena saya tidak tega melihat bagaimana tunangan Anda begitu bersedih! Apalagi dia dalam keadaan sakit! Saya yang mengantarkan Bu Sofie ke rumah sakit waktu itu! Dasar Anda pria tidak punya hati! Anda membuang Bu Sofie dari kehidupan Anda karena Anda begitu tergila-gila pada Marisa!" teriak Herman!...
__ADS_1
Bella dan Pak Rafi saling tatap dengan ngeri karena menyayangkan sikap Herman yang terlalu berani untuk berkata seperti itu pada Indra!
"Tutup mulut kamu!" Indra balas berteriak!
"Saya bersyukur Marisa tidak masuk kedalam perangkap Anda! Karena kalau Marisa sampai masuk kedalam perangkap Anda, bisa di pastikan kalau Marisa juga akan Anda buang setelah Anda bosan! Sama seperti yang Anda lakukan pada Bu Sofie!"
"Herman! Saya bilang tutup mulut kamu!" Indra kini berteriak sambil mengepalkan tangannya!
"Kenapa saya harus diam?! Saya sekarang bukan lagi bawahan Anda! Saya bebas bicara! Anda menginginkan Marisa dan bahkan Anda terobsesi padanya! Tapi Marisa tidak akan pernah mau menerima Anda! Marisa gadis cerdas! Anda rusak hubungannya dengan pacarnya yang bernama Fero, tapi Marisa malah memilih Pak Andro! Bukan Anda! Hahahaha! Anda adalah seorang pecundang, Pak Indra! Anda tidak ada harganya di bandingkan adik Anda sendiri!" Herman malah semakin menantang Indra!
Indra benar-benar naik pitam! Di serbu nya Herman dan dengan membabi buta memukuli supir pribadinya yang telah dia pecat secara tidak hormat itu!
Pukulan Indra bertubi-tubi bersarang di wajah dan tubuh Herman. Herman tidak melawan! Herman malah diam dan seolah menerima semua siksaan yang di berikan oleh Indra! Darah mulai mengucur dari luka-luka di wajah Herman!
Bella terpekik melihat bagaimana Indra dengan brutal menganiaya Herman!
"Sudah, Pak Indra!" kata Pak Rafi.
Tapi Indra seolah sudah tidak punya akal sehat lagi! Herman terus di pukulinya hingga jatuh tersungkur di kakinya dengan wajah berlumuran darah!
"Pak Indra! Hentikan! Herman bisa tewas!" teriak Bella.
"Betul, Pak Indra! Kalau sampai Herman tewas, Anda bisa terkena masalah hukum!" tambah Pak Rafi.
Kali ini Indra menghentikan siksaannya pada Herman! Indra mendengus sambil menendang tubuh Herman yang sudah tak berdaya.
Pak Rafi segera memeriksa keadaan Herman. Di pegang nya pergelangan tangan Herman untuk memastikan apakah Herman masih hidup ataupun sudah tidak bernyawa karena Herman tampak sudah tidak bergerak sama sekali!
__ADS_1
"Bagaimana, Pak Rafi?!" tanya Bella khawatir.
"Masih ada denyutan, Bell" kata Pak Rafi.
"Panggil security! Suruh untuk menyeret tubuh manusia itu dari ruangan saya!" perintah Indra.
"Selanjutnya bagaimana, Pak Indra? Apakah kita akan membawa Herman ke klinik terdekat atau memanggil ambulans untuk membawa Herman?" tanya Pak Rafi.
"Saya tidak mau tahu! Lagipula kenapa kalian seperti yang khawatir sekali mengenai keadaan Herman?!" tanya Indra gusar!
"Bukan begitu, Pak Indra. Kami hanya takut Herman mengalami cedera parah dan nantinya dia akan membawa masalah ini ke jalur hukum" kata Bella.
"Saya tidak takut! Saya seorang Indra Perdana! Bahkan hukum sekalipun tidak akan bisa menyentuh saya!" Indra berkata sombong yang membuat Bella dan Pak Rafi menghela nafas panjang.
Pak Rafi segera memanggil Security dan seorang office boy untuk membawa Herman keluar dari ruangan Indra. Pak Rafi juga meminta agar Herman di bawa ke klinik terdekat untuk mengobati luka-lukanya.
Tinggal Indra sendirian di ruangan CEO dengan nafas tersengal-sengal menahan amarahnya! Indra mencuci tangannya yang ternoda oleh darah Herman. Di pesan nya secangkir kopi hitam panas untuk menenangkan perasaannya.
Indra kini sama sekali sudah tidak ada fokus lagi pada pekerjaannya! Kata-kata Herman tadi benar-benar menyinggung kedalam hatinya!
"Sial! Berani sekali Herman membocorkan rahasia ku di depan Bella dan Rafi bahwa akulah yang telah memisahkan Marisa dengan pacarnya! Dia juga mengatakan bahwa aku terobsesi dan tergila-gila pada Marisa!"
Indra memegang kepalanya yang kini terasa pusing. Pagi-pagi Indra sudah kehilangan Marisa, lalu gagal menjalani metting dengan baik, dan kini Herman datang untuk mencari masalah dengannya!
"Ya Tuhan! Apalagi yang akan aku lalui hari ini?! Semoga tidak ada lagi masalah yang menghampiri ku! Aku lelah!" batin Indra.
Tapi Indra salah! Satu masalah kembali menghampirinya hari itu!
__ADS_1