
Pagi itu Henry menjemput Marisa bersama Syailendra dari rumah Gery untuk pergi ke Cirebon. Marisa sendiri sudah siap dengan koper besarnya yang segera di masukan oleh Gery kedalam bagasi mobil Henry.
Marisa merasa sangat sedih dan prihatin dengan keadaannya saat ini. Bagaimana tidak, dia akan pergi ke sebuah kampung terpencil yang belum pernah di datanginya karena hendak melarikan diri bersama anaknya.
Marisa tidak pernah membayangkan akan jadi seperti ini akhirnya. Mati-matian dia mengejar gelar sarjana hingga berkuliah di kota besar dan kini akhirnya malah harus tinggal di satu kampung tanpa pekerjaan yang pasti.
"Ger, aku pergi ya..." kata Marisa.
Gery memeluk Marisa yang menggendong Syailendra. Mata Gery tampak berkaca-kaca. "Yang sabar ya, Mar. Aku akan segera melihat keadaan kamu disana begitu suasana disini aman"
"Makasih ya, Ger" Marisa ikut berkaca-kaca.
"Sama-sama, Mar. Jaga diri kamu dan Syailendra baik-baik!"
"Insya Allah"
"Marisa, ayo kita berangkat sekarang" kata Henry.
"Iya, tadi Lilis sudah memberi kabar lewat WA kalau Indra sedang bersiap-siap mencari ku. Pasti dia akan segera menghubungi Gery untuk menanyakan keberadaan ku" kata Marisa.
"Kamu tenang saja, Mar. Rahasia terjaga!" kata Gery.
Marisa pun masuk ke mobil Henry dan berangkat menuju Cirebon tempat dia akan menetap untuk menghindar dari Indra. Marisa duduk di samping Henry dengan memeluk tubuh Syailendra erat-erat.
"Aku sudah siapkan kartu SIM card agar kamu bisa segera mengaktifkan nomor HP kamu yang baru untuk menghubungi keluarga kamu. Pasti mereka sangat khawatir dengan keadaan kamu" kata Henry.
"Terima kasih, aku juga sedang memikirkan hal itu. Sekarang ayah dan mama ku pasti sedang bersedih karena berita kehilanganku" kata Marisa.
"Kamu juga harus mengganti alamat email kamu"
__ADS_1
"Iya"
"Selain itu aku juga sudah menyiapkan sebuah rumah yang akan kamu tempati selama disana berserta perabotan ala kadarnya"
Marisa menatap Henry dengan penuh rasa terima kasih. "Justru hal itu yang menjadi pikiranku sepanjang malam tadi. Tapi kamu ternyata sudah menyiapkan semuanya"
"Ada seseorang sahabat yang membantu aku disana. Dia yang menyiapkan semuanya untuk kamu"
"Baik sekali sahabat kamu itu"
"Ya, kami sudah seperti saudara. Nanti kamu juga akan bertemu lagi dengannya. Kamu pasti kaget melihat dia"
"Memangnya kenapa?" Marisa mengerutkan keningnya.
"Kamu lihat saja nanti. Bahkan dia menawarkan satu pekerjaan untuk kamu. Itupun kalau kamu mau"
"Sahabatku itu bersama istrinya bekerja sebagai penjaga sekolah dan pengurus kantin di sebuah SMP di kampung itu. Kayanya SMP tersebut membutuhkan seseorang untuk menjadi Tata Usaha disana. Kamu kan lulusan S1 akuntansi?"
Marisa mengangguk sambil tersenyum. "Iya, aku mau bekerja disana!"
"Selain itu, kalau kamu membutuhkan uang, aku ada simpanan yang bisa kamu pakai dulu selama kamu disana. Maaf kalau kamu tersinggung"
"Tidak, Henry. Aku tidak tersinggung dengan perkataan kamu. Aku Justru merasa sangat berterima kasih kepada kamu atas semua yang sudah kamu lakukan untukku. Apalagi selama ini Indra sering berselisih dengan kamu"
"Aku tidak pernah menyangkut pautkan kamu dengan Indra walaupun aku akui kalau hingga saat ini aku masih membenci Indra. Tapi aku merasa kasihan kepada kamu. Apalagi kamu membawa anak kamu yang masih sangat kecil. Aku akan membantu sebisaku"
"Terima kasih... Aku tidak bisa membalas semua kebaikan kamu tapi aku akan selalu berdoa agar Allah SWT yang membalas dengan berlipat ganda"
"Amin..." Henry tersenyum dan tampak terlihat sangat manis dimata Marisa.
__ADS_1
"Kalau masalah uang yang kamu tawarkan, aku belum membutuhkannya. Selama berpacaran hingga menjadi istri Indra, aku bekerja sebagai asisten pribadinya dan memiliki gaji dalam rekening pribadiku semenjak aku masih menjadi mahasiswi yang PKL di Perdana Enterprise. Aku tidak pernah memakainya karena selama ini aku memiliki uang bulanan dari Indra. Jadi aku memiliki simpanan selama aku tidak ada penghasilan dan kehidupan ku belum stabil disana. Sementara kartu ATM rekening bulananku dari Indra, aku tidak membawanya karena aku tidak mau Indra bisa melacak keberadaan ku lewat kartu ATM itu"
"Kamu benar-benar ingin lepas dari Indra"
"Ya, aku bahkan tidak membawa semua hadiah yang pernah dia berikan selama pernikahan kami. Perhiasan, tas mewah, sepatu dan jam tangan. Aku hanya membawa barang pribadiku yang ku beli dengan hasil keringat ku sendiri"
"Maaf kalau aku bertanya lancang. Apakah kamu tidak kasihan pada anak kamu karena telah memisahkan dia dengan Papanya?"
Marisa menggeleng. "Suatu saat nanti Syailendra akan mengerti dengan keputusan yang aku ambil saat ini..."
"Jadi benar, Indra telah berselingkuh dengan wanita lain?"
Marisa mengangguk perlahan. "Ya..."
"Marisa... Kamu kan tahu sendiri bagaimana Indra sejak dulu? Dia tega meninggalkan tunangannya demi untuk mendapatkan kamu dan sekarang hal itu terjadi pada kamu"
"Jadi ini karma untuk ku?"
"Maaf, bukan seperti itu maksud dari perkataanku. Aku hanya ingin mengingatkan kalau Indra sudah memiliki sifat tidak setia sejak dulu"
"Aku kira dia akan berubah setelah memilihku" Marisa menunduk sedih.
"Aku menyayangkan keputusan yang kamu ambil saat itu karena kamu lebih memilih Indra dibandingkan Andro. Aku ingat bagaimana sakitnya Andro karena kami sempat berbincang di hari pertunangan kamu dengan Indra"
Marisa tersenyum pahit, "Nasi sudah menjadi bubur. Apa mau di kata lagi? Mudah-mudahan aku selanjutnya bisa memulai kehidupan baru yang lebih baik di Cirebon bersama Syailendra"
"Amin..." kata Henry.
Dan babak baru dalam kehidupan Marisa pun di mulai...
__ADS_1