
Marisa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Indra benar, Marisa tadi menikmati setiap kecupan pria itu! Tidak ada gunanya lagi mengelak atau menyangkal. Marisa lalu ingat pada saat-saat ketika Indra masih belum sadarkan diri, kala itu Marisa sempat berdoa untuk kesembuhan Indra dan sebagai janjinya, Marisa akan mengutarakan perasaan cintanya pada pria itu.
Rasanya saat ini adalah saat yang tepat dimana Marisa harus menyatakan perasaannya yang sesungguhnya kepada Indra. Walaupun konsekuensinya Indra mungkin akan menghina atau berkata kurang ajar lagi pada Marisa. Yang penting Indra tidak berusaha untuk merenggut kehormatannya! Saat ini Indra sedang sakit. Apakah yang bisa di perbuat seorang pria sakit seperti itu kepada seorang wanita?!
"Anda benar, Pak Indra. Saya terhanyut dan menikmati saat Anda mengecup bibir saya barusan. Tapi saya bukannya wanita murahan yang bisa jadi teman tidur Anda selama berada di vila ini. Walaupun Anda menjanjikan vila ini bisa menjadi milik saya. Saya masih punya iman dan harga diri" kata Marisa.
"Kamu mulai sok alim lagi! Lalu apalagi yang di inginkan seorang gadis kampung seperti kamu kalau bukan harta kekayaan? Karena itu juga kan kamu jauh-jauh kuliah ke Ibukota? Agar bisa hidup lebih mapan?! Sudahlah! Jangan sok suci terus! Atau kamu memang masih gadis suci? Apakah adik saya belum pernah menyentuh kamu?" Indra mulai bicara kurang ajar lagi!
"Andro tidak seperti Anda!"
"Hahahaha! Saya tahu anak manja seperti dia tidak akan bisa melakukan hal itu kepada kamu! Kalau begitu bagaimana kalau kamu berikan saja kegadisan kamu pada saya? Jangan malu-malu, Marisa cantik! Ayo naik sini ke atas ranjang dan tanggalkan seluruh pakaian yang melekat di tubuh kamu! Saya tahu kalau di balik baju longgar yang kamu kenakan itu, kamu memiliki tubuh yang luar biasa menggairahkan!"
"Astaghfirullah!"
"Mulai lagi menyebut nama Tuhan! Dasar sok alim!"
"Cukup Pak Indra! Kalau Anda terus-menerus menghina saya, saya akan pergi dari sini sekarang juga!"
"Lalu kenapa tadi kamu mau saya cium kalau sekarang kamu menolak permintaan saya? Kamu ini gadis aneh! Kamu menolong saya dari Herman yang hendak menghabisi nyawa saya! Kamu juga mau merawat saya selama disini! Kamu tadi juga menikmati ciuman saya! Lalu kenapa selama ini kamu tidak mau tidur dengan saya?! Apakah kamu pikir saya tidak bisa melakukannya dalam keadaan seperti ini?! Kamu jangan meremehkan saya! Saya bisa merenggut kegadisan kamu walaupun dalam keadaan sakit seperti ini! Tubuh saya sakit, tapi tidak dengan kejantanan saya!"
__ADS_1
"Pak Indra! Saya bilang cukup! Saya tidak akan menyerahkan kehormatan saya pada Anda!"
"Lalu kenapa selama ini kamu selalu menolong saya?!"
"Saya... Saya... Ya Allah! Kenapa aku harus berada dalam situasi seperti ini!" geram Marisa lalu mengigit bibirnya sendiri!
"Apa?!"
"Saya melakukan semuanya, saya menyelamatkan Anda, menunggui Anda selama di rumah sakit, saya juga mau ikut kesini untuk merawat Anda. Itu semua saya lakukan karena saya mencintai Anda! Bahkan saya bisa memaafkan semua kekurang ajaran Anda dan seluruh penghinaan Anda terhadap saya karena saya memiliki perasaan cinta yang begitu dalam terhadap Anda! Saya mencintai Anda, Pak Indra Perdana!" Marisa akhirnya menyatakan perasaan cintanya dan setelah itu Marisa malah jatuh terduduk di lantai dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isak tangis terdengar memilukan dan bahu Marisa tampak berguncang.
Sementara Indra malah bengong mendengar kata-kata Marisa kalau ternyata gadis itu mencintainya! Indra merasa hatinya campur aduk antara bahagia, sedih, dan juga terkejut!
Saat itu di benak Indra kembali terbayang saat-saat bersama Marisa. Semuanya bagaimana film-film pendek yang di putar bergantian di depannya! Bagaimana selama ini Indra begitu jahat kepada Marisa. Tapi gadis itu tidak pernah menyimpan dendam dan bahkan selalu menolong nya hingga saat ini.
Sementara Indra selama ini tidak pernah mengakui perasaannya terhadap Marisa karena merasa kalau Marisa tidak sepadan untuknya! Marisa hanya pantas menjadi simpanan dan tidak layak untuk di perjuangan! Padahal saat Marisa pergi, Indra juga merasa hancur berantakan!
Kalau saja saat itu Indra bisa turun dari ranjangnya, ingin rasanya dia memeluk Marisa dan mengatakan kalau dia juga sangat mencintai gadis itu. Tapi Indra yakin kalau Marisa tidak akan percaya!
Sementara itu Marisa menyeka air matanya dan menghentikan tangisnya. Marisa mengangkat wajahnya dan mengatur nafasnya. Marisa sudah siap kalau Indra akan tertawa terbahak-bahak dan menghina nya.
__ADS_1
Tapi Sang CEO arogan itu tidak mengatakan apa-apa melainkan hanya menatap Marisa dengan tatapan mata yang tampak sedih. Malahan Marisa sekilas seperti melihat mata Indra yang berkaca-kaca. Wajah tampan yang penuh bekas luka itu kini memucat.
"Pak Indra, Anda baik-baik saja? Ada yang terasa sakit? Apakah Anda butuh sesuatu?" tanya Marisa khawatir.
Hati Indra benar-benar tersentuh mendengar kata-kata Marisa yang masih saja mengkhawatirkan dirinya. Sebenarnya terbuat dari apa hati gadis itu?! Emas atau berlian?! Dia bukan gadis biasa! Dia adalah seorang bidadari surga!
Marisa perlahan berdiri dan menghampiri Indra. Dari jarak satu meter Marisa mengulurkan tangannya untuk meraba lengan Indra.
"Pak Indra, Anda tidak apa? Wajah Anda pucat sekali, apakah Anda mau saya ambilkan minum?" Marisa bertanya lagi.
Sementara wajah Indra tampak semakin memucat karena berusaha menahan tangis! Indra meraih tangan Marisa yang meraba lengannya, di peluknya tangan itu ke dadanya dengan mata menatap menghiba.
"Kamu bilang kalau kamu mencintai saya, Marisa? Apakah kamu tidak salah bicara?" kali ini Indra yang bertanya.
Marisa menggeleng, "Tidak, saya tidak salah bicara" katanya.
"Kenapa selama ini kamu tidak pernah mengatakannya? Kamu malah menjauhi saya, kamu memilih Andro..."
"Bagaimana mungkin saya mengatakannya? Sikap Anda selama ini selalu kasar terhadap saya. Anda selalu menghina dan merendahkan saya. Apakah masih mungkin saya berani mengatakan semuanya?"
__ADS_1
"Lalu kenapa sekarang kamu mengatakannya?"
"Saya tidak punya pilihan lain lagi, daripada Anda berpikir kalau kehormatan saya bisa Anda tukar dengan vila ini. Rasanya tidak ada salahnya kalau saya mengatakan perasaan saya yang sebenarnya. Lagipula, saat Anda terbaring tak sadarkan diri, saya berjanji dalam doa saya. Kalau nanti Anda sadar, saya akan menyatakan perasaan cinta saya kepada Anda..."