My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 125 : Bertekuk Lutut


__ADS_3

Alangkah kagetnya Gery saat tiba-tiba mendengar suara keras Indra di telepon!


"Hey, Gery kelam! Seenaknya saja kamu bilang kalau saya ini arogan! Kalau saya ini menyebalkan tingkat dewa! Kamu lupa siapa diri kamu?! Kamu hanya seorang mahasiswa biasa yang magang di kantor saya! Kamu bisa mendapatkan nilai bagus untuk PKL kamu atas kemurahan hati saya! Sekarang kamu malah mengolok-olok saya! Apakah kamu tidak tahu kalau HP saya ini sedang dalam keadaan load speaker?!"


"Astagfirullah! M... Maaf Pak Indra...! Maafkan saya, saya tidak sengaja!" kata Gery dengan nada tercekat.


"Saya bisa saja mencabut kembali nilai bagus yang saya berikan untuk kamu dan kamu akan semakin lama menjadi mahasiswa! Kamu harus mengulang kembali dari awal! Bahkan saya bisa pastikan kamu tidak akan di terima di perusahaan manapun jika suatu saat kamu PKL lagi!"


"Ampun, Pak Indra... Sekali lagi saya minta maaf...! Saya cuma bercanda sama Marisa..."


Marisa mencoba menenangkan Indra dengan mengelus-elus punggung pria itu. "Maafkan Gery, Pak Indra. Kasihan dia. Dia memang seperti itu. Suka ceplas-ceplos. Tapi dalam hatinya gak ada niat menghina kok!" kata Marisa.


Indra merasa nyaman dengan elusan Marisa di punggungnya, maka Indra coba menahan emosinya dan menyerahkan kembali HP itu pada Marisa. "Ya sudah, nih saya izinkan kamu bicara lagi dengan Gery! Semua ini saya lakukan karena kamu! Kalau saya tidak menaruh hati kepada kamu, saya tidak akan memaafkan Gery!"


"Iya, saya janji Gery tidak akan bicara sembarangan lagi" kata Marisa lalu kembali bicara dengan Gery. "Halo, Ger"


"Ya, Mar. Aku minta maaf sama Pak Indra. Aku gak tahu kalau HP nya di load speaker"


"Iya, Pak Indra juga udah maafin kamu"


"Kamu di tanyain lho sama Bu Retno, karena kamu belum kasih tugas laporan selama kamu PKL"


"Iya, tugas itu aku udah siapin. Tinggal aku serahkan aja sama Bu Retno. Tapi aku belum sempat. Kalau aku pulang, aku akan langsung ke kampus"


"Oke"


"Ada telepon dari Mama gak?"


"Gak ada, Mar"


"Kalau Mama atau Ayah aku telepon kamu, kamu bilang aja aku ada tugas kantor ke luar kota"


"Oke"


"Ada yang cari aku gak, Ger?"


"Kemarin sih Fero sempat telepon aku. Katanya dia masih di Bandung. Dia titip salam buat kamu karena HP kamu gak aktif"

__ADS_1


"Kamu bilang aja HP aku rusak"


"Oke, dan ada satu orang lagi yang telepon aku buat nanyain kamu, Mar"


"Oh ya? Siapa?"


"P... Pak Andro, Mar. Tadi dia telepon aku. Makanya aku coba telepon HP Pak Indra karena aku gak bisa hubungi HP kamu dari kemarin"


"Pak Andro!" Marisa tercekat dan spontan melirik ke arah Indra yang masih mendengarkan pembicaraannya dengan Gery.


"Iya. Kata Pak Andro, dia pulang malam ini. Dia mau kamu jemput dia ke bandara Soekarno Hatta" kata Gery lagi.


"Kamu bilang apa sama Pak Andro?" tanya Marisa.


"Aku bilang kalau kamu ikut Pak Indra ke luar kota. Tapi aku gak cerita masalah pemukulan terhadap Pak Indra"


"Oh ya, Ger. Nanti aku akan jemput Pak Andro di bandara"


"Iya Mar. Jangan lupa ya. Kasihan Pak Andro. Lagipula kan pacar kamu itu Pak Andro, bukan Pak Indra"


Indra melotot dan hendak marah-marah lagi pada Gery, tapi Marisa segera menjauh.


"Kenapa kamu tutup teleponnya?!" bentak Indra.


"Anda tidak boleh marah-marah lagi pada Gery! Sudah cukup Anda selama ini bersikap arogan pada saya dan Gery!" kata Marisa.


"Tapi dia bilang kalau saya bukan pacar kamu, tapi Andro!"


"Itu memang kenyataannya!"


"Tidak! Kamu sekarang adalah calon istri saya!"


"Saya tidak merasa seperti itu! Saya merasa tidak ada ikatan apa-apa antara kita!"


"Tapi selama dua hari ini kita selalu berciuman, bukan?!"


"Itu hal yang wajar terjadi! Saya dan Anda tinggal di bawah satu atap dan dalam satu ruangan yang sama! Itu semua terjadi begitu saja karena semata-mata saya adalah wanita dan Anda adalah seorang pria!"

__ADS_1


Mata Indra kembali melotot! "Tega sekali kamu bicara seperti itu! Saya sudah serius pada kamu!"


"Itu juga yang Anda katakan pada saya saat kita pernah begitu dekat di fitnes center beberapa waktu lalu, saat saya baru mengenal Anda!"


"Itu kan terjadi di awal pertemuan kita! Sekarang saya sudah mantap ingin menjadikan kamu sebagai kekasih saya!"


"Tapi saya tidak percaya! Sekarang tolong pesankan saya taksi online! Saya akan ke bandara untuk menjemput Andro!"


Indra menggeleng keras! "Tidak! Saya tidak akan mengizinkan kamu untuk pergi bertemu dengan Andro!"


"Kenapa begitu?! Sekarang Andro pulang, dan dia ingin saya menjemputnya!"


"Masa bodoh!"


"Mau Anda apa sih?! Saya kan bukan budak Anda! Kenapa Anda begitu keras kepala menghalangi saya bertemu dengan Andro?!"


"Kamu tidak mencintai Andro! Kamu mencintai saya! Kamu sendiri yang bilang seperti itu!"


"Tapi saya menyayangi Andro!"


"Pokoknya kamu tidak boleh bertemu dengan Andro!"


"Masya Allah! Bukankah Anda juga yang berjanji pada Andro kalau setelah dia pulang dari Turki dan menyelesaikan pekerjaannya disana, Anda akan menolong dia untuk melamar saya?!"


"Saya waktu itu tidak yakin dengan perasaan saya! Saya juga tidak tahu kalau kamu mencintai saya! Sekarang saya dan kamu sudah sama-sama mengakui kalau kita berdua saling mencintai! Kenapa kamu masih harus bersama Andro?!"


"Tapi saya juga sudah menerima cintanya!"


"Saya tidak perduli!"


"Saya akan pergi sendiri!" Marisa melangkah pergi dari kamar itu!


Indra sendiri langsung panik melihat Marisa nekad pergi untuk menjemput Andro, maka Indra segera berusaha untuk meraih tangan Marisa! Tapi kali ini Indra tidak sampai untuk menggapai tangan gadis itu, akibatnya Indra kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembab dari kursi rodanya! Indra jatuh tersungkur di lantai kamar di sertai erangan kesakitan!


Marisa yang sudah melangkah pergi pun jadi kaget saat menyadari bahwa Indra tersungkur dari kursi rodanya!


"Pak Indra!!!" pekik Marisa dan segera berbalik untuk menghampiri Indra dan membantu pria itu agar kembali duduk di atas kursi rodanya. Tapi Indra tidak mau kembali duduk di kursi rodanya, Indra malah berlutut di kaki Marisa!

__ADS_1


Seorang CEO tampan dan kaya raya bernama Indra Perdana, hari itu terpaksa harus bertekuk lutut di hadapan seorang wanita bernama Marisa Larasati yang tidak lain adalah asisten pribadinya!


Runtuhlah kesombongan dan keangkuhan seorang CEO muda yang selama ini selalu bersikap semena-mena dan menganggap remeh orang lain! Hanya karena dia telah jatuh cinta pada seorang gadis yang berasal dari kalangan biasa!


__ADS_2