
Bandara internasional Soekarno-Hatta pukul 20:00 malam. Andro Perdana tiba dengan menyeret koper besarnya. Walaupun saat itu tubuhnya terasa sangat lelah, tapi tidak menyurutkan semangatnya untuk bertemu dengan pujaan hatinya, Marisa. Sudah banyak agenda yang di susun nya setiba di Jakarta bersama Marisa.
Pertama tentu saja makan malam bersama malam ini. Andro bahkan sudah menyiapkan satu tas mewah keluaran terbaru dari Turki yang khusus dia beli untuk Marisa. Selanjutnya mengajak Mama dan Indra untuk menemui keluarga Marisa di Bogor untuk melamar gadis itu. Andro juga sudah membeli sebuah cincin pertunangan yang akan dia pakaian pada jari manis Marisa saat acara pertunangan mereka nanti.
Agenda selanjutnya adalah mengajak Marisa untuk pergi umrah berdua sebelum menentukan tanggal pernikahan mereka berdua. Setelah itu tentu saja rencana untuk berbulan madu ke Dubai, membeli rumah sendiri, dan segera memiliki momongan.
Andro jadi senyum-senyum sendiri saat membayangkan bahwa sebentar lagi mimpinya akan segera terwujud satu persatu.
"Aku akan segera bertemu dengan Marisa... Ya Allah... Aku sangat merindukan gadis itu..." batin Andro.
Sudah dua hari ini HP Marisa tidak aktif. Terakhir kali Andro berkomunikasi dengan Marisa pada hari Jum'at malam sebelum Marisa menerima telepon dari Mama dan kemudian mencari Indra ke Alexandre bar.
Andro sudah menelepon Gery dan mendengar kabar kalau HP Marisa rusak. Andro sudah menitipkan pesan pada Gery agar Marisa menjemputnya malam ini di bandara. Pasti Gery sudah menyampaikan pesan itu dan kini Andro tinggal menunggu Marisa.
Atau mungkin Marisa sudah tiba disana?!
Andro celingukan mencari-cari keberadaan Marisa. Siapa tahu gadis cantik itu ternyata sudah ada di bandara dan sedang menantinya. Tapi Andro tidak melihat ada Marisa di antara orang banyak yang sedang menjemput para penumpang yang baru tiba dari Turki.
Andro duduk di sebuah kursi dan meminum minuman dingin yang barusan dibawah nya dari dalam pesawat. Di lihatnya jam di pergelangan tangannya yang kini sudah menunjukkan pukul dua puluh lebih lima belas menit.
"Kenapa Marisa belum sampai disini? Aku kan sudah bilang kalau aku pulang malam ini saat terakhir kami berkomunikasi. Aku juga sudah titip pesan pada Gery. Mana mungkin Marisa lupa! Tidak mungkin dia tidak datang" gumam Andro.
Lama Andro menunggu tapi Marisa belum juga tiba disana. Andro mulai merasa khawatir dan tidak enak hati. Dicobanya untuk menelepon Marisa tapi nomor HP nya masih belum aktif.
"Kenapa Marisa belum datang juga? Ini sudah malam, aku belum makan malam. Tadinya aku berniat untuk diner romantis malam ini bersamanya. Tapi Marisa tidak ada tanda-tanda nya sama sekali. Apakah dia lupa? Ataukah dia tidak mau datang? Atau dia sudah tidur?" pikir Andro.
Tanpa Andro tahu, Marisa tidak akan datang malam itu untuk menjemputnya. Marisa yang sangat di rindukannya saat itu justru sedang memeluk Indra di atas pembaringan sampai Indra terlelap. Mendekap Indra dan mencium wajah Indra berkali-kali, tanpa sedikitpun ingat kepada Andro.
__ADS_1
Jam kini dia menunjukkan pukul sepuluh malam. Andro berniat untuk menelepon Mama nya dan mengabarkan bahwa dia sudah tiba di bandara tapi di urungkan nya niat itu karena melihat Gery sedang bergegas menghampirinya.
"Ger!!!" seru Andro senang karena mengira Gery datang dengan Marisa.
"Pak Andro!" seru Gery dengan nafas terengah-engah.
"Mana Marisa?!" tanya Andro.
"Jadi Marisa belum datang kesini?!" Gery malah balik bertanya.
Andro menggeleng dengan perasaan kecewa.
"Tuh kan! Benar dugaan saya! Marisa tidak datang kesini untuk menjemput anda!"
"Kenapa kamu menduga seperti itu?! Bukankah Marisa ada bersama kamu?! Kalian tinggal bersebelahan, kan?! Kamu sudah mengatakan padanya kalau saya ingin dia menjemput saya malam ini?!"
"Sudah, Pak! Saya sudah bilang begitu sama dia!"
Gery menggaruk kepalanya sendiri. "Aduh... Bagaimana ya... Sebenarnya Marisa sedang tidak ada di kosan, Pak"
Andro tercengang. "Tidak ada di kosan?! Kemana dia?!"
"Marisa... Marisa..." Gery bimbang untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Andro. Bagaimana perasaan pria itu kalau tahu bahwa gadis yang sedang di tunggunya saat itu justru sedang pergi bersama kakaknya sendiri!
"Marisa kemana, Ger?!" desak Andro.
"Marisa... Marisa pergi bersama Pak Indra" kata Gery dengan suara perlahan tapi bagaikan suara petir di siang bolong bagi Andro!
__ADS_1
"Marisa pergi bersama Indra?! Sejak kapan? Pergi kemana?!" Andro bertanya dengan nada tinggi yang menandakan bahwa suasana hatinya sedang tidak enak kalau tidak mau di katakan marah!
"Iya Pak... Marisa pergi dengan Pak Indra sejak kemarin. Mereka pergi keluar kota"
"Ada perlu apa mereka pergi bersama ke luar kota?! Setahu saya, bukankah PKL Marisa bersama kamu di Perdana Enterprise sudah selesai?"
"Iya, memang PKL kami sudah selesai, Pak"
"Lalu ada apa lagi mereka pergi bersama?"
"Saya juga tidak tahu, Pak. Mungkin ada urusan pekerjaan yang belum di selesaikan oleh Marisa" Gery tidak menceritakan tentang penganiayaan yang di alami Indra sehingga menyebabkan Marisa sekarang harus merawat pria itu. Bahkan Gery juga ikut mengantar Indra ke rumah sakit langganan keluarga nya.
"Tapi Marisa tahu saya pulang hari ini. Waktu Jum'at malam juga kami masih sempat video call dan dia sudah berjanji untuk menjemput saya. Indra juga! Apa maksudnya dia membawa pergi Marisa tanpa bicara dulu dengan saya?! Padahal dia kan juga tahu saya pulang hari ini" keluh Andro penuh rasa kekecewaan.
"Saya juga sudah memberitahu Marisa kalau Anda malam ini akan tiba pukul delapan" kata Gery.
"Bagaimana caranya kamu memberi tahu Marisa kalau HP nya rusak?"
"Saya menelepon Pak Indra"
"Kalau begitu saya akan telepon Indra sekarang!" Andro mencoba menelepon kakaknya itu, tapi tidak di angkat. Andro terus mencoba sampai beberapa kali tapi tetap tidak di angkat juga. "Aneh! Kenapa Indra tidak mengangkat telepon dari saya?! Ini baru jam sepuluh lewat, tidak mungkin dia sudah tidur" gumam Andro.
Gery merasa iba melihat bagaimana raut wajah Andro yang tampak sangat kecewa. "Bagaimana kalau dia tahu, cewek yang di cintai nya itu cuma PHP doang dan sekarang sedang bersama kakaknya?! Ironis! Padahal aku sudah mengingatkan Marisa agar menjemput Pak Andro kesini, tapi dia benar-benar gak datang! Pasti di larang CEO arogan itu! Kasihan sekali Pak Andro..." batin Gery.
"Saya merasa tidak enak hati, Ger. Kenapa Indra seperti sedang mencoba menjauhkan Marisa dari saya?" kata Andro sedih.
"Saya juga merasa khawatir kalau Marisa tidak akan datang menjemput Anda malam ini, makanya saya datang kesini karena saya khawatir sama Anda. Eh ternyata benar dugaan saya, Anda gak ada yang jemput. Sabar ya, Pak Andro... Kakak Anda itu memang kangkung!" geram Gery!
__ADS_1
"Kangkung?" Andro mengerutkan keningnya karena tidak mengerti maksud ucapan Gery.
"Iya, kangkung! Tukang tikung!"