
Malam Minggu yang di tunggu-tunggu pun tiba. Andro sudah pulang dari Singapura dan meminta Marisa untuk ikut makan malam bersama di rumah bersama keluarganya.
Andro sudah meminta izin pada Mama nya untuk membawa Marisa nanti malam saat mereka sarapan pagi itu. Indra juga ada dan ikut mendengarkan saat Andro bicara pada Mama nya.
"Mam, nanti malam aku boleh gak ngajakin teman dekat aku untuk makan malam bersama kita di rumah?" tanya Andro pada Mama.
Mama tersenyum dan menatap penuh kasih sayang pada putra bungsunya itu. "Oh, ya? Teman dekat wanita?"
"Iya lah, Mam! Masa teman dekat pria?" Andro merenggut.
"Tentu boleh, sayang! Jadi kamu sudah punya pacar sekarang?"
"Masih calon, Mam. Kalau Mama suka sama dia, baru dia mau jadi pacar Andro."
"Kok harus Mama suka dulu? Kalau kamu suka dan dia suka, ya sudah, jalani saja!"
"Dia mau Mama menilai dulu bagaimana dirinya. Intinya dia mau menerima cinta Andro kalau ada izin dari Mama."
Mama mengerutkan keningnya. "Calon pacar kamu itu unik juga, ya? Mama pasti mengizinkan kamu pacaran sama dia. Kamu kan sudah tiga puluh tahun, Dro! Sudah bukan cari pacar lagi, tapi harus cari calon istri! Kalau kamu suka, pasti Mama juga suka!"
"Stop, Mam! Mama belum tahu calon pacar Andro itu siapa! Seperti apa! Bagaimana latar belakangnya!" potong Indra tiba-tiba.
Mama menatap Indra. "Memangnya kamu tahu siapa calonnya Andro?" tanya Mama.
"Dia adalah asisten pribadiku di kantor. Namanya Marisa. Dia mahasiswi PKL yang magang di perusahaan kita!" jawab Indra.
"Bagus dong kalau wanita itu asisten pribadi kamu!"
"Bagus apanya?! Dia cuma mahasiswi biasa yang gak jelas asal-usulnya! Aku yakin dia cuma mau mengincar uang Andro!"
"Cukup, Dra! Marisa gak pernah minta uang dari aku, kok! Kalau aku ajak jalan-jalan juga susah banget! Aku sudah kenal hampir dua bulan sama dia, tapi dia susah sekali buat menerima perasaan aku," kata Andro.
"Ah! Dia tahan harga saja! Biar kamu tambah penasaran! Aku tahu persis wanita seperti apa dia itu!" cibir Indra.
"Apa buktinya, Dra?! Kenapa kamu bilang kalau kamu tahu seperti apa Marisa?! Aku yang mengenal dia lebih dekat!" Andro meninggi.
__ADS_1
"Cukup Indra! Andro! Jangan berdebat! Biar nanti Mama yang menilai bagaimana Marisa itu." kata Mama menengahi.
"Nah, aku setuju! Mama pasti tahu seperti apa Marisa! Mama kan sama-sama wanita!" kata Andro setuju.
"Terserah!" kata Indra.
"Kamu juga tidqk boleh menilai seseorang dari sudut pandang kamu saja, Dra. Apalagi menilai seseorang dari strata sosialnya. Tidak baik seperti itu," kata Mama.
"Tapi kan itu juga penting, Mam!" timpal Indra.
"Kalau menurut kamu, Marisa itu bukan gadis yang baik, kenapa kamu menerimanya dia menjadi asisten pribadi kamu?"
"Terpaksa, Mam! Gak ada orang lagi, kan? Ternyata sudah hampir dua bulan kerja di kantor, Marisa selalu saja membuat kesalahan!"
"Ya sudah, kalau begitu nanti kita makan malam bersama, ya? Indra, kamu juga ajak sekalian Sofie! Sudah lama kita juga tidak makan bersama."
"Oke, Mam. Kalau begitu, aku berangkat ke kantor dulu." kata Indra lalu meninggalkan meja makan terlebih dahulu setelah mencium tangan Mama nya.
"Aku gak ke kantor. Aku mau istirahat. Capek aku seminggu di Singapore." kata Andro.
"Terserah!" kata Indra singkat tanpa menoleh.
"Gak tahu tuh, Mam!" jawab Andro sambil mengangkat bahu.
******"
Sorenya Andro menjemput Marisa ke kantor dan mengantarkannya pulang ke kos-an. Marisa sempat bertemu Fero yang saat itu sedang berkunjung ke rumah Mbak Niki. Marisa melempar senyum manis, dia sudah jauh lebih kuat sekarang. Apalagi ada Andro di sampingnya.
Sebaliknya Fero merasa hatinya panas melihat Andro di samping Marisa. "Jadi ini Indra Perdana? Bos Marisa yang sudah membuat aku dan Marisa berpisah?!" batin Fero kesal. Ingin rasanya Fero menantang pria itu berkelahi untuk memperebutkan Marisa, tapi itu adalah suatu hal yang konyol!
Marisa mengajak Andro masuk ke dalam kos-annya. "Ayo masuk dulu, Pak?" kata Marisa.
Andro pun masuk ke dalam kos-an Marisa. "Siapa cowok yang ada di depan rumah Mbak Niki itu, Mar? Pandangannya sangat tidak bersahabat," tanya Andro.
"Itu Fero, mantan saya." jawab Marisa.
__ADS_1
"Oh... Kalau tidak salah dia memutuskan kamu karena mengira kamu ada apa-apa dengan Indra kan?"
"Iya..." jawab Marisa seraya tersenyum pahit.
"Pasti saya di kira Indra,"
"Tidak apa-apaz"
"Apa kamu tidak khawatir kalau dia mengira kamu ada apa-apa dengan saya?"
"Saya sudah tidak perduli!" ketus Marisa.
"Oke, jangan marah dong, cantik! Kita kan mau dinner bareng Mama saya." Andro memegang lembut tangan Marisa.
"Bapak serius, mau mengenalkan saya pada Mama Anda?" tanya Marisa ragu.
"Saya serius! Kamu juga sudah berjanji kalau Mama saya suka sama kamu, kamu akan menerima cinta saya dan mau jadi pacar saya,"
"Pak Indra bagaimana? Dia tidak suka dengan hubungan kita. Dia tidak akan setuju,"
"Saya tidak perlu persetujuan Indra!"
"Pak Indra akan ikut makan malam juga? Tadi di kantor dia dingin sekali."
"Iya, dengan Sofie."
Mendadak hati Marisa merasa tidak enak mendengar kalau Indra juga akan ikut makan malam bersama Sofie. Marisa fikir Indra tidak akan ikut dan akan pergi keluar bersama Sofie karena ini malam Minggu.
"Pak Indra pasti akan membuat aku malu di depan Mama nya! Pak Indra pasti akan membanding-bandingkan aku dengan Bu Sofie! Aku harus berusaha keras untuk bisa membuat Mama Pak Indra suka kepadaku!" tekad Marisa.
Marisa segera mandi dan bersiap untuk pergi makan malam ke rumah Andro. Marisa memilih gaunnya yang terbaik, aksesoris yang sepadan dengan gaun yang di pakainya, dan berdandan sebisa mungkin. Marisa memoles wajahnya dengan riasan yang biasa dia pakai hanya jika dia akan pergi ke acara penting.
Saat Marisa keluar kamar dan bertatapan dengan Andro, sang CEO tampan itu langsung terpana melihat bagaimana Marisa yang memang sudah cantik jadi berlipat ganda cantiknya!
Marisa laksana seorang wanita cantik dari kalangan atas! Siapapun yang melihatnya pasti mengira kalau Marisa menyewa seorang make-up artis untuk memoles wajahnya. Padahal Marisa hanya bermodalkan tutorial make-up wajah yang sering dia lihat di konten YouTube.
__ADS_1
"Bagaimana, Pak Andro? Apakah saya sudah pantas untuk ikut makan malam bersama keluarga Perdana?" tanya Marisa.
Andro tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Matanya berbinar-binar saat mengatakan. "Kamu cantik sekali malam ini, Marisa! Saya tidak percaya adanya bidadari, tapi malam ini saya seperti melihat sendiri ada bidadari surga yang turun ke bumi!"