My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 183 : Menjelang Malam Pertama


__ADS_3

Indra mendekap erat Marisa ke dadanya dan terus mengecupi rambut nya. "Marisa, Sayang... Saya serasa bermimpi karena akhirnya bisa memiliki kamu secara sah! Saya merasa sangat bahagia..." bisik Indra saat mereka masih berdansa di tengah para tamu.


"Saya juga merasa sangat bahagia" kata Marisa.


"Saya mohon kamu mau mendampingi saya dalam keadaan apapun, sampai kita berdua menua bersama"


"Saya berjanji, selama kamu tidak menyakiti saya, saya tidak akan pernah meninggalkan kamu"


"Tentu saja saya tidak akan pernah menyakiti kamu! Kamu adalah harta saya yang paling berharga! Saya tidak akan bisa hidup tanpa kamu! Kamu adalah nafas saya!"


"Amin... Semoga selamanya kamu akan tetap mencintai saya!"


"Tentu saja! Kamu adalah ratu penguasa seluruh isi hati saya!"


Acara resepsi pernikahan Marisa dan Indra akhirnya selesai dengan lancar. Keluarga kedua mempelai sudah kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Di ruangan resepsi kini hanya tinggal ada beberapa orang kawan dekat Indra saat kuliah yang juga adalah teman bermain band nya.


"Sayang, kamu istirahat saja. Tunggu saya di kamar pengantin kita. Nanti saya akan menyusul" kata Indra.


"Tapi Dra..." Marisa ragu.


"Ini sudah malam. Sudah jam sepuluh lebih. Saya akan menemani teman-teman saya dulu disini"


"Jangan lama-lama ya. Saya takut sendiri di kamar hotel yang besar!"


Indra tersenyum lalu mencubit dagu Marisa. "Iya Sayang, saya tidak akan lama-lama"


"Jangan mabuk-mabukan ya!"


"Iya, mana mungkin saya mabuk di saat malam pengantin kita?! Nanti saya tidak akan bisa melewati malam pertama kita! Keburu lemas!"


"Ih...!" Marisa mencubit perut Indra hingga sang suami memekik geli. "Baiklah, saya akan masuk duluan ke kamar pengantin kita"


"Kamu lepas baju pengantin yang berat itu dan pakai baju tidur yang pernah saya belikan untuk kamu!"


"Yang mana?" Marisa pura-pura lupa.


"Waktu kita di puncak saya pernah membelikan beberapa stel baju tidur seksi untuk kamu, kamu belum pernah saya lihat memakai nya!"


"Oh yang itu... Ok, saya memang sudah membawa nya!"


"Ya, dan saya juga mau saat saya tiba di kamar pengantin nanti, kamu tidak memakai pakaian dalam!"

__ADS_1


"Apa?!"


"Ya, mulai malam ini dan seterusnya kamu tidak akan pernah tidur dengan mengenakan pakaian dalam lagi!"


"Apakah itu perintah?"


"Ya, perintah pertama dari suami kamu!"


"Baiklah, suami ku. Semenjak malam ini dan seterusnya aku tidak akan tidur dengan memakai pakaian dalam!"


"Bagus! Saya akan segera menyusul kamu!"


Indra kemudian meminta salah seorang pelayan untuk mengantar Marisa ke kamar pengantin nya. Sementara Indra menemani dulu kawan-kawannya yang masih betah berada di ruang resepsi.


"Marisa, kami pinjam dulu Indra nya sebentar ya?!" kata salah seorang kawan Indra.


"Iya, gak apa-apa" kata Marisa lalu dengan di gandeng seorang pelayan segera meninggalkan ruangan tersebut.


"Dra, istri kamu benar-benar cantik sekali!" kata Danu, salah seorang kawan Indra.


"Iya, betul sekali! Gak ada tandingannya dengan mantan-mantan kamu yang sebelumnya!" kata Reynaldi, kawan Indra yang lainnya.


"Padahal kan mantan-mantan kamu juga cantik-cantik ya? Tapi gak ada yang secantik istri kamu, Dra! Dapat dimana sih wanita sempurna seperti ratu kecantikan itu?!" kata Fadly.


"Saya memang dengan susah payah untuk bisa mendapatkan Marisa" kata Indra.


"Barang mahal emang susah di dapatkan ya, Dra!" kata Reynaldi.


"Beneran, sumpah! Marisa itu wanita yang mahal! Saya bahkan tidak berani menyentuhnya sebelum membayar ijab qobul dan membayar mahar pernikahan kami"


"Wah, masa sih?!" seru Wisnu yang tahu persis bagaimana sepak terjang Indra selama ini.


"Serius! Kalau tiga mantan saya sudah saya sentuh, bahkan sampai saya akhirnya bosan! Tapi kalau Marisa sama sekali belum saya apa-apakan!"


"Berarti ini malam per kalian dong?"


Indra mengangguk.


"Rasanya pasti luar biasa, Dra! Soalnya kamu sudah menginginkannya sejak lama!" kata Fadly sambil nyengir.


"Hahaha!" Indra tergelak!

__ADS_1


Sementara itu, Marisa memasuki kamar pengantinnya yang berada tidak jauh dari tempat resepsi pernikahan. Seorang pelayan yang mengantarkan nya kesana menawarkan diri untuk memberikan bantuan kepada Marisa.


"Apakah ada hal lain yang bisa saya bantu, Nona Marisa?" tanya si pelayan.


"Tidak apa-apa, kamu boleh meninggalkan saya sendiri" jawab Marisa.


"Baik, Nona" pelayan itupun meninggalkan kamar pengantin.


Marisa duduk di atas ranjang pengantin nya yang luas, mewah dan berhias seprai warna putih dengan renda-renda yang cantik.


Marisa pagi tadi sudah berada di kamar ini untuk di make-up dan berganti pakaian pengantin dan malam itu Marisa kembali berada disini tapi bedanya kali ini dia sendiri.


Suasana kamar itu sangat mewah dan elegan, tapi terasa dingin. Marisa segera menaikan suhu udara yang dirasakan nya terlalu dingin.


"Aku harus apa sekarang?" pikir Marisa dan tiba-tiba merasa merinding karena ingat kata-kata Indra kalau Marisa di minta memakai baju tidur seksi dan tanpa mengenakan pakaian dalam.


"Aku kok jadi dug-dugan begini sih?! Bagaimana kalau malam pertama ku tidak berjalan lancar?! Bagaimana kalau Indra kecewa padaku yang masih belum ada pengalaman apa-apa?! Bagaimana caranya agar Indra bisa aku layani dengan baik malam ini?! Bagaimana jika rasanya sakit sekali?! Konon katanya yang pertama akan terasa sakit?!" Marisa meringis sendiri.


Akhirnya Marisa memutuskan untuk melepaskan pakaian pengantinnya dan pergi mandi dengan air hangat. Setelah itu di pakainya lingerie seksi yang dibawanya dari Jakarta.


"Ya ampun, seksi sekali!" Marisa melihat dirinya sendiri di kaca rias yang ada di kamar itu. "Sangat menerawang dan tidak menutupi tubuh!"


Marisa memutuskan untuk naik ke atas ranjang pengantin dan memakai selimut yang ada di atas ranjang, berbaring menunggu Indra datang.


Lama Marisa menunggu dengan penuh rasa khawatir karena memikirkan malam pertamanya dengan Indra. Waktu terasa sangat lambat berjalan. Detik demi detik seolah-olah menjadi sangat lama...


Hingga akhirnya pada pukul setengah sebelas malam, pintu kamar itu terbuka. Indra muncul didalam kamar dan menutup pintunya lagi.


Marisa segera membelakangi pintu!


"Selamat malam, Marisa Sayang" sapa Indra.


Marisa tidak menjawab dan berpura-pura tidur.


Terdengar suara langkah kaki Indra yang mendekat ke ranjang dan duduk di dekat Marisa. Lalu terasa tangan Indra memegang pinggul Marisa di balik selimut.


Marisa makin merapatkan matanya!


"Sayang, kamu sudah tidur?" tanya Indra sambil membelai-belai pinggul Marisa yang besar dari luar selimut.


Marisa ragu-ragu apakah harus terus pura-pura tidur atau bangun saja? Akhirnya Marisa memutuskan untuk pura-pura bangun karena ini adalah kewajiban pertamanya sebagai seorang istri.

__ADS_1


"Engh..." Marisa pura-pura terjaga dan berbalik ke arah Indra. "Dra... Lama banget sih datang nya?"


__ADS_2