
Hari itu Indra bersikap dingin kepada Melati walaupun beberapa kali Melati bersikap mesra kepadanya. Melati jadi kesal sendiri tapi mencoba bersabar. Kalau semakin Melati mengganggunya, yang ada Indra akan semakin dingin atau mungkin malah menjadi emosi kepada Melati.
Pada keesokan harinya saat Melati baru saja masuk kedalam ruangan CEO, dia melihat Indra sudah berada disana sambil duduk santai di kursi kerjanya.
"Selamat pagi, Pak Indra" sapa Marisa sambil tersenyum manis.
"Pagi" kata Indra dengan wajah datar.
"Tumben sekali Anda sudah berada di kantor sepagi ini" Melati menghampiri Indra sambil menundukkan kepalanya untuk mengecup pipi Indra tapi Sang CEO malah melengos, membuat Melati menghela nafas panjang.
"Kamu bisa duduk di hadapan saya? Saya ingin membicarakan sesuatu hal yang penting dengan kamu" kata Indra.
"Tentu saja bisa, Pak" kata Melati lalu mengambil duduk di hadapan Indra. Kini mereka berdua sudah duduk berhadapan dengan di batasi meja kerja Sang CEO.
Indra mengeluarkan sebuah amplop putih dari laci mejanya kemudian di serahkan kepada Melati.
Melati menerima amplop tersebut dengan kening berkerut. "Apa ini, Pak Indra?" tanyanya sambil menatap Indra.
"Kamu lihat saja sendiri isinya" jawab Indra dengan wajah masih datar.
Melati membuka amplop putih tersebut dan mengeluarkan secarik kertas yang berisi bahwa mulai dari hari ini Melati telah di berhentikan dari Perdana Enterprise karena tugasnya sebagai asisten pribadi Indra sudah selesai.
Melati merasa tubuhnya lemas dan dadanya berdebar keras. Ada rasa sakit yang begitu besar dan juga sesak yang membuat dadanya terasa perih seperti tertusuk pisau yang sangat tajam! Indra memberhentikannya dari pekerjaan setelah menikmati tubuhnya sekitar lima belas hari yang lalu!
Melati menatap Indra dan mencoba untuk berkata setenang mungkin. "Anda memberhentikan saya dari pekerjaan saya sebagai asisten pribadi?" tanyanya.
Indra hanya mengangguk dan menggumam sedikit. "Hm...!"
"Apakah yang membuat Anda memecat saya? Selama ini kan pekerjaan saya selalu selesai dengan baik?!"
__ADS_1
"Saya sudah memutuskan untuk meminta istri saya untuk segera kembali ke kantor dan menjadi asisten pribadi saya seperti sebelumnya"
"Tapi Anda pernah berkata kalau Anda tidak akan melepaskan saya dan akan menempatkan saya di posisi lain jika istri Anda akan kembali ke kantor!"
"Saya berubah pikiran!"
"Apa alasan berubahnya pikiran Anda?!"
'BRAK!' Indra tiba-tiba saja menggebrak meja kerjanya dengan keras sehingga membuat Melati kaget sekali hingga terlonjak dari duduknya!
"Pak Indra!" seru Melati sambil mengelus dadanya.
"Apa hak kamu menanyakan tentang alasan saya melepaskan kamu?! Kamu bukan siapa-siapa saya, Melati!" bentak Indra!
Melati tetap mencoba untuk menguasai dirinya walaupun saat itu hatinya hancur berantakan.
"Saya hanya ingin tahu, karena selama kurang lebih sepuluh bulan ini saya sudah melakukan semua hal terbaik yang saya bisa untuk Anda dan juga untuk perusahaan ini, Pak Indra" kata Melati lagi.
"Tapi saya juga melakukan hal yang lain untuk Anda! Selama sepuluh bulan ini saya bekerja sambil juga memberikan layanan plus-plus kepada Anda!"
"Tapi saya juga selalu memberikan kamu bonus yang besar untuk hal itu!"
Wajah Melati merah padam! Harga dirinya terasa terinjak-injak oleh setiap perkataan Indra! Jadi selama ini Indra hanya menganggap Melati sebagai wanita bayaran?
"Baiklah, Pak Indra. Saya akan pergi dari perusahaan ini dan juga dari kehidupan Anda. Tapi kalau saya boleh bertanya sekali lagi, kenapa Anda begitu tega untuk menyingkirkan saya? Bukankah Anda bilang kalau Anda sangat menyukai saya? Anda juga selalu memanggil saya dengan sebutan Sayang?"
"Saya merasa sudah tidak menyukai kamu dan juga saya sudah tidak menghendaki kamu! Saya hanya membutuhkan kamu sebagai mainan untuk sekedar mengisi waktu luang saya selama istri saya tidak berada di kantor. Tapi sebentar lagi istri saya yang cantik akan kembali berada di ruangan ini dan saya tidak membutuhkan kamu lagi karena saya bisa menggauli istri saya disini kapanpun saya mau!"
"Tapi Anda sudah merenggut kehormatan saya..." dalam keadaan seperti itu, Melati masih saja bersandiwara dengan mengungkit tentang kehormatannya.
__ADS_1
"Melati, saya tidak pernah meminta kamu untuk menyerahkan kehormatan kamu kepada saya! Tapi kamu terus-menerus meminta saya untuk melakukannya!
Kamu juga sudah bilang kalau kamu sukarela menyerahkannya kepada saya tanpa meminta pertanggung jawaban dari saya dan saya juga sudah menyerahkan kepada kamu sebuah mobil mewah untuk menebus kegadisan kamu yang telah saya renggut!"
"Iya, saya memang pernah berkata seperti itu. Tapi sekarang bagaimana nasib saya selanjutnya?! Saya tadinya berpikir kalau saya masih bisa berada disini untuk melanjutkan hubungan kita walaupun Bu Marisa sudah kembali ke perusahaan ini"
"Sekarang begini saja! Saya akan mentransfer uang ke rekening kamu sebesar dua ratus juta untuk kamu melakukan operasi selaput dara! Kamu akan kembali menjadi perawan lagi! Saya juga akan memberikan kamu pesangon sebesar seratus juta untuk bekal kamu memulai usaha atau apapun itu!"
Melati merasa kalau uang sebesar itu lumayan juga untuk menebus sakit hatinya kepada Indra. Karena sebenarnya toh dia sudah tidak perawan lagi saat melakukan hubungan badan dengan Indra di Surabaya waktu itu.
Melati memperlihatkan wajah sedihnya dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Pak Indra... Saya menerima keputusan Anda dan saya bersedia untuk pergi dari Perdana Enterprise sekarang juga..." katanya sedih.
"Bagus! Ternyata kamu seorang wanita yang tahu diri! Terima kasih atas semuanya! Atas pengabdian kamu kepada Perdana Enterprise dan juga kenikmatan tubuh kamu yang sudah saya rasakan!" nada suara Indra terdengar lembut namun ada semacam nada menghina disana.
"Saya juga tidak akan pernah melupakan keperkasaan Anda, Pak Indra... Anda adalah pria pertama yang telah berhasil membuat saya merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang wanita dewasa! Anda luar biasa..."
"Sama-sama, Melati! Hahahaha!" Indra malah terbahak-bahak!
Melati menatap Indra dengan lekat. "Apakah Anda tidak ingin memberikan saya satu hari saja untuk kenangan terakhir kita? Sebelum saya pergi dari kehidupan Anda...?" tanya Melati dengan nada suara bergetar dan membuat Indra mau tak mau jadi ingin juga...
Melati bangkit dari duduknya dan menghampiri Indra untuk kemudian melepaskan satu persatu kancing bajunya dan mengeluarkan buah dadanya yang besar padat di hadapan Indra.
Indra menelan ludahnya sendiri dan langsung meremasi buah dada Melati dengan gemas. Bagaimanapun juga Indra seorang pria yang tak bisa menolak kenikmatan yang di tawarkan kepadanya. Apalagi sudah setengah bulan ini Indra tidak pernah melakukannya.
"Pak Indra... Sekali lagi saja... Hanya hari ini saja..." bisik Melati dan kemudian merintih nikmat saat merasakan bagaimana bibir Indra sudah mengunyah pucuk buah dadanya sebelah kanan!
Beberapa saat kemudian Indra melepaskan ciumannya pada buah dada Melati dan kemudian meraih kunci mobilnya. "Kamu rapikan pakaian kamu! Saya tunggu sekarang juga di parkiran!" katanya tegas!
"Kita mau kemana?" tanya Melati.
__ADS_1
"Ke salah satu apartemen saya! Kamu ingin saya setubuhi untuk terakhir kalinya kan?! Saya tidak mau melakukannya disini karena saya khawatir Andro akan datang kesini!"