
Para pembaca setia My Arrogant CEO, pertama-tama author mohon maaf jika hanya bisa up dua hari sekali. Maklum ibu rumah tangga dengan baby kecil, jadi menulisnya harus curi-curi waktu saat baby kecil bobo. 🙏🙏🙏
Oya sekalian author juga minta izin promosi novel lain karya Author yang sudah tamat. Mungkin saja ada di antara para pembaca yang berminat untuk membacanya.
Takdir Cinta Xiao Lung.
Cinta Berdarah.
Salam manis dari author.
Nova Shi.
*******
Indra menjalani metting pagi itu dengan pikiran yang kacau. Beberapa poin penting dalam metting itu bahkan tidak bisa di cerna oleh benaknya! Tubuh Indra ada di ruang metting, tapi hatinya melayang pada sosok Marisa yang saat ini tiba-tiba menghilang dari kehidupannya.
Baru kali ini di sepanjang tiga puluh tiga tahun usianya, Indra tidak fokus dalam menjalani sesuatu! Indra yang biasanya begitu cerdas dan kreatif kini seolah berubah menjadi seorang idiot yang tidak mengerti apa-apa.
Setiap kata-kata yang di ucapkan oleh kliennya dari Surabaya yaitu Pak Setiawan tidak ada sama sekali yang bisa di cerna oleh akal sehat Indra. Indra hanya bisa mengangguk dan tersenyum datar saat Pak Setiawan mempresentasikan bentuk kerjasama yang akan mereka jalani bersama.
"Bagaimana Pak Indra, apakah Anda berminat dengan presentasi yang saya ajukan dan tertarik menjalin kerjasama dengan perusahaan saya?" tanya Pak Setiawan sesuai mempresentasikan idenya tentang konsep proyek yang akan di jalani dengan perusahaan Indra.
Indra malah termenung dengan tatapan kosong.
"Pak Indra, bagaimana menurut Anda?" Pak Setiawan bertanya kembali.
Indra masih dengan sikap termenung nya.
Pak Setiawan melirik Bella seolah minta bantuan.
Bella yang merasa tidak enak mencoba berdehem keras dan memanggil Indra dengan suara agak keras. "Pak Indra! Pak Indra!"
"Hah?!" Indra tampak kaget dan seolah baru terbangun dari tidurnya, Indra mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Ada apa, Bella?!" tanyanya kemudian dengan gusar!
__ADS_1
"Maaf, Pak Indra. Pak Setiawan bertanya apakah Anda tertarik dengan presentasi yang beliau sampaikan?" kata Bella.
"Astaga!" Indra mengalihkan pandangannya pada Pak Indra. "Maaf, saya barusan agak kurang fokus"
"Tidak apa-apa, Pak Indra. Kalau Anda masih belum bisa memastikan apakah perusahaan kita bisa bekerjasama atau tidak, mungkin kita bisa menunda metting ini di kemudian hari" kata Pak Setiawan.
"Iya, Pak Setiawan. Saya memang kurang enak badan. Bagaimana kalau nanti saya akan mempelajari lagi berkas-berkas yang Anda kirimkan dan juga presentasi yang Anda sampaikan barusan. Jadi untuk saat ini saya belum bisa mengambil keputusan" kata Indra.
"Ya. Tidak masalah, Pak Indra. Saya bisa mengerti dengan keadaan Anda. Kalau memang Anda sedang tidak sehat, ada baiknya Anda memeriksakan diri Anda dulu ke rumah sakit"
Dan akhirnya metting pagi itu berujung dengan ketidakpastian. Pak Setiawan meninggalkan Perdana Enterprise dengan perasaan agak kecewa.
Indra jadi merasa kesal pada dirinya sendiri! Kenapa dia bisa mengecewakan klien penting seperti Pak Setiawan! Hanya karena memikirkan seorang gadis bernama Marisa!
"Bella, apakah kamu tadi sempat mencatat presentasi yang di sampaikan oleh Pak Setiawan?!" tanya Indra saat tinggal hanya dirinya bersama Bella di ruang metting.
"Sudah, Pak Indra" jawab Bella.
"Syukurlah! Untungnya ada kamu! Kamu memang bisa saya andalkan!"
"Terima kasih, Pak Indra. Ini sudah jadi kewajiban saya sebagai sekretaris Anda"
"Apakah Anda akan mencari Marisa seperti apa yang Anda rencanakan sebelumnya?"
"Tidak! Saya tidak akan mencarinya! Saya tidak membutuhkannya! Memangnya dia siapa sehingga saya harus mencarinya dan memintanya kembali ke Perdana Enterprise!"
"Bagaimana dengan metting dengan para kepala bagian?"
"Kalau masalah itu, saya masih belum bisa menghadirinya. Metting itu tetap kita cancel untuk esok hari!"
"Baiklah, Pak"
"Saya akan kembali ke ruangan sekarang untuk mempelajari hasil metting barusan"
"Silahkan, Pak"
Indra kembali ke ruangannya dan mencoba untuk mempelajari berkas-berkas dan catatan tentang metting barusan yang sudah di siapkan oleh Bella.
__ADS_1
Tapi lagi-lagi Indra teringat pada Marisa. Apalagi saat dia melihat ke arah meja kerja Marisa yang kosong. Indra jadi merindukan Marisa yang biasanya ada di sudut sana. Bekerja dengan tekun dan rajin.
"Sial! Kenapa saya jadi ingat terus pada gadis itu! Padahal saya jadi gagal fokus di acara metting tadi karena memikirkan dia! Dasar gadis tidak tahu di untung! Sudah enak kerja disini malah mengundurkan diri sebelum waktunya! Lihat saja! Saya tidak akan memberikan rekomendasi bagus untuk nilai praktek kerja lapangan kamu! Saya bahkan akan memberi catatan hitam soal kelakuan kamu selama berada di Perdana Enterprise!
Seenaknya saja! Datang tiba-tiba! Menebar pesona! Mencuri perhatian saya! Membuat saya jatuh cinta! Menolak untuk jadi pemuas nafsu saya dan malah memilih Andro! Kini malah pergi begitu saja! Dasar tidak tahu diri! Saat ada, membuat susah! Sudah tidak ada, masih juga membuat susah!" rutuk Indra kesal!
Indra mencoba fokus lagi pada pekerjaannya, tapi lagi-lagi pikirannya melayang pada Marisa!
"Sial!!!" rutuk Indra dan membanting berkas-berkas yang sedang di pelajari nya!
Saat itulah pintu ruangan Indra di ketuk dengan keras dari luar hingga membuat Indra melonjak kaget!
'tok' 'tok' 'tok'
"Siapa lagi itu!" rutuk Indra!
Terdengar lagi suara ketukan dan kini malah bertambah keras! Indra bahkan bisa mendengar suara orang ribut-ribut seperti yang sedang berdebat di luar ruangan CEO!
Indra bangkit dari duduknya dan hendak menghampiri pintu ruangan saat tiba-tiba pintu itu terbuka dengan paksa dari luar dan tampak Herman sedang berdiri di depan ruangan bersama Bella dan Pak Rafi!
"Herman?! Mau apa kamu?!" bentak Indra!
"Pak Indra! Apa maksudnya ini?! Anda membuat surat pemecatan terhadap saya! Anda memecat saya dengan tidak hormat dan tanpa pesangon!" teriak Herman marah!
"Kenapa orang ini masih ada di kantor saya?!" Indra malah bertanya pada Bella.
"Maafkan saya, Pak Indra. Saya sudah memberikan surat pemecatan terhadap Herman kepada Pak Rafi, tapi barusan Herman muncul di depan ruangan Anda di ikuti oleh Pak Rafi. Makanya saya segera bergegas kesini. Tapi Herman memaksa membuka pintu ruangan CEO" tutur Bella ketakutan.
Indra kini melirik pada Pak Rafi. "Rafi, apakah Anda tidak bisa menghandle orang satu ini sehingga dia bisa memaksa untuk mendatangi ruangan saya?!" tanyanya gusar.
"Maafkan saya, Pak Indra. Saya sudah berusaha sekuat tenaga dan menjelaskan kepada Herman bahwa Anda sudah memecatnya, tapi Herman bersikeras untuk mendatangi ruangan CEO" kata Pak Rafi.
"Apa mau kamu?!" Indra kini mengalihkan pandangannya pada Herman.
"Apa maksud Anda tiba-tiba memecat saya?! Saya salah apa?! Saya sudah mengabdi kepada Anda dan Perdana Enterprise selama delapan tahun! Saya benar-benar tidak terima kalau Anda memecat saya begitu saja!" teriak Herman.
"Hm... Jadi mau kamu, apa?!"
__ADS_1
"Saya mau Anda menarik kembali keputusan Anda untuk memecat saya!"
Indra malah tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Herman!